Nah Ini Gunarso, Pelopor  Kolom Erotis Nyeleneh Era Orde Baru
Foto oleh Khairil Hanan Lubis

Nah Ini Gunarso, Pelopor Kolom Erotis Nyeleneh Era Orde Baru

Calon guru agama itu bertransformasi menjadi penulis rubrik surat kabar berbau seks paling legendaris dari Ibu kota: 'Nah Ini Dia'
21.2.17

Nama Gunarso TS (66) selalu muncul dalam rubrik Nah Ini Dia Harian Pos Kota. Rubrik ini populer karena menggabungkan cerita kriminal dan perselingkuhan dengan bumbu seks kental. Saking lekatnya dengan urusan seks, teman-teman Gunarso TS memparodikan kepanjangan TS di belakang namanya menjadi "Tukang Selingkuh!"

"Si Tukang Selingkuh" ini seharusnya menjadi guru agama. Dia menyelesaikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kota Yogyakarta pada 1969. Bukannya mengajar ngaji, Gunarso muda malah sibuk berkarier di ruang redaksi. Tercatat dia pernah menjadi penulis di beberapa media berbahasa Jawa seperti Mingguan Kembang Brayan Yogyakarta dan Redaktur Ariwarti Parikesit Solo. Gunarso kemudian berlabuh ke Pos Kota pada 1977 hingga menjadi redaktur pelaksana dan kini redaktur senior. "Senior itu artinya Senang Istri Orang," ujarnya sambil tertawa.

Empat puluh tahun Gunarso berkarya di koran milik Harmoko, mantan Menteri Penerangan kesohor era Orde Baru. Sejak 1987 dia dipercaya menulis rubrik Nah Ini Dia. Seharusnya dia sudah pensiun 2007 lalu, tetapi kemampuannya mengolah urusan 'begituan' ternyata belum bisa tergantikan. Rubrik di pojok kanan bawah Pos Kota itu telah mengantarkan namanya menjadi legenda.

Gunarso tak hanya piawai mengisahkan kasus selingkuh yang penuh intrik, dia pun lihai mengomentari sengkarut ekonomi politik. Coba simak cuplikan tulisannya berikut ini: "Belakangan ini, asal melihat Nuryuanti, ukuran celana Pak Guru langsung berubah, dari L menjadi XL. Lalu otaknya pun berpikiran ngeres. Bukan petugas amnesti pajak, tapi Darmaji bergumam: singkap, tembus, lega!"

Kepekaan Gunarso pada urusan politik dan ekonomi terus terasah karena dia mengasuh rubrik Sental-Sentil dan Pojok (Paket Pos) di Pos Kota yang berisi ulasan politik terkini. Barangkali cuma Gunarso yang bisa mengawinkan perkara janda dengan urusan negara.

Kami mengunjungi rumah Gunarso TS di bilangan Cipayung, Jakarta Timur, menguak beragam kisah di balik soal rubrik Nah Ini Dia. Diselingi bermacam kelakar, Gunarso bercerita dari urusan ranjang, fantasi masa mudanya yang terus terbayang, hingga kritiknya pada rezim yang mengekang.

VICE Indonesia: Kapan pertama kali Nah Ini Dia terbit? 
Gunarso: Awalnya November 1987. Sebenarnya ini rubrik yang tidak disengaja. Waktu itu saya redaktur pelaksana untuk rubrik Singkat Daerah, isinya berita unik pendek, sekitar enam-tujuh baris. Suatu saat, saya pulang duluan dari kantor. Pas malam-malam, Pak Saiful (wakil pemimpin redaksi)  datang dan melihat rubrik Singkat Daerah. Tiba-tiba dia langsung ganti namanya jadi, "Nah Ini Dia".  Besok paginya saya baca dan tanya ke teman-teman, "Lho kok nama Singkat Daerah jadi Nah Ini Dia? Siapa yang ganti?" Saat tahu Pak Saiful yang ganti, saya bilang ke dia, "Pak, kalau namanya Nah Ini Dia mestinya berisi tulisan yang menggelitik dan lucu." Dia balas, "Ya kamu tulis seperti itulah!" 

Edisi berikutnya langsung saya ganti gaya tulisannya. Ternyata respons pembaca bagus. Akhirnya sampai sekarang Nah Ini Dia terus ada.

Nah Ini Dia itu kejadian nyata atau fiksi?
Nyata. Lokasinya, seperti nama jalan dan kampung tetap sesuai asli, paling RT/RW yang saya buang.  Saya mengambil kisahnya dari koran-koran daerah. Di akhir tulisan selalu ditulis sumbernya. Misal, inisial SM berarti diambil dari Suara Merdeka. Kalau dari internet, seperti detik.com ditulis DC. Saya juga cari dari website-website yang tepercaya. Saya tidak berani mengambil dari sembarang website karena takutnya hoax.

Ilustrasi khas kolom Nah Ini Dia. Sumber gambar dari poskotanews.com

Apakah tokoh-tokoh di Nah Ini Dia menggunakan nama sebenarnya? 
Nama samaran. Dulu pakai nama asli, lalu Pos Kota pernah digugat sampai membayar Rp 7,5 juta pada tahun 90-an oleh si pemilik nama. Berangkat dari situ, tokohnya menggunakan nama samaran. Malah sekarang, misalnya saya tidak senang dengan Fadli Zon, saya bagi dua saja nama tokohnya. Satu tokoh namanya Fadli, satu lagi namanya Zonk. Kadang saya juga pakai Fahri Hamzah, jadi tokohnya Fahri dan Hamzah.

Apa kejadiannya harus aktual?
Kadang-kadang saya mengambil dari kejadian minggu lalu. Biasanya Ucha (ilustrator Nah Ini Dia-red) mengirimkan saya bahan cerita untuk satu minggu kemudian saya pilih-pilih.

