Teknologi Kloning

Malas Melatih dari Kecil, Kepolisian Cina Mencoba Kloning Anjing Pelacak

Tragisnya, kata pakar, kemampuan anjing pelacak tak bisa diturunkan secara genetik. Apakah kebijakan di Tiongkok ini bakal sia-sia?
27.3.19
Malas Melatih dari Kecil, Kepolisian Cina Mencoba Kloning Anjing Pelacak
Anjing di Kunming. Foto ilustrasi dari Wikimedia Commons 

Kepolisian di Provinsi Yunnan, Cina, baru-baru ini mengklaim berhasil mengkloning seekor anjing pelacak. Uniknya, kloning ini dilakukan demi "efisiensi", karena mereka menganggap melatih anjing pelacak baru butuh waktu lama, seperti dilansir dari kantor berita Xinhua.

Anjing pelacak hasil kloningan pertama di Cina—dan mungkin di dunia—itu bernama Kunxun. Menurut dugaan, anjing peranakan serigala Kunming ini—masih bersaudara sama German Shepherd—dilahirkan Desember 2018 lalu.

Iklan

Menurut berita yang dilansir Xinhua, Kunxun direplikasi dari anjing pelacak betina berumur tujuh tahun bernama Huahuangma. Proses kloning dilakukan sejumlah ilmuwan Sinogene, perusahaan bioteknologi di Cina yang pertama menawarkan jasa kloning hewan peliharaan.

Kesatuan Anjing Polisi Kunming, yang berada di bawah Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, ingin menurunkan kehandalan Huahuangma ke keturunannya. Anjing betina ini "berperan penting dalam membantu detektif polisi menyelesaikan banyak kasus pembunuhan" dan "berhasil mencapai nilai A dalam berbagai kesempatan," kata Wan Jiusheng selaku juru bicara polisi Kunming kepada Xinhua.

Kunxun dikloning dari sel-sel somatik di kulit Huahuangma. Sel-sel tersebut kemudian digunakan untuk menciptakan embrio yang ditanamkan ke rahim seekor beagle betina, seperti dilansir Engadget.

"Sebagai seekor anjing kloningan, Kunxun tak punya saudara. Jadi bisa dibilang, anjing betina ini hidup secara independen," kata Wan.

Divisi Anjing Polisi Kumning mengaku proses kloning Huahuangma akan menghemat waktu daripada melatih anjing baru. Asumsinya, si Kunxun ini secara otomatis mewarisi kehebatan Huahuangma dari sononya.

Masalahnya, warisan genetik yang diterima Kunxun tak otomatis bikin dia jago melacak pelaku pembunuhan. Pasalnya kehebatan anjing pelacak umumnya juga dipengaruhi faktor lingkungan, seperti yang pernah disinggung oleh Scientific American tahun lalu.

Iklan

Tragisnya lagi, Kunxun toh juga tetap menjalani pelatihan anjing polisi. "Kami tak tahu masa depan Kunxun akan seperti apa. Saya harap Kunxun bisa mengembangkan semua kemampuan Huahuangma selama pelatihan," ujar Zhang Song, pakar pelatihan anjing polisi kepada Xinhua.

Sampai saat ini, Cina tak memiliki beleid khusus melarang kloning binatang, seperti dilaporkan Kantor berita internasional Reuters dalam artikelnya tahun lalu. Selain karena ongkos kloning yang mahal (Sinogene mematok harga US$55.065 atau setara Rp797 juta per satu ekor hewan peliharaan), kloning hewan juga membentur batas-batas etis. Tak banyak negara mengizinkan proses ini atas alasan etis.

Seperti yang dipaparkan dalam Smithsonian Magazine, sejumlah spesimen hasil kloning memiliki risiko lebih tinggi mengidap penyakit tertentu. Contohnya seperti dialami anak kucing bernama Little Nick, kloning hewan peliharaan komersial pertama yang dilahirkan pada 2004. Kelompok pecinta binatang mengkritik habis-habisan proses kloning tersebut dan menuding para ilmuwan yang terlibat mengesampingkan nasib hewan peliharaan di lokasi penampungan binatang.

Petinggi Kepolisian Cina menegaskan Kunxun hanya sebuah purwarupa. Kayaknya mereka ngeles biar tak dihujat kelompok pecinta binatang.

"Ini baru permulaan, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menyempurnakan hasil kloning," ujar Zhang.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard