Penembakan Massal

Berikut Latar Belakang Sosok Teroris Supremasi Kulit Putih Pelaku Penembakan El Paso

Manifesto yang diduga ditulis pelaku menyebutkan serangan tersebut adalah "tanggapan terhadap invasi etnis Hispanik di Texas."
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa
5.8.19
Penembakan massal di El Paso Amerika Serikat dilakukan teroris supremasi kulit putih
Penegak hukum memblokir jalan di tempat kejadian pembunuhan massal di komplek perbelanjaan pada Minggu, 4 Agustus 2019 di El Paso, Texas. Foto oleh John Locher/AP Photo

Terduga pelaku penembakan massal di Walmart El Paso pada Sabtu berasal dari Allen, Texas. Dia menempuh perjalanan sejauh 1.000 km sebelum akhirnya menewaskan 20 orang dengan senapan otomatis.

Kepolisian Texas belum mengetahui apa motif serangan tersebut, tetapi lelaki 21 tahun bernama Patrick Crusius diyakini mengunggah manifesto berisi ujaran kebencian pada forum internet anonim 45 menit sebelum kejadian. Dia menyatakan dukungannya terhadap pelaku teror masjid Christchurch dalam manifesto. Crusius mengatakan serangannya “adalah tanggapan terhadap invasi etnis Hispanik di Texas.”

Iklan

Dikutip dari ABC News, tersangka teroris El Paso mengaku kepada para penegak hukum bahwa dia ingin membunuh orang Meksiko sebanyak-banyaknya.

Puluhan korban luka masih terbaring di sejumlah rumah sakit di El Paso, beberapa dari mereka kondisinya semakin kritis. Saat ini, polisi masih menyelidiki motif salah satu dari dua penembakan massal terbaru di Amerika Serikat.

Crusius dilucuti dan ditangkap di tempat kejadian, dan kini masih mendekam di tahanan.

Siapa Patrick Crusius?

Crusius adalah alumni Plano High School yang melanjutkan pendidikan di Community College Collin County. Pihak kampus membenarkan tersangka belajar di sana selama musim semi 2019.

Catatan publik menunjukkan alamat terakhir Crusius ada di Allen. Di sana, dia tinggal dengan orang tua beserta saudara kembar perempuan dan laki-lakinya.

Petugas kepolisian menutup akses jalan Allen beberapa jam setelah penembakan.

Akun Facebook dan Twitter yang diduga milik penembak beberapa jam setelah penembakan.

“Dia suka menyendiri”

Ketika diwawancarai sejumlah media lokal, mantan teman sekelas dan tetangganya menyebut Crusius seorang penyendiri. Dia jarang ngobrol dan mengikuti organisasi sekolah.

Dia sangat penyendiri” dan “jarang ngobrol sama orang lain,” Leigh Ann Locascio, mantan tetangganya, memberi tahu Los Angeles Times.

Putra Locascio, Tony, dulu sering berangkat sekolah bareng Crusius dan saudara perempuannya. “Dia tidak pernah ngobrol sama orang lain. Dia sangat misterius.”

Iklan

Postingan LinkedIn pada profil pelaku memberikan gambaran seperti apa kondisi mental Crusius:

“Saya tidak punya motivasi hidup. Saya malas kerja, tapi karier di bidang pengembangan perangkat lunak kayaknya cocok buatku. Saya menghabiskan sekitar 8 jam sehari bermain komputer, jadi itu bisa dihitung sebagai pengalaman menggunakan teknologi. Saya ingin melihat ada peluang apa saja di bidang teknologi; saya mengikuti arus saja,” tulis Patrick di kolom biodata.

Apa isi manifestonya?

Polisi belum mengonfirmasi kalimat tersebut ditulis Patrick, tetapi manifesto yang muncul di situs web kontroversial 8chan beberapa jam sebelum terjadi pembantaian diduga diposting pelaku.

Dokumen tersebut sepanjang 2.300 kata, yang diakses VICE News, berjudul “Kebenaran Sukar.”

Manifestonya berbunyi:

“Pada umumnya, saya mendukung pelaku teror Christchurch beserta manifestonya. Serangan ini adalah tanggapan terhadap invasi etnis Hispanik di Texas. Mereka yang menyebabkan ini, bukan saya. Saya hanya membela negaraku dari pembersihan etnis dan kultural yang disebabkan invasi.”

Dokumen tersebut mengklaim “Amerika membusuk dari dalam” sebelum menyebut alasan politik dan ekonomi di balik pembantaian.

Dia juga mengutip masalah pribadi sebagai alasan menyerang pengunjung Walmart di El Paso. “Sepanjang hidupku, saya menyiapkan diri untuk kehidupan yang sebetulnya tidak nyata,” tulisnya. Dia mengklaim pekerjaannya akan diambil robot dan “kaum Hispanik akan mengendalikan pemerintah daerah dan negara bagian.”

Iklan

Manifesto Patrick juga menyertai seksi “perlengkapan” yang menjelaskan dia menggunakan senjata AK47.

Manifesto Patrick juga mengungkap pelaku mendukung partai Republik AS. Namun, baik partai Republik maupun Demokrat AS sama-sama mengkritik manifesto dan perbuatan Patrick.

Penegak hukum yang menyelidiki serangan ini mengatakan kepada NBC mereka “yakin” manifesto tersebut diunggah Patrick. Mereka mengaku sudah tahu tentang adanya manifesto tersebut sebelum terjadi pembantaian, tetapi tidak menyebut sasaran, waktu, tempat, atau nama tersangka.

“Sekarang kami memegang manifesto orang ini, yang menandakan kemungkinan tindakan kejahatan atas dasar kebencian,” ujar Greg Allen selaku kepala kepolisian El Paso pada jumpa pers. Greg melanjutkan aparat kepolisian masih dalam proses mengonfirmasi manifesto tersebut ditulis Patrick.

Situs web anonim layaknya 8chan dan 4chan telah menjadi situs pilihan bagi pembantai massal, yang kerap memposting tujuan mereka sebelum melakukan penembakan. Teroris masjid Selandia Baru, yang membunuh 51 orang, juga memposting manifestonya di 8chan, serta tautan untuk live stream Facebook.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.