Apple Berjanji Tak Lagi Pakai Mineral Tambang, Termasuk dari Indonesia, Buat Memproduksi iPhone dan iPad
Semua foto oleh penulis.
teknologi

Apple Berjanji Tak Lagi Pakai Mineral Tambang, Termasuk dari Indonesia, Buat Memproduksi iPhone dan iPad

Raksasa teknologi AS itu dikenal banyak mengambil timah dan logam tanah jarang dari Pulau Bangka. Masalahnya belum jelas kapan janji ini direalisasikan.
21.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Apple Inc adalah salah satu perusahaan teknologi terdepan untuk urusan daur ulang produk dan keberlanjutan lingkungan. Kendati demikian, beragam pemberitaan dan juga laporan independen menunjukkan korporasi raksasa itu masih memanfaatkan bahan baku mineral dari tambang merusak lingkungan untuk menghasilkan iPhone, iPad, Macbooks, dan produk-produk unggulan mereka. Salah satu sumber mineral itu—misalnya timah dan logam tanah jarang (rare earth)—berasal dari pertambangan liar di Pulau Bangka Indonesia.

Iklan

Perusahaan berbasis di Cupertino itu mengklaim akan segera mengakhiri praktik menerima pasokan mineral dari pihak ketiga dalam waktu dekat. Dalam dokumen yang dirilis dua hari lalu, Apple mengklaim "siap menghentikan pasokan bahan baku tambang apapun untuk proses produksi."

Pengumuman ini disampaikan dalam laporan bertajuk Tanggung Jawab Lingkungan Apple 2017. Apple berjanji hanya akan menggunakan bahan baku hasil daur ulang produk-produk lama mereka. Alumunium, tembaga, timah, logam tanah jarang, ataupun tungsten yang mereka butuhkan tidak lagi memakai hasil bumi. Janji ini tentu mengejutkan untuk perusahaan sekelas Apple. Persoalannya, janji manis tersebut tidak memiliki tenggat waktu yang jelas.

"Kami berusaha mencanangkan kebijakan yang jarang sekali diambil dalam sejarah perusahaan ini, yakni mengumumkan target yang belum kami ketahui kapan bisa terlaksana," kata Lisa Jackson selaku Wakil Presiden Apple Bidang Lingkungan dan Kebijakan Sosial. Keterangan itu disampaikan Jackson kepada VICE News saat berkunjung ke laboratorium pengujian milik mereka awal pekan ini. "Jujur saja, kami sendiri agak ragu dengan janji yang dibuat terkait pasokan bahan baku ini. Bagaimanapun, upaya tersebut harus dijajal, karena percobaan melakukan hal-hal baru adalah kunci kemajuan teknologi."

Hingga 2014, perusahaan teknologi dunia masih belum tergerak memakai bahan baku daur ulang. Dari catatan Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya 16 persen sampah elektronik yang didaur ulang dan dimanfaatkan kembali dalam rantai pasok. Jackson pun mengakui Apple masih minim sekali memakai bahan baku daur ulang. Ke depan, perusahaan yang dikenal berkat iPod dan iPhone itu ingin mengkombinasikan logam mineral daur ulang, hasil dari produk-produk retur atau yang rusak. Jika semua rencana telah matang, pengumuman ini akan disebar kepada mitra-mitra pabrik mereka di seluruh dunia.

Laporan internal Apple 2017 itu sekaligus menjabarkan target-target perusahaan lain di bidang kelestarian lingkungan. Misalnya ambisi Apple menggunakan energi terbarukan di 96 persen di properti milik mereka. Artinya itu mencakup Apple Store, kantor pusat, dan pusat data Apple di berbagai negara. Ambisi tersebut tentu tidak mencakup pabrikan mitra, seperti Foxconn yang ditengarai melakukan banyak pelanggaran hak asasi kepada buruh-buruh yang memproduksi iPhone. Apple bilang akan berusaha mengajak rekanan turut meningkatkan standar pemanfaatan energi terbarukan.

Iklan

Sejauh ini, baru tujuh pemasok bahan baku Apple yang mau berkomitmen menyediakan bahan baku daur ulang dan tidak dari pertambangan, apalagi yang ilegal. Apple menolak membeberkan ada berapa mitra pemasok yang mereka gandeng di seluruh dunia. Dengan begitu, masih ada kemungkinan pasokan timah asal Indonesia dipakai Apple, ketika nanti rencana ini serius dilaksanakan.

Praktik Apple yang terkesan ogah memantau kelakuan miring mitra-mitra lokal sudah berulang kali diberitakan. Tambang-tambang di Cina, Indonesia, dan Kongo yang menyediakan bahan baku untuk iPhone dan iPad terbukti menyengsarakan buruh-buruhnya. Tak hanya itu, sebagian tambang logam tanah jarang yang dibutuhkan sebagai komponen utama ponsel pintar Apple merusak sumber air di pedesaan Cina. Tahun lalu, surat kabar the Washington Post melansir berita adanya buruh anak di tambang Kongo yang memasok bahan baku kobalt untuk Apple. Kobalt itu adalah bahan baku utama baterai lithium yang dipakai di semua produk elektronik Apple (dan juga Samsung sebagai rival utama mereka). Berbagai tudingan miring itu akhirnya memaksa Apple berbenah. Mereka mengevaluasi rekanan yang dianggap tidak melaksanakan bisnis secara benar serta merusakan lingkungan.

