ramadan

Menemui Jamaah yang Berzikir 40 Hari Tanpa Henti Sebelum dan Sesudah Ramadan

Di Majelis Pengajian Seramoe Darusalam, Aceh, zikir berlangsung siang dan malam lebih dari sebulan. Suluk yang dilakukan jamaah untuk mendekatkan diri pada Allah.
29 Mei 2018, 5:00am
Jemaah berzikir dengan menutup wajah dan kepala dengan sorban. Semua foto oleh Hendri Abik

Di kaki Bukit barisan, tepatnya di desa Beuraden, Peukan Bada, Aceh Besar terdapat sebuah balai pengajian yang beda dari yang lain. Nama tempat pengajian itu Seramoe Darusalam. Di sanalah, di balai yang beratapkan daun rumbia dan berdinding kayu, belasan jamaah pengajian berkonsentrasi menjalankan ibadah, mendekatkan diri pada sang Khalik melalui suluk.

Saban ramadan, tempat pengajian yang teduh dipayungi pepohonan hutan itu jadi lebih ramai dari biasanya. Jamaah, yang seluruhnya laki-laki dan umumnya berusia tua, datang ke balai untuk menjalankan suluk yang bentuknya beribadah tanpa putus siang dan malam, berzikir terus-menerus, di samping menjalankan salat lima waktu dan puasa.

Hampir sepanjang hari mereka menutup tubuh, terutama wajah dan kepala, dengan sorban. Para salik yang melakukan i’tikaf duduk bersila berjam-jam lamanya untuk bertasbih. “Semua ibadah ini telah diperintahkan oleh Allah,” kata Pimpinan dayah Tengku Fauzi saat dijumpai usai melaksanakan suluk.

Ada bermacam-macam suluk yang dilakukan di Seramoe Darusalam. Ada suluk 40 hari yang dilakukan pada bulan Ramadan, kemudian ada suluk 10 hari, dilakasanakan pada bulan haji, dan pada bulan Maulid 20 hari. Tahun ini, para jamaah berkumpul melakukan suluk 40 hari sejak Jumat 18 Mei lalu.

“Siang dan malam baik sedang mau tidur Jamaah selalu melakukan zikir. Zikirnya tidak bergerak dengan lidah, hanya terucap dengan hati,” kata Fauzi.

Tidak dibenarkan bagi Jamaah untuk pulang atau keluar dari perkarangan pondok pesantren selama mengikuti ritual tersebut."Itu memang sudah menjadi kesepakatan antara peserta Suluk dengan 'Mursyid'," katanya.

Peserta Suluk dilarang memakan makanan yang berdarah selama mengikuti ritual tersebut. Makanan bagi santri telah tersedia di dapur yang khusus dibikin untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka para jamaah. “Kalau laksanakan salat tidak boleh makan, ini juga hanya boleh makan dedaunan," kata Fauzi.

Seorang jamaah, Tengku Abdul Malik, 54 tahun, Warga Aceh Besar, mengatakan ia mengikuti suluk ini karena batinnya terdorong untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri pada Allah melalui zikir. “Hati kecil memangil untuk medekatkan diri dengan Allah,” ujarnya.