Lewat WhatsApp, Buruh Migran Saling Melindungi dari Kekejaman Majikan

Layanan pesan instan ini menjadi penyelamat bagi perempuan-perempuan migran yang bekerja sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak di lingkungan kerja kejam.
7.5.18
Foto oleh Partha Pal via Stocksy 

Saat Behati pergi dari Ethiopia ke Lebanon, kontrak dalam genggamannya menyatakan bahwa dia akan bekerja selama delapan jam sehari, membersihkan satu rumah keluarga yang baik hati. Dia akan diupah Rp3,5 juta per bulan. Yang terjadi malah sebaliknya. seorang perempuan Lebanon dan anaknya membayarkan setengah dari yang dijanjikan supaya dia bekerja dua kali lebih lama di banyak rumah. Kalau dia mengeluh, dia dipukuli.

Kisah Behati tidak unik. Pemerintah Lebanon mengatakan saat ini ada lebih dari 200.000 pekerja rumah tangga yang terdaftar di negara tersebut, meskipun jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak dari mereka yang bekerja secara tidak teratur. Sebagian besar pekerja berasal dari Ethiopia, Filipina, dan Bangladesh. Mereka dibayar rendah dan sering diselewengkan oleh majikan mereka. Tetapi setelah beberapa dekade penganiayaan, para migran perempuan menemukan cara baru untuk terhubung dengan teman-teman mereka dan mendapatkan kembali harga diri mereka: aplikasi pengirim pesan.

Platform seluler seperti Whatsapp, Facebook, dan Viber telah menjadi sumber dukungan bagi perempuan seperti Behati. (Nama-nama semua pekerja rumah tangga dalam artikel ini telah diubah karena mereka takut aktivisme mereka akan menjadikan mereka target deportasi oleh penegak hukum Lebanon.) Perempuan berusia 26 tahun itu mengatakan dia sudah tidur di balkon majikannya selama lebih dari satu tahun ketika dia memutuskan untuk melarikan diri. Kurangnya makanan dan paparan udara luar telah membuatnya sakit sehingga dia meminta bosnya untuk membawanya ke rumah sakit. Perempuan Lebanon itu menolak permohonannya dan malah mengancam akan mendeportasinya. Jadi Behati melarikan diri.

Sendirian di jalanan Beirut sangat menakutkan, kata Behati. “Saya belum pernah berbicara dengan siapa pun di luar rumah sehingga saya tidak tahu apa-apa,” kenangnya, “Saya tidak tahu ada komunitas.” Beberapa perempuan Ethiopia menemukannya berkeliaran dan membantunya mendapatkan kebutuhan mendasar—sebuah kamar, telepon dan WhatsApp. Melalui aplikasi, dia segera dapat mengakses kelompok yang beranggotakan perempuan migran lain yang bersedia membantu dan menjawab semua pertanyaannya.

Kelompok-kelompok ini seringkali dikelola oleh pekerja rumah tangga yang telah berada di Lebanon selama bertahun-tahun dan mereka cenderung eksklusif mengelompok berdasarkan negara asal dan kesamaan bahasa sehari-hari. Ethiopia sendiri memiliki selusin kelompok, yang masing-masing dapat memuat ratusan anggota. Sebagian besarnya tidak pernah bertatap muka satu sama lain dalam kehidupan nyata tetapi mereka berbagi perjuangan yang sama, dari upah yang tidak dibayar hingga kekerasan seksual.

Di Lebanon, pekerjaan rumah tangga ditangani oleh kafala, sistem sponsor yang umum di seluruh Arab di mana pekerja tidak diizinkan untuk berganti pekerjaan tanpa izin dari majikannya. Mengingat pekerjaan rumah tangga bersifat privat, pengaturan ini memberikan impunitas bagi majikan untuk secara verbal dan fisik menyiksa para migran yang tinggal bersama mereka. Tidak ada catatan resmi tentang pekerja rumah tangga yang diselewengkan di negara tersebut, tetapi LSM percaya bahwa setidaknya dua pekerja rumah tangga bunuh diri setiap minggunya di Beirut.

Photo by Milles Studio via Stocksy

WhatsApp telah menjadi penolong emosional bagi para perempuan tersebut, kata Zeina Mezher, Koordinator Proyek Nasional untuk Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Lebanon. “Bagian terburuk dari pekerjaan rumah tangga adalah perasaan terisolasi,” ia menjelaskan, “dan aplikasi perpesanan memberi buruh migran kenyamanan emosional untuk berhubungan dengan orang yang mereka cintai.”

