Pembantaian Rohingya

Penyidik PBB: Facebook ‘Berkontribusi Besar' Memicu Genosida Rohingya di Myanmar

Merebaknya sentimen anti-muslim Rohingya di Myanmar, menurut temuan misi pencari fakta PBB berkembang akibat postingan ujaran kebencian lewat Facebook.
Foto pengungsi Rohingya via Wikimedia Commons.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Penyidik Perserikatan Bangsa-Bangsa menuding Facebook punya peran krusial memicu genosida terhadap warga minoritas muslim Rohingya. Para penyelidik yang tergabung dalam Misi Pencari Fakta Internasional PBB di Myanmar mengatakan pada awak media Senin lalu (12/3), bahwa postingan bernada kebencian terhadap penganut muslim yang bermunculan di Facebook “berkontribusi besar” menyebabkan ketegangan rasial di negara tersebut lima tahun belakangan.

Iklan

“Di Myanmar, semua aktivitas internet dilakukan lewat Facebook,” Yanghee Lee, salah satu penyelidik, dalam sebuah sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB. “Facebook digunakan untuk menyebarkan pengumuman untuk publik tapi kita semua tahu bahwa penganut Budha yang berhaluan ultra-nasionalis punya akun Facebook sendiri. Lewat akun-akun ini, mereka menghasut orang untuk melakukan tindakan kekerasan dan permusuhan terhadap suku Rohingya dan etnis minoritas lainnya. Saya khawatir Facebook sudah berubah menjadi monster menyeramkan, jauh dari niatan awal pembuatnya.”

Lebih dari688,000 warga etnis Rohingya kabur dari Myanmar menuju Bangladesh sepanjang enam bulan terakhir, menyusul kekerasan yang merajalela dilakuan militer Myanmar maupun milisi sipil ultranasionalis. Kasus Pemerkosan dan pembunuhan kerap terjadi di Rakhine, provinsi Myanmar yang banyak dihuni etnis minoritas muslim Rohingya.

Para pengungsi yang kini tinggal dam kamp pengungi dengan kondisi menyedihkan di Cox’s Bazar, harus menghadapi wabah difteri. Mereka dilaporkan kesusahan mengakses air bersih dan bahan makanan. Belum lagi, saat ini para pengungsi dihadapkan pada ancaman bencana banjir dan longsor menjelang tibanya musim hujan. Minggu lalu, Ketua Dewan Hak Asasi Manusia PBB mensinyalir Myanmar telah melakukan genosida dan mewanti-wanti “pembersihan etnis yang terus berlanjut di Provinsi Rakhine.”

Facebook menyatakan komitmen untuk memerangi ujaran kebencian, termasuk di Myanmar. Bahkan, salah satu juru bicara Facebook mengatakan bahwa raksasa media sosial itu menanggapi kritik PBB dengan “sangat serius.”

"Kami telah banyak melakukan investasi dalam bentuk teknologi dan kerja sama dengan pakar bahasa lokal guna membantu kamu dengan mulus menyingkirkan konten kebencian dan pengguna yang berulangkali melanggar aturan ujaran kebencian yang berlaku di Facebook,” kata juru bicara Facebook saat dihubungi Motherboard lewat surel. “Kami sangat serius menggalang upaya ini dan telah bekerja sama dengan beberapa pakar di Myanmar selama beberapa tahun untuk mengembangkan safety resource dan kampanye memerangi merebaknya ujaran kebencian.”