Angka Kelahiran

Pemerintah Singapura Beri Insentif Lebih dari Rp108 Juta ke Ortu Bersedia Punya Anak

Bantuan tunai ini dianggarkan setelah banyak warga Singapura menunda punya anak di tengah Pandemi Corona.
8.10.20
Singapura Beri Bantuan Dana Rp108 Juta ke Ortu Bersedia Punya Anak
Foto ilustrasi oleh Wes Hicks via Unsplash 

Di berbagai negara, banyak orang tua yang menunda rencana punya anak saat pandemi corona masih belum bisa dijinakkan. Pemerintah Indonesia sendiri menggelar kampanye KB lebih massif, sebab dikhawatirkan terjadi ledakan jumlah penduduk ketika para ortu selama pandemi lebih rajin berhubungan seks. Sebaliknya, di Singapura, pemerintahnya justru khawatir melihat pasangan menunda punya anak. Karena itu mereka memberi iming-iming supaya aktivitas bikin anak terus berlanjut.

Iklan

Tanpa merinci angkanya, Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat lewat pernyataan tertulis pada Senin (5/10) lalu menyatakan pihaknya siap memberi tambahan insentif dana untuk ortu yang memiliki anak baru lahir. Program macam ini sudah berjalan cukup lama di Singapura, dengan nilainya mencapai SG$10 ribu (setara Rp108 juta). Dengan program baru ini, maka nominal yang diterima tiap ortu dengan anak baru lahir lebih tinggi daripada SG$10 ribu.

“Kami mendapat informasi bila banyak orang tua menunda keputusan memiliki anak di tengah Covid-19. Keputusan mereka bisa dipahami, apalagi karena kondisi perekonomian penuh ketidakpastian,” kata Heng. “Artinya, untuk meringankan beban mereka, pemerintah akan memberikan insentif tambahan bagi yang memiliki anak baru lahir.”

Singapura merupakan negara Asia Tenggara dengan tingkat kelahiran terendah di kawasan. Masalah ini sudah terjadi sejak dekade 90’an, tapi bermacam solusi pemerintah tak kunjung bisa menuntaskannya. Ketika jumlah penduduk stagnan, atau malah turun, Singapura akan sangat bergantung pada imigran di berbagai sektor pekerjaan. Beberapa cara Singapura mengiming-imingi para ortu agar mau punya anak mulai dari potongan pajak hingga cuti hamil 16 pekan.

Singapura merupakan salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di Asia, bahkan dunia. Kondisi itu membuat banyak anak muda fokus pada karir, dan cenderung malas menikah apalagi punya anak. Angka kelahiran terus turun selama 10 tahun terakhir.

Merujuk data Badan Statistik Singapura, perempuan lajang berusia 25 hingga 29 tahun di negara itu meningkat 68,1 persen sepanjang kurun 2007-2017. Di periode dan demografi yang sama, populasi lelaki lajang turut meningkat 80,7 persen.

“Budaya kerja di Singapura sangat kompetitif, sehingga berhasil tidaknya seseorang mendapat bonus dipengaruhi kinerjanya. Hal itu membuat banyak orang akan fokus pada karir, sebab berumah tangga tidak membuatmu dapat tambahan uang,” kata Paulin Straughan, sosiolog dari the National University of Singapore saat diwawancarai The Straits Times.

Hingga artikel ini dilansir, penularan Covid-19 di Singapura perlahan bisa dikendalikan. Total ada 57.830 kasus positif di negara tersebut, dengan 191 pasien masih dirawat di RS hingga 6 Oktober 2020. Pemerintah mulai membuka beberapa kawasan bisnis, pertokoan, dan restoran untuk memulihkan ekonomi yang masuk resesi, namun masih mewajibkan protokol kesehatan ketat.