Kelompok-kelompok ini lebih dari sekadar ruang ngobrol—mereka adalah jaring kesejahteraan. Ketika seorang pekerja rumah tangga meninggalkan rumah majikannya, ia kehilangan hak untuk bekerja di negara tersebut atau mengakses sistem perawatan kesehatan, pendidikan, dan perbankannya. Komunitas WhatsApp muncul sebagai cara untuk melayani kebutuhan ini. Kadang-kadang perempuan-perempuan ini akan berkumpul untuk mengantar makanan ke kolega yang tidak diberi makan oleh majikannya. Di lain waktu, anggota kelompok-kelompok ini akan memobilisasi untuk mencari pekerja yang hilang. Mereka bahkan akan mengumpulkan beberapa ribu dolar yang diperlukan untuk memulangkan mayat.

Kini, beberapa aktivis berserikat dan membahas pekerjaan mereka di arena publik. Pada 2016, sekelompok migran meluncurkan Serikat Pekerja Rumah Tangga Lebanon, yang pertama dari jenisnya di wilayah tersebut. Sejak itu, sekelompok sempalan bernama Domestic Workers’ Union of Lebanon telah didirikan di Lebanon. Serikat-serikat ini secara teknis ilegal. Hukum perburuhan Lebanon tidak mencakup pekerjaan rumah tangga, yang berarti pekerja rumah tangga tidak memiliki hak untuk berserikat. Itu sebabnya Angela*, salah satu pemimpin Aliansi Filipina, mengatakan aplikasi SMS sangat penting. “Bertemu langsung boleh jadi berbahaya dan sulit karena sebagian besar dari kita hanya mendapatkan satu hari libur seminggu,” katanya, “jadi kami berkomunikasi sebagian besar di WhatsApp dan Facebook.”

Memang, ada begitu banyak yang dapat dilakukan kelompok-kelompok ini secara online. Salah satunya, banyak pekerja rumah tangga masih dilarang memiliki ponsel dan, bahkan ketika seorang perempuan berhasil berhasil punya ponsel, serikat pekerja seringkali tidak memiliki sarana untuk membantu. Behati, yang baru saja bergabung dengan jajaran Aliansi, mengenang suatu malam ketika seorang perempuan meneleponnya; ia menangis dan berteriak bahwa dia habis dipukuli oleh majikannya. “Saya tahu dia ada di mana tetapi saya tidak bisa pergi karena saya tidak punya surat,” katanya, “Saya menelepon kedutaan Ethiopia, tetapi mereka menolak untuk membantu.” Behati tidak pernah mendengar kabar dari perempuan itu lagi.

Selain itu, aktivis hak asasi manusia sekarang khawatir bahwa menggunakan WhatsApp atau Facebook dapat memudahkan pihak berwenang melacak dan menahan aktivis migran. Pada tahun 2016, dua pemimpin serikat pekerja yang kuat dari Filipina ditahan dan dideportasi meskipun dokumen-dokumen mereka lengkap. Sejak itu, banyak migran memilih berhenti melakukan protes di jalan karena takut mengalami nasib yang sama.

“Sangat penting bagi pekerja rumah tangga untuk bisa menceritakan narasi mereka sendiri, tetapi ada risiko serius yang terlibat dalam penggunaan teknologi,” kata Farah Salka, koordinator umum Gerakan Anti-Rasisme di Lebanon, yang mengelola Pusat Komunitas Migran di Beirut. Tempat mereka adalah satu-satunya yang terbuka bagi para migran di negara ini dan, baru-baru ini, mereka telah mulai menyediakan lokakarya bagi pekerja rumah tangga tentang cara aman menggunakan aplikasi perpesanan dan menggunakan ponsel mereka untuk mengumpulkan bukti pelecehan.

Ini bisa menjadi awal dari gerakan digital yang kuat untuk hak-hak migran di Lebanon, kata Mezher dari ILO. Organisasinya sekarang mengadvokasi pengusaha untuk membiarkan pekerja rumah tangga memiliki ponsel. Dan karena biaya internet seluler terus turun di wilayah ini, dia memprediksi bahwa lebih banyak perempuan akan segera menemukan jalan mereka ke jaringan dukungan bawah tanah ini.

Behati juga berharap demikian. Kini dia membawa pulang 300 USD setiap bulannya dari membersihkan rumah paruh-waktu, meski dia pernah menghadiri beberapa kelas di universitas soal Studi Gender dan bekerja sebagai moderator untuk grup WhatsApp ini. Dia juga berhubungan dengan keluarganya di Ethiopia. “Saya hanya bilang ke ibu saya soal yang baik-baik saja, tapi lalu saya khawatir bahwa perempuan-perempuan lain akan melihat foto saya dan ingin datang ke sini,” ujarnya. “Saya berdoa mereka gak ke sini.”