Lisa Jackson, Wakil Presiden Apple Bidang Divisi Lingkungan Hidup dan Kebijakan Sosial.

Masalah lain yang mewarnai pasokan bahan baku mineral produk-produk Apple adalah konflik lahan. Beberapa tambang mitra pemasok Apple ditengarai bersengketa dengan penduduk setempat serta terbukti merusak lingkungan. Di Bangka, tercatat 41 orang penambang meninggal dunia pada 2011, terutama karena tertimbun tanah longsor. Sedangkan dari data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sedikitnya ada 83 buruh yang mati di tambang-tambang timah di Bangka Belitung pada 2013. Laporan-laporan itu membuat Apple sempat mengevaluasi ulang pasokan timah dari Tanah Air.

Sampai sekarang Apple masih belum berani memastikan bahan baku mineral mereka dari tambang yang berkelanjutan serta bebas konflik. "Itulah sebabnya kami ingin memperbaiki sumber pasokan bahan baku kami di masa mendatang. Agar kami tidak lagi disoroti oleh isu-isu [negatif] semacam itu."

Iklan

Cita-cita Apple mungkin terdengar mulia dan patut didukung. Masalahnya pengalaman upaya reformasi sektor tambang agar lebih ramah lingkungan selama ini, contohnya batu bara, selalu gagal. Ide Apple hampir pasti akan mentok, jika tidak didukung oleh komitmen setiap negara yang menaungi perusahaan mitra pemasok bahan baku. Rencana Apple bahkan berbenturan dengan ambisi Presiden AS Donald Trump, yang tampaknya tak tertarik menyokong sektor energi terbarukan. Trump belum lama ini meneken beleid yang lebih memprioritaskan industri batu bara dalam negeri mereka.

Bagi pengamat industri teknologi, setidaknya manifesto dan janji-janji Apple patut dihargai. Belum ada kompetitor sejenis yang berani menjanjikan pengurangan bahan baku merusak lingkungan. "Target 100 persen menggunakan bahan baku daur ulang ini tidak pernah diungkap perusahaan teknologi lain sebelumnya, apalagi yang skalanya sebesar Apple," kata Gary Cook, Analis Senior dari Greenpeace.

Kendati begitu, aktivis lingkungan tak begitu saja percaya Apple akan mau menepati janji itu dalam waktu dekat. Dalam dokumen yang belum lama dilansir, Apple masih melakukan cara-cara lama untuk mendorong mitra pemasok menggunakan energi terbarukan. Misalnya saja sekadar memakai panel surya atau menggunakan robot yang bisa memilah komponen daur ulang. Kesalahan terbesar Apple, di mata aktivis lingkungan, adalah asumsi bila perubahan iklim bisa dihambat hanya dengan inovasi teknologi.

Iklan

Cook menyatakan komitmen Apple baru benar-benar terbukti jika mereka sepenuhnya tak lagi memakai mineral dari tambang serta mengubah sistem perbaikan produk, dengan cara mengizinkan pembeli mengutak-atik sendiri ponsel atau komputer Apple mereka yang rusak. Selama ini, iPhone, iPad, atau Macbook yang rusak selama garansi tidak akan diservis, kecuali diganti produk baru lewat outlet resmi milik mereka. Sistem ini membuat kebutuhan bahan baku Apple selalu tinggi saban tahun.

"Isu pasokan bahan baku ini baru bisa diakhiri jika Apple membuat produk yang lebih mudah diservis oleh siapapun, sehingga masa pakainya lebih lama," kata Cook.

Apple mengujicoba earphone dan casing di wadah penuh keringat manusia sintetis, untuk memastikan produk tersebut aman digunakan dalam jangka panjang.

Jackson menolak gagasan yang diusulkan Greenpeace. Dalam pandangannya, produk-produk elektronik Apple disukai konsumen karena memiliki durasi pemakaian lama. Klaim Jackson tidak didukung oleh penelitian independen tentang masa pakai produk elektronik di seluruh dunia. Data itu menunjukkan semua merek elektronik keawetannya menurun dibanding produk di masa lalu. Sedangkan iPhone buatan Apple rata-rata cuma awet tiga tahun. Untuk ponsel seharga Rp10 jutaan, durasi pemakain sesingkat itu tentu jauh dari harapan pengguna.

Apple punya alasan lain menolak ide membolehkan konsumen mereparasi produk mereka manasuka selain ke outlet resmi. "Produk teknologi itu sangat rumit, kami memberlakukan sistem sekarang karena ingin memastikan semua pembeli mendapatkan keamanan dan privasi yang terjamin saat memakai produk Apple," kata Jackson. "Kami juga ingin menghindarkan konsumen dari pemakain suku cadang tak asli dan berkualitas buruk ketika mereka mereparasi produknya secara mandiri."