COVID-19

Tes Usap Anal Jadi Metode Baru Deteksi Covid-19 di Tiongkok

Tes swab lewat dubur dianggap pakar di Tiongkok lebih efektif daripada metode deteksi PCR yang populer saat ini.
28.1.21
Seorang lelaki menjalani tes usap
Foto: STRINGER / AFP

Tiongkok mulai menggunakan tes usap dubur untuk memeriksa orang-orang yang sempat berhubungan dengan pasien Covid-19.

Pejabat mengumumkan Rabu waktu setempat bahwa lebih dari 1.000 pelajar dan guru di distrik Daxing, Beijing, menjalani tes ini setelah siswa sembilan tahun terinfeksi virus corona.

Setelah berhasil mengatasi pandemi pada pertengahan 2020, negara itu harus berurusan lagi dengan klaster varian baru Covid-19 yang berasal dari luar negeri.

Iklan

Sejumlah rumah sakit di Beijing mulai mengambil sampel tes usap dubur atau feses pasien positif sejak studi terbaru membuktikan virus dapat bertahan lebih lama di sistem pencernaan manusia. Pedoman Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok menganjurkan alat swab-nya dimasukkan sedalam 3-5 centimeter.

Alex Wang melakukan tes usap dubur sebanyak dua kali pada September. Dia baru saja tiba dari Australia saat itu. Wang wajib menjalani karantina sebelum pulang ke rumahnya di Weihai, Provinsi Shandong.

Menurut penuturannya, dua perawat meminta lelaki 21 tahun itu untuk berpegangan pada kursi dan membuka bokong dengan satu tangan. Tesnya hanya berlangsung beberapa detik saja, tapi rasanya seperti sedang diare.

“Saya malu,” katanya. “Tapi saya sadar negara berada di bawah tekanan untuk mencegah wabah.”

Tes usap dubur berskala besar di Beijing menimbulkan kepanikan di media sosial. Orang-orang khawatir metode baru ini akan diterapkan secara luas.

“Tes usap hidung saja rasanya tidak nyaman, apalagi tes satu ini,” seorang pengguna Weibo berkomentar.

“Takutnya nanti saya kentut saat dites,” tulis pengguna lain.

Li Tongzeng, dokter Rumah Sakit You’an Beijing, berbicara di stasiun TV pemerintah CCTV bahwa dalam beberapa kasus ringan dan tanpa gejala, virusnya hanya terdeteksi di sampel dubur. Tes usap hidung tidak menunjukkan keberadaan virus sama sekali.

Li berujar menjalani kedua jenis tes dapat meminimalisir kemungkinan infeksi yang terlewat. Tapi sejauh ini, tes usap dubur hanya untuk “populasi penting” — seperti pasien karantina — karena sulit untuk dilakukan dalam jumlah besar.

Iklan

Para peneliti telah mempelajari apakah dengan tes usap dubur, dokter dapat mendeteksi potensi infeksi atau kasus yang lebih parah secara dini.

Penelitian di Weihai menemukan pasien yang sudah sembuh menunjukkan hasil positif pada tes usap dubur, tapi negatif pada jenis tes lain. Sementara itu, studi yang dilakukan di kota Guangzhou menunjukkan deteksi virus pada tes usap dubur merupakan indikator potensi penyakit parah.

Para peneliti masih mempelajari apakah virus corona dapat menular melalui feses atau urine. Hasil penelitian tentang wabah di gedung apartemen Guangzhou memperkirakan virusnya menyebar lewat sistem air limbah.

Follow Viola Zhou di Twitter.