Brand Resto Cepat Saji Bagikan Resep Rahasia ke Masyarakat Gara-Gara Corona

Kalian sekarang bisa bikin sendiri churros-nya Disney atau McMuffin-nya McD di rumah.
Bettina Makalintal
Brooklyn, United States
17.4.20
kukis cokelat
Foto: UMeimage via iStock / Getty Images Plus

Pada akhir 90-an, ada email berantai yang membocorkan “resep biskuit Neiman Marcus”. Konon katanya, sang pengirim membelinya dari petugas kasir di kedai Neiman Marcus. Resep itu dihargai $250 (Rp3,8 juta), tapi perempuan itu mengira $2,50 (Rp38 ribu) karena kasir menyebutnya dengan “dua lima puluh”. Harga aslinya terungkap ketika dia menerima tagihan hingga 10 kali. Kesal diperlakukan seperti ini, dia memutuskan untuk menyebarkan resep ke siapa saja.

Kisah ini tentu hanyalah rumor biasa. Neiman Marcus belum memiliki resep andalan saat itu. Mereka malah baru merilis resep biskuit ke publik. Gratis, enggak perlu bayar. Menurut Snopes, kisah serupa sudah ada sejak 1948 yang melibatkan fudge cake.

Lalu muncul lagi pada 1960-an tentang kue red velvet Waldorf-Astoria. Dan yang terakhir mengisahkan resep kue Woolworths dari Afrika Selatan pada 2000-an. Konsep ceritanya sama saja, semua merek makanan ini sangat menjaga kerahasiaan resep andalan mereka.

Kali ini, justru brand-nya sendiri yang membagikan resep. Krisis kesehatan global membuat sebagian besar dari kita enggak bisa makan di luar, dan akhirnya lebih sering masak di rumah. Oleh karena itu, banyak merek yang menyebarkan resep mereka supaya pelanggan masih bisa merasakan makanan favorit selama restoran tutup akibat swakarantina.

Bulan ini, toko roti lapis Pret A Manger di Amerika Serikat mengungkapkan resep biskuit cokelatnya, sedangkan McDonald menyebarkan resep McMuffin ikonik mereka. Disney juga mengunggah resep churros dari stan makanan mereka agar semua orang bisa “merasakan keajaiban Disney” dari rumah masing-masing.

Wagamama memulai siaran IGTV yang mempertontonkan cara memasak kari katsu milik restoran. DoubleTree by Hilton membagikan resep kukis cokelat “untuk pertama kalinya”. Perusahaan Bend Soup di Oregon bahkan memposting resep seminggu sekali di laman Facebook-nya. Waffle House mengumumkan pekan lalu akan menjual adonan wafel khasnya (enggak termasuk resep, tapi bisa dibuat sendiri di rumah).

Aku tahu ini strategi iklan, bahwa brand ingin menunjukkan mereka peduli dengan para pelanggannya yang sulit bepergian. Namun, langkah ini memiliki niat baik. Mereka menyediakan kenyamanan dan kemudahan kepada pelanggan yang rindu makanan buatan mereka dengan membagikan “resep rahasia”. Ditambah lagi, orang-orang semakin sering bereksperimen dengan keterampilan memasak mereka sekarang, sehingga resepnya akan sangat dibutuhkan.

“Kami sadar situasi saat ini meresahkan,” wakil presiden senior DoubleTree by Hilton, Shawn McAteer, menyatakan dalam postingan resep kukisnya. “Kukis cokelat hangat takkan menyelesaikan masalah, tapi bisa menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan.”

Bisa dipahami kenapa perusahaan makanan merahasiakan resepnya, tapi mereka enggak akan kehilangan pelanggan dengan membagikannya ke publik. Sebagian besar orang tertarik makan di luar karena lokasi dan restorannya, jadi enggak sekadar mementingkan makanannya saja.

Makan churros buatan sendiri enggak akan sama rasanya dengan menyantap langsung di Disneyland setelah capek berkeliling. Begitu juga dengan adonan instan wafel Waffle House, pengalamannya enggak senikmat makan malam-malam di kedainya.

Untuk saat ini, orang-orang bisa menirukan resepnya di rumah. Tapi nanti setelah pandemik berakhir, aku yakin kita lebih memilih makan di restoran, karena versi aslinya akan selalu menang di hati kita.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES