Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.Saat tiba momen pacar melamar di kehidupan nyata, rasanya tidak akan sama seperti di film-film. Dihadapkan dengan pertanyaan penting soal ajakan menikah, tidak semua orang mampu mengucapkan kata sederhana "ya, aku bersedia." Saya sendiri linglung banget sewaktu suami dulu melamar. Saya malah bilang, "Duh, gue kepanasan!" lalu berlari ke hotel untuk ngadem di bawah embusan AC. Jelas sikap saya dulu bukan reaksi ala film Hollywood seharusnya dilakuan. Karena masih dalam semangat Valentine, mari bertanya ke beberapa orang mengenai respon mereka saat dilamar kekasih. Ternyata rata-rata melakukan tindakan tolol dan kocak dalam momen bersejarah dalam hidup tersebut.
Iklan
Lizzie
Saya cerita ke tunangan (dulu masih pacar) saya bahwa adik laki-laki saya kepengin melamar pacarnya, tapi engga punya uang untuk beli cincin. Saya menghibur adik saya itu dengan bilang, pacarnya pasti mau menerima lamaran dia kalaupun dia cuma punya cincin permen Haribo. Dua bulan kemudian, saya dan pacar saya pergi liburan. Pas lagi mabuk berat dan nyari pangkalan taksi jam 2 pagi, dia memberi saya kotak cincin.
Dia: Kalau gue ngelamar elo pakai cincin Haribo, elo terima engga?
Saya: Bryan, elo tai banget dah!
Dia: Gue serius, anjir.
Saya: Oh! Serius? Yaudah!
Kaye
Kami sedang di jalan tol, pas nemu bahu jalan suamiku langsung berhenti mendadak, keluar mobil, membuka pintuku, dan berlutut. Setelah dia melamar, aku bilang, "Tapi kita udah telat banget ke rumah ibu!" Sekarang kami sudah menikah selama 18 tahun.
Sarah
Waktu itu saya sedang mengeringkan rambut dan cuma mengenakan celana dalam. Hari itu tunangan saya ulang tahun, dan sebelum dia membuka kartu ucapan dari saya dia bilang, "Sebenarnya, aku punya kado buat kamu." Dia memberikan cincinnya dan bilang, "Aku mikir, seru juga kali ya kalau kita bareng-bareng terus." Saya kaget banget. Tapi tiba-tiba saya jadi jengkel karena engga ngeh dia mau melamar. Saya tanya, "Siapa lagi yang tahu kamu akan melamar???" dan maksa dia cerita siapa saja yang sudah tahu. Terus baru deh saya bilang, "Yaudah." Kalau ingat itu saya jadi ketawa, soalnya masa gitu sih reaksi saya? Duh, untungnya dia engga keberatan saya resek.
Foto oleh B. Harvey via Stocksy
Iklan
Scarlett
Mark pertama kali mengajak saya berkencan dengan tur audio perumahan yang sekarang kami tinggali. Jadi ketika dia melamar, dia menciptakan ulang versi mini tur tersebut di lapangan sekitar. Kami sudah makan, saya minum beberapa gelas sampanye, dan pas kami sampai di lapangan semuanya gelap. Jadi dia minta kawan-kawannya untuk mempersiapkan segala hal, termasuk api unggun kecil. Kami berdua pengacara dan ketika dia melamar saya bilang, "Emangnya kamu udah izin Pak RT buat bikin api unggun?"
Pas kami cerita momen lamaran kami ke ayah saya, dia juga menanyakan hal yang sama. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.
Be
Kami sedang mendekorasi kamar tidur ketika suamo saya melamar dengan tulisan "Will you marry me?" di tembok. Tulisan itu dibuat dengan cat yang kami pilih. Saya bilang "Oke—tapi warna catnya jelek ya ternyata. Kayak eek gitu."
Saya terkejut sekali jadi saya bilang "Engga, engga ah. Apaan sih kamu."
Charlie
Seharian tindak tanduk Sam aneh. Saya baru tahu nantinya bahwa penyebabnya adalah kebohongan besar yang terpaksa dia lakukan supaya rencana lamaran engga ketahuan sama saya. Dia bahkan memasak selama dua jam supaya sehabis lamaran saya engga menyangka kami akan pergi ke restoran favorit kami.
Kami berjalan-jalan di pantai. Dia biasanya santai banget, tapi kali itu dia ngomel karena ada orang-orang yang duduk di bangku favorit kami. Saya engga tahu dia kenapa, jadi pas dia melamar saya, saya kaget dan bilang, "Engga, engga ah. Udah deh!" Saya memasang cincinnya dan bilang ke dia, saya lega karena cuma lamaran. Soalnya saya mulai mikir dia gila karena bersikap aneh seharian. Dia menyembunyikan sebotol sampanye di semak-semak. Jadi sehabis itu kami minum-minum untuk merayakan (dan menenangkan diri).
Beth*
Persisnya saya bilang: "Hah? Kok ngelamar Senin malam? Kita kan cuma mau cari makan. Aneh banget dilamar hari Senin!"
Georgia
Waktu itu Paul dan saya kumpul kebo di Abu Dhabi. Saat itu sedang berlangsung Piala Dunia 2010. Kami mabuk-mabukan dan menonton beberapa pertandingan dengan kawan-kawan dan membeli pizza Lebanon di perjalanan pulang. Pas sampai di rumah, saya menaruh pizza itu di microwave dan sambil mabuk memandanginya berputar. Paul ngomong sesuatu tapi saya engga ngeh. Terus dia bilang, "Aku mestinya belutut ya."
Saya menoleh dan bilang, "Kamu ngapain deh di lantai gitu?" dan baru sadar dia lagi melamar di lantai dapur. Saya menyadarkan diri, bilang 'iya', dan pas bangun keesokan paginya saya bilang, "Semalam kita tunangan ya?"
Nathalie
Kami lagi liburan di Dorset. Saya ada feeling dia mau melamar soalnya beberapa hari sebelumnya dia nanya apa kehilangan perhiasan ditanggung asuransi ketika kita ada di luar rumah.
Pada hari-H, kita berjalan ke puncak bukit. Dia tiba-tiba berlutut dan respon pertama saya adalah, "Berlututnya satu kaki, bukan dua kaki!" Terus saya bilang lagi, "Kawanan sapi itu kok jalan ke sini ya." Kami jadi cabut dari lokasi secepatnya. Romantis banget ye…
Jacqui
Saya menoleh dan melihat pacar saya berlutut satu kaki dan saya kaget banget jadi bilang, "Elo ngapain sih, tolol banget? Bangun!" Duh, saya engga bereaksi dengan baik pada kejutan manis seperti itu.*Nama-nama narasumber telah diubah