Perselingkuhan

Pelajaran yang (Mungkin) Bisa Dipetik dari Cowok Tukang Selingkuh

Menurut peneliti, laki-laki cenderung selingkuh karena alasan emosional, bukan sebatas memuaskan nafsu.
15.1.21
Cowok bertelanjang dada. Ada tulisan "free kisses" di badannya
Foto ilustrasi dari Chris Bethell

Berselingkuh bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Kalian justru mempermalukan diri sendiri jika kedapatan tidak setia dengan pasangan. Tapi karena itu jugalah kita tidak bisa menyebutkan angka pasti tukang selingkuh di dunia.

Sebuah studi memperkirakan perselingkuhan pada 70 persen hubungan pernikahan, sedangkan pakar independen menduga ketidaksetiaan pada sekitar 20-60 persen hubungan. Terlepas dari persentase yang beragam, bisa dipastikan laki-laki lebih sering berselingkuh daripada perempuan.

Profesor Alicia M Walker mempelajari hubungan intim, seksualitas dan ketidaksetiaan. Setelah menulis buku The Secret Life of the Cheating Wife, dia kini membuat versi laki-lakinya untuk melihat apakah mereka memiliki motif yang serupa dengan perempuan ketika main serong. Buku keduanya, Chasing Masculinity: Men, Validation and Infidelity, menjabarkan hasil wawancara bersama 46 laki-laki yang mencari cewek lain di situs kencan luar nikah Ashley Madison.

Kami menghubungi Walker untuk lebih memahami isi buku ini.

Iklan

VICE: Apakah kamu terkejut dengan kesediaan narasumber untuk diwawancara?

Professor Alicia M Walker: Saya rasa ketika kalian melakukan sesuatu yang rahasia dan tertutup, kalian akan semakin terbuka untuk membicarakannya dengan orang-orang yang takkan menghakimimu. Asal tahu saja, semua narasumber memberi tahu nama asli, profesi dan akun medsosnya.

Selain menghentikan wawancara di tengah jalan, reaksi apa saja yang mengejutkanmu?

Beberapa minggu setelah saya mewawancarai seorang laki-laki, dia mengirim email untuk bercerita tentang perempuan yang baru saja dia temui. Dia menjelaskan sedetail mungkin betapa jelek perempuan itu. Dia membanggakan diri sudah berbaik hati kepadanya. Kesannya seperti tidak ada laki-laki selain dirinya yang mau bercinta dengan perempuan itu. Dia semacam mendorongku untuk memuji tindakannya, tapi saya tidak mengikuti apa maunya. Dia marah besar dan melontarkan kata-kata kasar. Dia bilang, “Saya menyesal sudah ngobrol denganmu.” Saya jawab saja, “Ya sudah. Saya akan menghapus semua data kamu.”

Apakah kamu jadi lebih bersimpati dengan cowok tukang selingkuh?

Saya tidak pernah membenarkan perselingkuhan. Tapi dari sini, saya menyadari banyak orang selingkuh karena ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, tapi mereka juga tidak mau mengakhiri hubungan bahagia.

Kedengarannya memang sangat egois, dan saya hanya bisa memikirkan betapa menyedihkannya situasi yang mereka hadapi. Jika kita ingin memahami dinamika yang menyebabkan perselingkuhan, kita harus bersikap senetral mungkin dan tidak bisa asal menghakimi.

Iklan

Buku pertama kamu mengungkapkan perempuan kebanyakan berselingkuh untuk kepuasan seksual. Di buku ini, kamu menjelaskan laki-laki selingkuh karena alasan emosional. Itu artinya stereotip tentang perselingkuhan yang kita ketahui salah besar dong?

Saya berasumsi ada perbedaan antara lelaki yang menggunakan situs kencan luar nikah seperti Ashley Madison dengan mereka-mereka yang “main belakang” dengan kenalan. Tapi dari semua narasumber yang saya temukan di situs Ashley Madison, mayoritas perempuan didorong hasrat seksual ketika memutuskan untuk selingkuh. Mereka sangat pragmatis tentang itu.

Beda ceritanya dengan laki-laki. Dinamika hubungan mereka kerap menjadi faktor perselingkuhan. Mereka mencintai istri, tapi merasa hubungannya tidak memiliki keintiman emosional.

Setelah menulis buku ini, apakah kamu jadi yakin kalau monogami tidak seretak itu?

Pasti ada kalanya saya memikirkan itu. Separuh perempuan yang saya ajak bicara [untuk buku pertama] berandai-andai memiliki hubungan yang terbuka. “Pasti semua pihak akan bahagia,” kata mereka. Laki-laki justru tidak tertarik dengan jenis hubungan itu.

Para perempuan menceritakan ketika mereka menjalin hubungan ini, mereka akan membicarakan secara spesifik apa saja yang mereka harapkan. Mereka bilang, “Saya tidak pernah membicarakan ini sebelum menikah. Seharusnya saya melakukannya dari dulu.” Menurut saya, kita perlu mengajak pasangan berdiskusi sebelum melangkah ke hubungan yang lebih serius. Kita tidak boleh berhenti membicarakannya begitu menjalin hubungan, tak peduli betapa sulit topiknya.

Banyak orang bilang tukang selingkuh seharusnya langsung mengakhiri hubungan agar tidak membohongi pasangan.

Ada berbagai alasan kenapa orang berselingkuh. Daripada asal menghakimi, akan lebih baik jika kita berusaha memahami duduk perkaranya. Apa yang terjadi dengan hubungan mereka? Banyak orang kesulitan meninggalkan pasangan karena mereka masih cinta, padahal hubungan mereka tak lagi bisa dipertahankan.

Sebagian besar laki-laki yang saya wawancarai mengatakan kalau mereka masih mencintai istri. Berselingkuh membuat perasaan mereka jauh lebih baik karena kebutuhannya dipenuhi. Mereka sangat berharap istrinya bisa memenuhi keinginan tersebut. Mereka bertahan karena masih punya harapan, bahwa suatu saat nanti hubungan mereka akan membaik.

Chasing Masculinity: Men, Validation and Identity (Palgrave Macmillan) terbit pada 14 Januari 2021.

@OhHiRalphJones