Mesin Fotokopi Rupanya Bisa Menghasilkan Karya Seni Seindah ini
Karya Lesley Schiff, Flower in Hand, 1981, dari seri pameran Seasons. Arsip Whitney Museum of American Art, New York.
Seni Rupa

Mesin Fotokopi Rupanya Bisa Menghasilkan Karya Seni Seindah ini

Pameran seni fotokopi di Museum Whitney, New York, akan membuka mata kita betapa alat kantor itu bisa menghasilkan karya visual luar biasa.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE.

Fotokopi sering kita anggap sebagai mesin biasa. Bagi pegiat punk dan subkultur zine, mesin pengganda ini adalah alat produksi seni yang dapat diandalkan. Namun jarang sekali seniman punya ide memanfaatkan mesin fotokopi membuat seni rupa adilihung. Selama ini, tindakan nyeni yang kita lakukan sama mesin itu paling banter enggak sengaja duduk di atas pemindai gara-gara mabuk dikit pas kantor lagi ada party.

Iklan

Fotokopi diproduksi massal untuk publik sejak dekade 1960'an (walaupun ditemukan sejak 1937). Uniknya, walau sudah menemani umat manusia modern selama sekian dekade, kok ya tidak banyak seniman memanfaatkan fotokopi buat berkarya. Jujur saja, kopian mesin punya ciri khas menarik secara visual, misalnya dari aspek tekstur dan tone warna. Selain itu, fotokopian merepresentasikan pertarungan gagasan menarik mengenai apa sih yang orisinal di zaman sekarang.

Ternyata, seniman-seniman yang bermain dengan fotokopi sudah ada sejak lama, tapi nama mereka sering tak terlacak radar media seni rupa. Beruntung, kurator pameran Experiments in Electrostatics: Photocopy Art from the Whitney’s Collection, 1966–1986 di New York berhasil mengumpulkan karya-karya berbasis olahan gambar fotokopian. Tiga seniman yang diundang adalah Edward Meneeley, Lesley Schiff, dan Robert Whitman. Siapa sangka, seniman fotokopi seluruh dunia bahkan sudah punya wadah sendiri yang bernama International Society of Copier Artists (ISCA). Para seniman ini betul-betul mengoprek mesin fotokopi, sehingga muncul permainan warna, bentuk, dan juga ukuran gambar jadinya. Meneeley, misalnya, mengumpulkan barang-barang elektronik yang dibuang untuk memaksimalkan permainan bentuk langsung di kaca pemindai fotokopinya.

Para seniman ini gemar memakai fotokopi merek Xerox, karena kualitas dan kelenturan mesinnya dimodifikasi. Schiff dapat memaksimalkan Xerox 6500 untuk menghasilkan hasil kopian yang sekilas sangat mirip lukisan cat. Selain tiga nama tersebut, ada 500-an anggota ISCA yang terlibat dalam pameran di Whitney Museum of American Art, mulai dari ikut memajang karya, memberi seminar soal cara memanfaatkan mesin fotkopi, serta menggelar lokakarya kreatif.

Iklan

Simak karya-karya indah dari upaya mengoprek mesin fotokopi berikut ini:

Lesley Schiff, Leopards, 1981, dari koleksi Seasons. Arsip Whitney Museum of American Art, New York.

Lesley Schiff, Beachball, 1981, dari kompilasi Seasons. Arsip Whitney Museum of American Art, New York.

Walter Zimmerman, Floral Study to Italy, 1986, print #42 dari kompilasi Xerography: The International Society of Copier Artists, New York. Arsip Whitney Museum of American Art, New York

Rebecca Stuckey, Uso Della Parete, 1986, print #36 dari kompilasi Xerography: The International Society of Copier Artists, New York. Arsip Whitney Museum of American Art, New York