Opini

Ardhito Jangan Sedih Jakarta PSBB Lagi, Mari Belajar Hidroponik dan Budi Daya Lele

Bukan cuma musisi yang menderita selama kebijakan PSBB dijalankan akibat Covid-19. Untungnya, selama pandemi sektor pertanian dan peternakan terbukti jadi alternatif bisnis menjanjikan.
10 September 2020, 9:28am
Ternak Lele dan Hidroponik Jadi Profesi Menjanjikan Selama Pandemi Corona di Indonesia
Ilustrasi kolam ternak lele [kanan] via Pixabay; ilustrasi petani urban memakai tekni hidroponik via Unsplash

Ketika pengumuman pengetatan PSBB di DKI Jakarta kemarin malam membuat musisi Ardhito Pramono gundah, memangnya siapa yang tidak. Apalagi bagi para pekerja sektor kreatif Jakarta. Tujuh bulan sejak wabah dimulai, tiga bulan pasca eksperimen PSBB transisi, kondisi ekonomi semakin memburuk, situasi wabah tetap tak terkendali. Situasinya emang depresif, tapi PSBB dikembalikan memang sudah seharusnya dan bisa dimaklumi.

Kecuali oleh Ardhito Pramono yang semalam mencuit, membagi kegundahannya yang bikin netizen kesal sekaligus bingung. Kesal karena kalimatnya terkesan insensitif, bingung karena doi bawa-bawa Fisika.

Cuitan Ardhito sudah dihapus, namun polemik tentangnya sudah kadung bergulir menjadi konten parodi dan meme. Template kalimat Ardhito dimodifikasi netizen buat lucu-lucuan.

Kita emang selalu dibuat takjub sama kreativitas masyarakat Indonesia dalam merespons konten viral dengan lelucon. Kalau saja 2020 enggak sebrengsek ini, bukan mustahil Undip udah buka jurusan meme seperti yang disarankan Jokowi.

Musisi profesional, sebagaimana dikeluhkan Ardhito, memang jadi salah satu profesi cukup terdampak penghidupannya selama PSBB. Tapi, yang netizen permasalahkan dari cuitannya adalah fakta bukan musisi satu-satunya profesi terdampak atau paling terdampak.

Enggak usah baper seolah pemerintah memusuhi musisi. Pembatasan mobilitas masyarakat doang harapan untuk menekan laju pandemi ini. Apalagi, Gubernur Anies Baswedan bilang Jakarta sedang dalam situasi darurat karena sistem kesehatannya terancam kolaps.

Dibanding musisi, awal pandemi dulu Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan sopirlah profesi paling terdampak. Di Sumatera Utara, penurunan pendapatan sopir diperkirakan sampai 44 persen. Di bawahnya, ada pengusaha UMKM yang turun hingga 35 persen, petani dan nelayan 34 persen, dan buruh turun 25 persen. Tentu saja, ini belum termasuk pekerja yang harus dirumahkan tanpa gaji.

Peneliti di Organisasi Buruh Internasional (ILO) Steven Kapsos menyebut pekerjaan di sektor eceran, pabrik, real estate, pariwisata, dan makanan semua terdampak pandemi. Sektor informal seperti pedagang asongan dan kaki lima, mata pencaharian 1,6 miliar orang di dunia ini, jadi yang paling rentan bubar.

Padahal di Indonesia sendiri, menurut statistik BPS per Agustus 2019, pekerja informal Indonesia mencapai 70,49 juta orang, lebih tinggi dari pekerja formal yang hanya 56,02 juta orang. Hidup musisi emang makin berat, tapi penjual jajanan depan sekolah juga sama nelangsanya.

Tapi kami tidak cuma mau ngasih kabar buruk. Ardhito juga perlu tahu, tidak semua profesi terpukul wabah corona. Di antara sejumlah bisnis yang moncer adalah usaha ternak lele. VICE pernah menulis kebutuhan lele di Indonesia belum bisa dipenuhi sepenuhnya oleh produsen. Oleh karena permintaannya sangat tinggi, pemerintah sudah mulai turun tangan mendukung pemenuhan kebutuhan lele nasional.

Kabar gembira lain seputar lele, salah satu testimoni netizen baru-baru ini menyebutkan, bertani lele di masa pandemi cukup menjanjikan secara finansial maupun mental. Budi daya lele adalah sebenar-benarnya lapangan kerja yang menunjang work-life balance.

Selain beternak lele, pandemi ini juga membuktikan berkebun hidroponik adalah pekerjaan menjanjikan. Seorang pemuda di Kota Madiun bernama Henrye Aan mengatakan kepada Kompas, ia kebanjiran pesanan semasa pandemi. Satu bulan untung bersihnya mencapai Rp4 juta.

“Satu kali panen bisa sampai 40 kg sampai 50 kg per tanaman dan banyak yang ludes terjual. Satu kilogram sayur hidroponik kami jual Rp10 ribu untuk kangkung dan Rp25 ribu untuk selada,” ujar Aan. Melihat prospek tersebut, jika kelak kalian melihat pedagang sayur bawa motor sport, mestinya sih enggak kagetan kayak pembuat video ini.

Pindah ke Gresik, Jawa Timur, pengusaha sayuran organik Maya Skolastika juga kebanjiran pesanan. Kepada Liputan6 Maya mengaku ada kenaikan permintaan 200-250 persen selama pandemi. Jahe, kunyit, temulawak, lengkuas, laos, dan lemon laris manis setelah pada kuartal pertama 2020 mengalami penurunan. Semua ini artinya hanya satu: kita enggak boleh membatasi diri hanya piawai di satu profesi. Kalau jadi musisi kadang ada sepinya, tak perlu malu belajar hidroponik dan budi daya lele.