Virus Corona

Ngotot Sepelekan Pandemi Corona, Presiden Brasil Pecat Menteri Kesehatan Negaranya

Jair Bolsonaro pekan lalu mencabut kebijakan lockdown di Negeri Samba setelah bertengkar dengan menkes. Kata doi, saran dokter dan komunitas ilmiah soal Covid-19 cuma "histeria."
20.4.20
Presiden Brasil Jair Bolsonaro berpidato di luar Palacio da Alvorada,  Brasília pada 13 April 2020. Foto: Dida Sampaio/Estadao Conteudo (Agencia Estado via AP Images)
Presiden Brasil Jair Bolsonaro Foto via Agencia Estado/AP Images

Presiden Brasil Jair Bolsonaro memecat Menteri Kesehatan Luiz Henrique Mandetta setelah bertengkar di hadapan umum. Perseteruan itu dipicu oleh tanggapan pemimpin sayap kanan yang menyepelekan pandemi virus corona.

Menteri Kesehatan mengkritik Bolsonaro yang tidak mengindahkan peraturan social distancing, memperdalam kekhawatiran penduduk Brasil akan langkah tidak ilmiah yang diambil oleh sang presiden.

Sebagai akibatnya, warga melemparkan pot ke arah balkon penuh amarah, dan Mandetta turun dari jabatannya. Sementara itu, mantan presiden Luiz Inácio Lula da Silva mencap sang pemimpin populis sebagai “troglodyte” yang “ingin membunuh massal rakyatnya” dalam wawancaraThe Guardian.

Dalam pidato yang membahas kemunduran menteri, Bolsonaro secara implisit mengkritik keinginan Mandetta melanjutkan lockdown yang dimulai bulan lalu. Dia menyerukan agar rakyat Brasil kembali bekerja untuk mempertahankan ekonomi.

"Kita perlu kembali menjalani hidup seperti biasanya. Mungkin tidak bisa secepat yang diinginkan, tapi kita harus meningkatkan fleksibilitas," ujarnya. "Penduduk miskin tak bisa terus-terusan diam di rumah."

Iklan

Brasil menjadi negara kedua di Benua Amerika yang memiliki lebih dari 38.000 kasus positif Covid-19, dengan 2.462 kematian, yang diperkirakan tidak akan berkurang selama beberapa minggu ke depan. Tapi Bolsonaro, yang mengambil pendekatan tidak ilmiah dalam menangani masalah lingkungan dan iklim, menganggap ketakutan komunitas ilmiah dan masyarakat sebagai "histeria belaka" dan Covid-19 tak ada bedanya dengan "flu biasa."

Dia menyebut obat antimalaria hidroksiklorokuin—yang belum terbukti keefektifannya—bisa menyembuhkan COVID-19, dan yakin takkan tertular virus karena rajin olahraga.

Sementara gubernur negara bagian memberlakukan social distancing dengan dukungan kementerian kesehatan federal, Bolsonaro menyerukan agar lockdown segera dihentikan. Dia bahkan melanggar perintah ketika mengunjungi klinik di Brasilia akhir pekan lalu. Di luar klinik, sang presiden berjalan ke arah kerumunan, melepas masker, dan mengulurkan tangan untuk dicium pendukungnya.

"Tak ada yang bisa menghalangi saya bepergian," katanya, tak lama setelah berjabatan tangan dengan warga. "Kita harus menghadapi virusnya secara dewasa, jangan seperti anak kecil."

Saat menghadiri wawancara di televisi pada Minggu, Mandetta mengkritik pendekatan Bolsonaro dengan mengatakan: “Orang Brasil bingung harus mengikuti menteri kesehatan atau presidennya.”

Christopher Sabatini, peneliti senior di lembaga think tank urusan internasional Chatham House, memberi tahu VICE News pemecatan Mandetta “tak terhindarkan” melihat ketegangan di antara mereka semakin jelas.

Iklan

"[Bolsonaro] tidak suka perbedaan pendapat dan tak mau dikritik," tuturnya.

Menurut Sabatini, rakyat Brasil khawatir pemimpin negara semakin gencar mengambil langkah anti-sains dalam menangani COVID-19 setelah kepergian Mandetta. "Kalian cuma diberikan dua pilihan. Bungkam atau nurut sama pendekatan tak ilmiah."

Nelson Teich menggantikan posisi Mandetta. Dia menyatakan kebijakannya takkan mengalami "perubahan mendadak", lalu menekankan "saya dan presiden akan sejalan."

Dalam video yang diunggah ke media sosial, anggota Senat sayap kanan Major Olimpio memprediksi posisi Teich tidak akan bertahan lama jika dia tetap mendukung social distancing, sejalan dengan pendapat kesehatan masyarakat yang berlaku.

"Teich mendukung social distancing. Apabila masih berpegang teguh dengan keyakinannya, dia akan bermasalah dengan Presiden Bolsonaro dan tidak sampai sebulan jadi menteri. Atau dia akan mengorbankan gelarnya dan melawan komunitas ilmiah [dengan mematuhi perintah Bolsonaro],” dia menduga.

Bolsonaro mengklaim dia menolak lockdown untuk melindungi masyarakat kelas menengah ke bawah. Akan tetapi, rakyat Brasil punya pandangan lain. Survei yang dilakukan perusahaan jajak pendapat Datafolha menemukan lebih dari tiga perempat penduduk menilai Mandetta memiliki kinerja bagus atau hebat, sementara itu hanya ada sepertiga yang memberi peringkat sama kepada Bolsonaro.

Pendekatan Bolsonaro telah membuat khawatir gubernur negara bagian dari seluruh spektrum politik, dan memicu usulan pemakzulan. Pada Jumat, mantan presiden Lula memberi tahu The Guardian pemakzulan sangat mungkin terjadi jika dia terus menganggap remeh pandemik.

"Saya khawatir kecerobohan Bolsonaro membuat rakyat Brasil menderita," tuturnya.

"Jika Bolsonaro terus tidak bertanggung jawab seperti ini … [dan] mengorbankan rakyat, saya pikir lembaga-lembaga tersebut perlu menemukan cara untuk menyingkirkan Bolsonaro. Itu berarti mengarah pada pemakzulan."

Dengarkan podcast kami di Apple Podcast , Spotify , Stitcher , atau aplikasi lainnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News