"Perang para perempuan memiliki corak, bau, sinar, dan serangkaian perasaan yang khas," tulis Svetlana Alexievich di bagian awal buku nonfiksinya The Unwomanly Face of War: An Oral History of Women in World War II. "Tidak ada pahlawan dan prestasi gemilang, hanya ada orang-orang yang sibuk melakukan tindakan tidak manusiawi yang sekaligus manusiawi. Bukan hanya mereka (manusia!) yang sengsara, tapi juga bumi, burung-burung, pohon-pohon… Mereka sengsara tanpa mampu berkata-kata, yang mana lebih mengerikan." Buku Alexievich, terbit dalam Bahasa Inggris pada 25 Juli 2017, adalah dokumen yang kuat dan sangat menggugah. Buku tersebut mengisahkan kesengsaraan masa perang sambil menyediakan ruang bagi suara-suara perempuan yang berjuang bersama serdadu laki-laki, namun kemudian dilupakan sejarah akibat sistem birokrasi dan kemasyarakatan yang seksis. Debut penulis asal Ukraina ini disusun atas lebih dari 500 pertemuan dengan veteran Soviet, dan telah terjual lebih dari 2 juta eksemplar dalam bahasa Rusia, saat terbit pertama kali pada 1985. Saksi-saksi mata dalam buku ini, yang hampir seluruhnya perempuan, menggambarkan situasi di garis depan medan perang: mayat-mayat pelaut mengambang di sepanjang sungai; stasiun kereta yang dipadati veteran perang tanpa kaki, mengesot dengan bantuan tangan' seorang perempuan tua yang terkepung di Leningrad, tiap harinya berlatih menyiramkan air panas agar, bilamana waktunya tiba, bisa menyiramkannya pada kepala-kepala Nazi secara akurat. Setiap tokoh dalam buku ini mengisahkan beragam trauma dan duka sepanjang perang; serta yang terburuk, upaya menghapus para perempuan dari lembaran sejarah. "Mereka baru menghargai jasa kami 30 tahun kemudian," ujar Valentina Pavlovna Chudaeva, komandan artileri anti-pesawat. "Dulu kami seperti disembunyikan, kami bahkan tidak mengenakan medali kami. Para laki-laki mengenakannya, tapi perempuan tidak. Para laki-laki adalah sang pemenang, pahlawan, perayu. Perang adalah milik mereka, dan kami dipandang dengan cara berbeda… Begini, ya, kemenangan kami dirampas oleh mereka. Mereka menggantinya dengan kebahagiaan biasa para perempuan dalam sunyi." Namun, dalam dialog pedih seperti berkataan Chudeva, muncul sejenis harapan, atau setidaknya penyembuhan, melalui kekuatan sastra dan kekuatan kesaksian. "Semua itu pengalaman yang buruk untuk diingat," ujarnya. "Tapi lebih buruk lagi kalau sampai kita lupakan." Pada nukilan buku ini, Alexievich (dia memenangkan Penghargaan Nobel Sastra pada 2015 "karena ragam esainya yang kaya suara" ) menghubungkan kisah-kisah personal seorang penembak jitu perempuan yang membunuh 75 prajurit Nazi, sebelum menjadi perempuan yang berbeda sama sekali sekembalinya dari medan perang. —James Yeh, editor desk budaya VICE
FYI.
This story is over 5 years old.
Sniper Perempuan Pembunuh 75 Prajurit Nazi yang Terlupakan
Iklan


Foto oleh Margarita Kabakova/dimuat seizin Penguin Random House
Unit sniper perempuan Tentara Merah Soviet berfoto sebelum dikirim ke garis depan pada 1943. Foto oleh: Krasutskiy/AFP Photo/Getty Images
Ruangan ini hangat, namun Klavdia Grigoryevna membalut dirinya dengan selimut kotak-kotak tebal—dia menggigil.
Kami langsung dijadikan prajurit… Tahulah, tidak ada waktu untuk mikir. Untuk meladeni perasaan-perasaan kami…
Kelompok kami menawan seorang prajurit Jerman, dan dia sangat terkejut pas tahu bahwa banyak sekali prajurit telah dibunuh di posisinya. Semuanya mati dengan tembakan di kepala. Hampir selalu di titik yang sama. Penembak jitu kebanyakan, ujar si tawanan kekeuh, tidak bisa menyasar kepala dengan presisi seperti itu dan berulang kali. Tidak mungkin. "Coba kasih tahu saya," pintanya, "laki-laki yang membunuh begitu banyak prajurit saya. Saya memiliki pasukan besar, tapi setiap hari sampai sepuluh prajurit gugur."
Komandan resimen menimpali: "Sayangnya, saya tidak bisa memberitahumu Penembak jitu itu seorang perempuan dan sudah mati." Namanya Sasha Shliakhova. Dia meninggal saat duel dengan sesama penembak jitu. Dan yang menyingkap posisinya adalah syal merahnya. Setahu saya, itu syal kegemarannya. Tapi syal merah, kan, kontras sekali dengan salju putih. Waktu prajurit Jerman itu mendengar tentang syal, dia kelihatan bingung, tidak tahu mesti bereaksi bagaimana. Dia terdiam untuk waktu yang lama. Pada interogasi terakhir, sebelum dia dikirim ke Moskow (ternyata dia orang penting), dia mengaku: "Saya tidak pernah berperang dengan perempuan. Kalian semua mengagumkan… Tim propaganda kami bilang, yang berperang di Pasukan Merah adalah hermafrodit…" Jadi dia benar-benar tidak menyangka.
Saya tidak bisa lupa…
Sniper perempuan Lyuba Makarova saat bertugas di front Kalinin pada 1943. Foto oleh: Ozerksy/AFP/Getty Images
Kami pergi berpasang-pasangan. Sulit sekali duduk sendirian dari matahari terbit hingga terbenam; mata kami pegal, menjadi berair, tangan kami kebas, sekujur tubuh kami mati rasa karena tegang. Lebih sulit lagi di musim semi. Salju meleleh di bawah tubuh; kami menghabiskan seharian dalam kubangan air. Kami mengapung; kadang, malah membeku. Kamu mulai saat fajar dan pulang dari garis depan saat mulai gelap.
Selama 12 jam, kadang lebih, kami tengkurap di salju atau memanjat pucuk pohon, memindai dari atap sebuah gudang atau rumah hancur, dan di sanalah kami berkamuflase supaya musuh tidak menyadari posisi kami. Kami mencoba menemukan posisi sedekat mungkin: 0,6 atau 0,7 kilometer, kadang malah hanya berjarak 400 meter dari parit tempat para prajurit Jerman duduk-duduk.
Karenanya, pada pagi hari kami bahkan bisa mendengar mereka ngobrol. Tertawa-tawa.
Dicuplik dari buku