Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 Bakal Hambar Jika Tak Melahirkan Legenda Baru

Sebab jika tidak, kita kelak akan mengenang Piala Dunia tahun ini hanya sebagai Piala Dunia di mana VAR pertama kali diperkenalkan.
4.7.18
Ronaldo dan Pepe dan laga Portugal melawan Uruguay. Photo: dpa picture alliance / Alamy Stock Photo

Setelah disajikan pertandingan menegangkan di mana Belgia yang sempat tertinggal 2-0 dari Jepang menyamakan kedudukan dan akhirnya keluar sebagai pemenang lewat gol di penghujung babak kedua, muncul pertanyaan akankah perhelatan Piala Dunia bisa lebih keren dari ini? Bagaimana Piala Dunia sebagai sebuah tontonan bisa mencapai level tinggi hingga makin menarik, makin dielu-elukan, makin imersif dan makin digilai penyuka sepakbola?

Iklan

Jawabannya—dan memang cuma ini jawabannya—tentu bisa. Setelah rontoknya tim-tim raksasa di fase grup, kemenangan-kemenangan mengejutkan di ujung laga, katarsis negara-negara balkan, mikrodrama VAR dan video pendukung tim Jepang membersihkan stadion bahkan setelah timnas mereka disingkirkan Belgia, Piala Dunia masih kekurangan sebuah narasi yang koheren tentang kelahiran pahlawan baru.

Ini tak lantas jadi preseden buruk bagi Piala Dunia 2018. Di luar hegemoni klub-klub elit kaya, Piala Dunia tahun ini adalah angin segar dalam persepakbolaan global. Dalam banyak aspek, narasi utama dari Piala Dunia 2018 sejauh ini adalah matinya narasi; salam perpisahan panjang pada raksasa-raksasa sepakbola dunia. Dari babak awal kita sudah melambaikan selamat tinggal pada dominasi klub-klub dunia saat adalah sesuatu yang sudah diatur dan marwah teratas kompetisi sepakbola ternama dunia hanya jadi ajang pertandingan klub-klub elit itu-itu saja, Piala Dunia 2018 sejauh ini berhasil menjungkirbalikan anggapan tersebut.

Untuk beberapa saat, seiring munculnya prediksi Portugal dan Argentina bertemu di perempat final, Piala Dunia 2018 disebut-sebut sebagai kesempatan terakhir bagi Messi dan Ronaldo untuk memenangkan trofi tertinggi kejuaran sepakbola antar negara—atau setidaknya saling menyingkirkan satu sama lain.

Seperti semua debat kusir tanpa ujung di internet, kita akan kesusahan mencari asal muasal debat tentang rivalitas Messi vs Ronaldo. Kita mungkin bertanya-tanya apakah netizen sudah ramai berdebat tentang statistik operan Messi dan konversi tembakan ke gawang ketika Ronaldo mulai bergabung dengan Real Madrid pada 2009 untuk secara langsung berhadapan dengan Messi dalam satu kompetisi? Atau debat itu sudah muncul setelah keduanya ada di posisi kedua dan ketiga dalam perebutan Ballon d’Or atau FIFA World Player of the Year di belakang Kaka? Argumen tentang mana yang lebih unggul dari keduanya sudah berumur satu dekade. Dan ujung dari perdebatan ini adalah anggapan bahwa pemenang rivalitas ini adalah pemain yang berhasil yang memenangkan trofi Piala Dunia. Sayang, hari Sabtu minggu lalu, dalam jangka waktu enam jam saja, semua perdebatan itu berakhir dengan menyedihkan—baik Messi atau Ronaldo pulang kampung lebih awal. Ronaldo akan berusia 37 tahun pada Piala Dunia 2022 sementara Messi akan menginjak usia 35 tahun. Agak terlalu berlebihan membayangkan keduanya mengangkat trofi Piala Dunia empat tahun ke depan.

