Apa Yang Perlu Kita Lakukan Kalau Ketagihan Notifikasi, Jumlah Like dan Pengikut
Image via Instagram
media sosial

Apa Yang Perlu Kita Lakukan Kalau Ketagihan Notifikasi, Jumlah Like dan Pengikut?

Apakah kita perlu mempertimbangkan usul untuk menghapus fitur likes dan jumlah pengikut untuk membuat hidup kita normal kembali seperti sediakala?
27 September 2018, 12:16pm

Rata-rata orang mengecek ponselnya 150 kali sehari. Antropolog Inggris Robin Dunbar juga menjelaskan bahwa 150 adalah jumlah maksimum orang yang bisa memiliki hubungan stabil dengan kita sebagai individu. Stabil dalam artian kalau kita gak sengaja ketemu mereka di mal, enggak canggung rasanya menyapa.

Terlepas dari kesamaan angka, maknanya sangat bertentangan. Sekarang di 2018 orang semakin jarang berkumpul dengan teman baik di cafe dan kita lebih memilih tinggal di rumah supaya bisa kepoin instagram orang atau ngobrol dengan teman lewat DM. Kita sekarang memiliki kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang dari seluruh dunia berkat media sosial. Maka tidak aneh kalau angka 150 orang terdengar sangat kecil.

Lingkaran pertemanan kita mungkin lebih luas, tapi pemberitahuan di ponsel kita juga jadi berbunyi terus. Notifikasi selalu memberi tahu kita segala hal yang kita lewati. Akibatnya, kita merasa harus mengecek gawai setiap saat supaya tidak ketinggalan berita. Hidup kita jadi sangat bergantung kepada ponsel.

Pada era 30-an, B. F. Skinner mengamati bahwa tikus lebih sering merespons rangsangan ketika diberikan secara acak, menghalangi kemampuan untuk memprediksi dan mempersiapkan diri terhadap rangsangan. Dia menyebut ini sebagai “jadwal imbalan yang bervariabel.” Skinner berpendapat bahwa manusia melakukan hal yang serupa; kita akan rajin mengecek sesuatu apabila mendapat imbalan yang tidak terduga. Hal ini akhirnya menyebabkan kecanduan. Sama seperti tikus Skinner, kita dimabukkan oleh notifikasi yang muncul secara tak terduga; memberikan validitas sosial terhadap orang yang membutuhkan dopamin.

Dengan memanfaatkan fenomena ini, algoritma instagram sengaja menahan pemberitahuan like supaya mereka bisa mengirimkan sejumlah notifikasi secara berbarengan. Pengguna yang tadinya kecewa karena tidak ada yang menyukai postingannya langsung merasa senang sewaktu notifikasinya masuk. Kecanduannya semakin meningkat setelahnya.

Natasha Dow Schüll, dosen NYU dan penulis Addiction by Design, menyamakan efek dari notifikasi yang sering muncul dan tidak terduga dengan penjudi yang ketagihan bermain mesin slot. Schüll menjelaskan bahwa orang cenderung akan “tertarik” bermain mesin slot tiga hingga empat kali lebih cepat daripada bentuk judi lainnya, karena kita terobsesi untuk mendapatkan hadiah yang tak terduga dari mesin slot tersebut.

Pengembang platform semakin prihatin dengan kondisinya. Februari lalu, banyak media yang melaporkan bahwa badan eksekutif Silicon Valley membesarkan anaknya tanpa teknologi, karena tahu dampaknya terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Banyak anggota senior yang mengikuti ajaran Buddha yang banyak melakukan meditasi dan mengejar ketenangan hati serta pikiran.

Banyak pengguna juga mulai khawatir dengan kondisi ini. Kanye West baru-baru ini mengusulkan “pertemuan yang disiarkan langsung” dengan jajaran eksekutif platform media sosial untuk menghapuskan metrik seperti jumlah ‘like’ dan ‘pengikut.’ Dia membandingkannya dengan “memamerkan berapa banyak uang yang kamu punya di bank atau menuliskan ukuran penis di kaos.” Kim Kardashian West, yang sebagian besar kesuksesannya berasal dari media sosial, meninggalkan komentar: “BIG FACTS” dalam postingan Kanye. Meskipun banyak orang yang mengkritik komentarnya, Kim memiliki kemampuan memprediksi pasang surut budaya. Ini menandakan bahwa hubungan antara perusahaan teknologi dan penggunanya bisa berubah.

Apple memutuskan ikut andil dalam menangani dampak media sosial terhadap kesehatan mental dan produktivitas kita. Juni lalu, Apple mengeluarkan siaran pers yang mengumumkan bahwa sistem iOS 12 akan memiliki fitur baru yang bisa membantu pengguna “mengurangi gangguan dan mengatur waktu bermain gawai untuk diri sendiri dan keluarga.”

