Berita

Rekor 2016, Jumlah Tertinggi Anak-Anak Suriah Tewas Selama Perang

UNICEF menyatakan konflik berkepanjangan enam tahun terakhir di Suriah paling merugikan anak-anak.
14.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Laporan terbaru oleh Badan Perlindungan Anak PBB (UNICEF) menyatakan korban paling parah dari konflik enam tahun terakhir di Suriah adalah anak-anak. Kertas kerja UNICEF menjabarkan detail kengerian apa saja yang dialami oleh penyintas. Sepanjang 2016, angka kematian anak akibat perang tertinggi sejak 2011. Dilaporkan 652 anak tewas akibat pemboman ataupun kontak senjata, sementara 850 bocah lainnya direkrut paksa oleh setiap pihak yang bertikai untuk ikut angkat senjata. Oleh sebagian kelompok teroris, khususnya Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), anak-anak di bawah 10 tahun juga diminta untuk menjadi eksekutor hukuman mati tahanan, pelaku bom bunuh diri, serta penjaga penjara.

Iklan

Eskalasi kekerasan yang menimpa anak-anak di seantero Suriah ini tidak pernah terjadi sebelumnya. "Saya tidak bisa membayangkan penderitaan yang harus mereka alami," kata Geert Cappelaere, Direktur Regional UNICEF untuk Wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Melalui keterangan tertulis, Cappelaere melaporkan banyak saksi mata yang diwawancarai lembaganya bahwa setiap pihak yang bertempur semakin tidak ragu-ragu menggempur wilayah sipil penuh anak. "Kehidupan anak-anak Suriah sudah jungkir balik sekarang. Setiap anak tidak lagi punya bayangan masa depan, mereka hanya bisa memikirkan keselamatan sendiri setiap hari."

Konflik ini juga memaksa setiap keluarga yang terjebak di Suriah untuk bertahan dengan perbekalan seadanya. Karena ekonomi mandeg, tak sedikit anak terpaksa membantu orang tuanya bekerja. Anak perempuan dipaksa segera menikah. Lebih banyak lagi anak di bawah 12 tahun yang diajak bertempur oleh orang dewasa. UNICEF menyatakan jumlah anak dipaksa menjadi prajurit meningkat tiga kali lipat dibanding 2015. Paling banyak menyasar anak-anak yang bahkan belum genap 8 tahun.

Juru Bicara UNICEF, Juliette Touma, menyatakan sudah terlalu banyak laporan dan temuan yang membuktikan anak-anak dipaksa terlibat perang. "Mereka dipaksa menjadi penjaga pos perbatasan, dilatih menggunakan senjata, kami juga memperoleh laporan gadis-gadis kecil mengalami kekerasan seksual. Situasi di Suriah terus memburuk untuk anak-anak," ujarnya saat diwawancarai the Guardian.

Lembaga berkonsentrasi menangani masalah-masalah anak seluruh dunia ini meyakini jumlah korban tewas di bawah umur dari Suriah lebih tinggi dibanding angka resmi yang sekarang tersedia.

Berikut statistik mengerikan yang diperoleh dari laporan UNICEF:

  • 5,8 juta anak di Suriah membutuhkan bantuan pangan dan obat-obatan
  • Jumlah anak yang tewas di Suriah sepanjang 2016 meningkat 20 persen dibanding tahun sebelumnya
  • Sebanyak 255 anak tewas akibat insiden yang terjadi dekat gedung sekolah mereka
  • Kekerasan terparah terjadi di Aleppo, yakni saat 96 anak tewas akhir September 2016. Pada pekan yang sama, 223 anak luka-luka akibat perang.
  • PBB mencatat 84 bangunan sekolah diserang oleh semua pihak bertikai, mulai dari militer Suriah, ISIS, maupun pemberontak Suriah.
  • UNICEF memperkirakan 850 anak direkrut militan dan pemberontak untuk ikut berperang. Jumlah ini jauh meningkat dibanding 362 anak pada 2015.
  • Lebih dari 6 juta anak kesulitan bertahan hidup jika bantuan kemanusiaan di kamp pengungsi tak tersedia lagi.
  • Lebih dari 2,3 juta anak asal Suriah menjadi pengungsi di Turki, Libanon, Yordania, Mesir, dan Irak. Tak sedikit dipaksa ikut orang tuanya menempuh jalur mematikan laut Yunani demi menyeberang ke Eropa.
  • Di kota-kota yang paling sengit mengalami pertempuran, misalnya Aleppo, dilaporkan 280 ribu anak terjebak tanpa pasokan makanan dan obat memadai.
  • Masih ada sedikit kabar baik dari anak-anak di Suriah. Tahun lalu, 12.600 pelajar berhasil diungsikan dari kota-kota yang terjebak peperangan untuk mengikuti ujian akhir sekolah.