Sejak dulu penulis Nah Ini Dia cuma anda sendiri?
Saya sendiri yang menulis, tidak ada yang lain. Sebenarnya banyak teman yang mau menggantikan tapi sampai sekarang bos-bos Pos Kota tetap percaya sama saya. Saya baru diganti kalau sedang sakit, tapi pembaca biasanya tahu kalau yang menulis bukan saya.

Kenapa memilih gaya tulisan kocak untuk Nah Ini Dia? 
Karena Pos Kota itu isinya berita kriminal kota, Nah Ini Dia untuk refreshing pembaca. Istilahnya menurunkan tensi pembaca. Idiom yang saya pakai juga tidak melulu Bahasa Jawa. Saya lihat setting kejadiannya. Kalau Tempat Kejadian Perkara-nya (TKP) daerah Sunda, saya tanya orang Sunda untuk referensi dialog ceritanya.

Apakah Nah Ini Dia pernah berganti konsep?
Awalnya Nah Ini Dia berisi berita-berita unik. Lalu saya coba memasukkan yang berbau-bau seks, eh ternyata responnya lebih banyak. Akhirnya saya bikin terus sampai berhasil pindah ke halaman satu di tahun 90-an. Dulu satu edisi isinya tiga cerita, akhirnya diubah jadi satu cerita tapi panjang.

Inspirasi menulis Nah Ini Dia dapat dari mana? 
Tiap hari pasti ada saja orang selingkuh di Indonesia. Jadi saya tidak pernah kekurangan bahan. Kadang-kadang kalau datanya miskin saya coba analisa lagi. Misalnya, kalau perempuannya tua, laki-lakinya berondong, biasanya perkara ekonomi. Jadi saya olah seperti itu, saya bumbuin ceritanya.

Kenapa gambaran perempuan di Nah Ini Dia bisa begitu detail?
Tokoh cewek yang saya tulis biasanya punya betis bunting padi, putih bersih, dan rambutnya panjang. Itu inspirasinya perempuan bernama Fatimah. Dulu saya naksir dia semasa sekolah di PGA Jogja. Sampai sekarang kalau saya menulis tentang cewek cantik, selalu membayangkan dia. Dulu tahun 1967-1968 ada banyak poster artis cantik di studio foto Corona Jogja, salah satunya penyanyi Aida Mustafa. Nah, postur Fatimah mendekati itu.

Isu apa saja yang biasa diselipkan Nah Ini Dia? 
Macam-macam, bisa lari ke politik atau ekonomi. Waktu reformasi, Amien Rais kan menjegal Megawati pakai istilah "Poros Tengah". Lalu saya bikin poros tengah itu artinya "barang (wanita) di tengah". Jadi kalau "urusan poros tengah" laki-laki bakal semangat. Saya yang waktu itu mempopulerkan istilah "urusan poros tengah".

Bagaimana Nah Ini Dia menghadapi UU Pornografi? 
Saya tahu diri, jadi membatasi. Adegan porno tidak saya gambarkan secara detail. Saya cuma tulis hubungan intim, tidak perlu sampai dijelaskan mendesah-desah atau berlendir. Kalau Bulan Puasa, Nah Ini Dia juga lebih  smooth,artinya tidak main seks dulu. Kontennya yang unik-unik saja. Baru nanti setelah bulan puasa ya nge-seks lagi.

Apa benar Nah Ini Dia diminati banyak pembaca? 
Poskota pernah survei pada tahun 90-an. Survei itu bilang, Poskota punya dua rubrik unggulan yang ratingnya tinggi: Nah Ini Dia dan Doyok. (Survei ini dilakukan oleh Litbang Grup Pos Kota pada tahun 1992 –red)

Kenapa banyak yang suka Nah Ini Dia?
Soalnya berbau seks. Pak Harmoko pernah bilang teori jurnalistik itu: Darah dan sperma. Makanya berita pembunuhan dan seks banyak pembacanya.

Ngomong-ngomong soal Harmoko, apakah ada perubahan gaya tulisan sebelum dan sesudah reformasi? 
Ada perubahan, kalau dulu tidak berani menyentuh Soeharto. Sekarang saya sering pakai istilah, "Senyum mesam-mesem kayak Pak Harto."

Pandangan anda pribadi pada Orde Baru? 
Saya termasuk tidak suka Orde Baru karena kebebasan pers dikekang. Tahun 90-an, waktu saya jadi redaktur edisi Surabaya, ada artikel menulis: "Pak Harto pernah ke tempat keramat anu." Tulisan itu lolos karena saya kurang teliti. Saat pemimpin redaksi lihat, dia langsung minta mesin cetak disetop. Padahal saat itu kita sudah cetak 50 ribu eksemplar koran.

Bagaimana respon keluarga dengan tulisan-tulisan Nah Ini Dia? 
Yang lucu anak saya, dia kuliah di Sastra Inggris, di salah satu bahan studinya pernah bahas soal Nah Ini Dia. Saat itu dalam batinnya dia bilang, "Ini tulisan bapak saya." Tapi dia tidak mau ngaku, malu. Anak dan istri saya memang tidak pernah baca karya bapaknya.

Kalau boleh berandai-andai, selain Bapak, siapa yang cocok menulis Nah Ini Dia? 
Mungkin Butet Kartaredjasa. Dia kan orangnya humoris.

Kalau Fadli Zon apakah bisa menulis Nah Ini Dia? 
Ah, itu puisinya terus terang saja masih mentah. Kalau di Majalah Horison atau majalah Sastra tidak bakal dimuat. Masa anggota DPR kerjaannya malah bikin puisi.

Sampai kapan mau menulis Nah Ini Dia?
Sampai pembaca bosan sama saya.