Messi ketika bertanding melawan Kroasia. Foto: MB Media Solutions/Alamy Stock Photo

Beresnya gontok-gontokan tentang rivalitas Ronaldo dan Messi—dengan hasil yang menggelikan sih—adalah impresi bahwa Piala Dunia Rusia 2018 akan menyuguhkan epos baru sepakbola global. Tiki-taka sudah mandul dan dipecundangi Lawro; keberadaan VAR memicu debat seru tentang masa depan penggunaan teknologi dalam pertandingan sepakbola di masa depan; rontoknya Jerman di fase grup membuktikan bahwa Der Panzer tak selalu sakti dan tiba-tiba saja kemampuan menendang lurus saat penalti jadi keahlian yang harus dilatih. Kini dengan nama-nama familiar seperti Gomez, Ozil, Neuer and Khedira; Mascherano, Aguero and Di Maria; Iniesta, Ramos, Pique and David Silva; Thiago Silva, Marcelo, Pepe, Quaresma dan Lawro tak lagi bertanding, sulit untuk tidak bersemangat membayangkan seperti apa sisa Piala Dunia 2018 akan berlangsung—serta bagaimana wajah sepakbola internasional setelahnya.

Dalam ketiadaan Messi dan Ronaldo serta wajahnya familiar lainya, semua kemungkinan bisa terjadi. Bila fase grup terasa seperti Piala Dunia dalam bentuknya yang paling murni—adu taktik antara negara-negara dengan kemampuan atletis, sejarah sepakbola dan latar belakang budaya yang berbeda—maka babak knockout akan terasa seperti jeda yang menyedihkan namun diperlukan karena di titik inilah Piala Dunia tak melulu tentang permainan di lapangan hijau tapi lebih tentang diskusi-diskusi dan segala macam khayalan. Dalam jeda-jeda antara pertandingan di fase knockout, kita beroleh waktu untuk menyusun narasi tentang legenda-legenda baru. Di saat sama, kisah tentang bagaimana sebuah Piala Dunia harus dikenang kelak pun mulai dibentuk.

Iklan

Tampang dalam pertandingan antara Argentina malawan Kroasia Photo: MB Media Solutions / Alamy Stock Photo

Saat ini, tak ada satupun tim atau satu pemain yang berani mengklaim kalau Piala Dunia kali ini adalah Piala Dunia mereka. Tak ayal, trofi Piala Dunia kali ini bisa dibawa pulang siapa saja—tahun ini, kita bisa saja melihat Kylian Mbappe, Neymar atau Generasi Emas Belgia menorehkan nama mereka dalam keabadian. Tapi, bisa saja yang terjadi adalah Kroasia juara atau bisa jadi tahun ini adalah kali pertama Beruang Merah jadi kampiun. Saya bahkan beberapa kali bermimpi bahwa Luis Suarez, Edinson Cavani and Diego Godin, tiga pemain penting dari tim underdog yang tahun ini bermain cemerlang, Uruguay, mendapatkan medali emas mereka dan ramai-ramai mengencingi muka saya.

Atau tahun ini, bisa jadi giliran Inggris yang berjaya dan sepakbola benar-benar akan pulang kampung seperti teriakan pendukung Inggris. Meski dengan sepuluh pertandingan yang tersisa, tak ada yang tahu apakah skuad Gareth Southgate punya cukup modal untuk terus melaju sampai ke final. Membayangkan Inggris masuk final saja sudah termasuk lebay saat ini. Dengan maksimal tiga pertandingan tersisa bagi Inggris, akankan Harry Kane bisa menjaga rerata cetakan golnya dan mengakhiri kompetisi sebagai top scorer seperti James Rodriguez empat tahun lalu?

Babak knockout Piala Dunia sejatinya adalah panggung di mana epos-epos baru sepakbola ditulis dan pahlawan baru dilahirkan. Namun, di saat yang sama, timnas dan pemain yang tersisa diwajibkan menunjukkan diri mereka pantas jadi legenda, atau menyusun narasi logis kelahiran mereka sebagai legenda dalam kompetisi yang masih terkesan acak dan berjalan tanpa narasi.

Messi dan Ronaldo sudah dulu gugur, digerus waktu. Tapi, jika anak cucu kita kelak akan bosan mendengar cerita-cerita kita tentang Piala Dunia 2018, akan lebih menyenangkan jika mereka dihujani kenangan tentang sesuatu yang lebih heroik—seperti munculnya legenda baru— dibanding sekadar ceritan tentang kesaktian VAR.

Piala Dunia 2018 masih butuh pahlawan. Dan jika mampu, silakan ambil , Inggris!