Fitur baru ini, mencakup Laporan Aktivitas, Batas Aplikasi, dan kontrol Jangan Ganggu serta Peringatan Penting, memungkinkan pengguna untuk mengakses data yang menjelaskan lama waktu penggunaan ponsel. Fiturnya akan memetakan waktu yang dihabiskan di ‘media sosial’ dan ‘hiburan’ versus ‘produktivitas.’ Selain itu, iOS 12 juga memiliki laporan ‘Sesi Terpanjang’ dan ‘Penggunaan setelah jam tidur’ yang ada di bagian bawah grafik. Laporan ini memberi tahu kalau kamu telah menghabiskan waktu lebih lama di ponsel pada hari itu.

Pilihan yang paling menarik di iOS 12 adalah ‘Kirim Tanpa Suara’ atau ‘Matikan.’ Dengan ini, kamu tidak akan terganggu dengan notifikasi yang datang ke ponsel. Coba bayangkan, bagaimana rasanya hidup tanpa notifikasi? Kamu bisa lebih konsentrasi kerja atau belajar, fokus menyelesaikan bacaan, dan makan malam lebih nikmat. Kamu tidak lagi terdistraksi dengan ponsel. Asyik banget, kan!

Masalahnya, kamu akan mendapatkan peringatan ‘Hidupkan’ saat kamu mematikan notifikasinya. Strategi ini sama saja dengan pemberdayaan palsu. Perusahaan teknologi menggunakan push notification untuk membebaskan penggunanya dari notifikasi, padahal sebenarnya menu sudah diatur agar semua pilihan tersebut bisa tetap menguntungkan perusahaan.

Tristan Harris adalah generasi baru di jajaran petinggi Silicon Valley, sejumlah orang-orang yang merasa seperti filsuf. Selama satu dekade terakhir, ia mendapatkan gelar Design Ethicist dan Product Philosopher di berbagai perusahaan teknologi seperti Google, Apple, Wikia, dan Apture. The Atlantic memanggilnya sebagai, “orang di internet yang masih punya hati nurani.” Dalam esai yang diterbitkan di blog pribadinya pada 2016, tak lama setelah minggat dari Google, Harris membahas bagaimana teknologi “Membajak Pikiran Manusia,” menggunakan teknik berbeda dari mereka yang dipekerjakan oleh penipu. “Kamu bisa dengan mudah mempermainkan seseorang setelah mengetahui cara memprovokasinya,” tulis Harris.

Dalam byline Ted Talk-nya tahun lalu, Harris digambarkan sebagai “design thinker” atau orang yang berjasa “memanusiawikan teknologi” dalam industri teknologi. Harris memperkenalkan teknik yang digunakan untuk menarik dan mempertahankan perhatian pengguna — pilihan palsu, Fear of Missing Something Important (FOMSI), atau feed tanpa ujung. Selain itu, dia juga menekankan pentingnya mengatur ulang platform untuk mengakomodasi kebutuhan praktis dan kesehatan mental penggunanya, dan bukannya mengkonfigurasikan pengguna ke bot yang membuat kita kecanduan (langsung mengecek ponsel setiap ada notifikasi).

Baik itu karena kenaifan atau optimisme, Harris menghubungkan hubungan tak sehat antara platform teknologi dan penggunanya dengan kejadian tidak menyenangkan. Akan tetapi, dia setuju kalau ini sudah menjadi kewajiban perusahaan besar untuk mendesain ulang model bisnisnya saat ini, yang bergantung pada pengguna yang kecanduan dengan perangkat buatannya.

Harris membayangkan model internet di masa depan yang berdasarkan konsep ‘Menghabiskan Waktu dengan Baik,’ yang mana waktu pengguna sangat berharga dan perusahaan terdorong untuk berterus terang tentang tujuan ‘keterlibatan’-nya dan seberapa lama mereka ingin pengguna menghabiskan waktu di situs atau platformnya. Di awal tulisannya, Harris selalu memperingatkan pengguna berapa lama waktu yang akan mereka habiskan untuk membacanya. Dengan begitu, mereka bisa membuat keputusan akan membacanya atau tidak.

“Kebebasan yang sebenar-benarnya adalah,” tulis Harris, “pikiran yang bebas dan kita membutuhkan teknologi untuk membantu kita hidup, berpikir dan bertindak bebas. Kita butuh ponsel, layar notifikasi, dan situs web untuk meningkatkan kemampuan berpikir kita dan hubungan interpersonal yang memprioritaskan nilai dan martabat kita, bukan dorongan.”

Cara paling mudah dan murah untuk mengurangi kecanduan teknologi yaitu dengan mengubah warna layar menjadi hitam putih. Strategi ini dipercaya bisa menghilangkan sensasi kognitif yang dipicu oleh notifikasi yang berwarna cerah. Menurut Harris, cara ini juga bisa membuatmu malas sering-sering mengecek ponsel. Saya sendiri cukup merasakan manfaatnya.