Konflik Palestina-Israel

Penduduk Jalur Gaza Mulai Kecewa Pada Hamas Atas Buruknya Kualitas Hidup Mereka

Dulu, isolasi dan penjajahan Israel selalu dianggap biang kerok kesengsaraan mereka. Belakangan, ratusan warga menggelar unjuk rasa dengan slogan "Kami Ingin Hidup" agar Hamas memerintah lebih baik.
10.4.19

Israel bersiap menggelar pemilihan umum bulan ini menentukan pemerintahan baru. Pilihan yang tersedia suram, karena partai yang berpeluang menang semuanya punya ideologi ultra kanan, sehingga potensi perdamaian dengan Palestina makin jauh saja. Di saat bersamaan, penduduk Palestina di Jalur Gaza ikut menyuarakan keresahan mereka. Ratusan warga akhir bulan lalu menggelar protes, menuntut Partai Hamas sebagai pemerintah setempat bekerja lebih baik memperbaiki taraf hidup penduduk.

Iklan

Protes bulan lalu, disusul aksi ribuan orang berdemonstrasi di perbatasan Israel pada Jumat (5/4), menuntut pengakhiran blokade Jalur Gaza. Warga juga mendesak pemulangan warga Palestina yang diasingkan dari kampung halaman mereka sejak 1948.

Sejak tahun lalu lalu, warga rutin berunjuk rasa menolak keputusan Presiden Donald Trump memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem. Memasuki 2019, protes-protes ini terus disuarakan warga Palestina saban pekan. Khusus di Jalur Gaza, kecaman tidak lagi mengarah ke Israel dan AS, namun juga ke Hamas.

Pandangan ini, misalnya, disuarakan Ameen Abed. Lelaki 30 tahun itu merasa Hamas—parpol yang memerintah jalur Gaza—turut bersalah karena membiarkan warga hidup dalam kesengsaraan.

Pada Maret lalu, Abed dan ratusan orang lain berpartisipasi dalam unjuk rasa yang diberi slogan "Kami Ingin Hidup". Warga memohon kepada Hamas mengalihkan fokus memperbaiki kondisi hidup dan mengurangi beban pajak. Hamas ternyata menjawab protes warga dengan kekerasan. Puluhan orang, termasuk jurnalis dan aktivis HAM setempat, diserang oleh sayap militer Hamas.

"Saya menyaksikan sendiri pengeroyokan itu. Belasan teman dipenjarakan pasukan Hamas. Saya pun menerima pesan yang mengancam akan ditembak kalau terus protes," kata Abed kepada VICE News.

Bagaimanapun, warga Jalur Gaza hanya ingin blokade Israel diakhiri. Jalur Gaza adalah satu-satunya wilayah Palestina yang terkepung wilayah Israel dari darat, laut, maupun udara. Akibat perpecahan politik antara Hamas dan Fatah pada 2007, Palestina terpaksa diperintah dua partai berbeda. Hamas menguasai Gaza, sementara Fatah mewakili Otoritas Palestina di dunia internasional mengelola kawasan Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Iklan

Rakyat Gaza sudah muak dengan blokade ekstrem sejak lebih dari 10 tahun lalu. Akses obat dan sembako bagi Gaza bahkan sempat hanya bisa masuk melalui jalur terowongan bawah tanah melalui Mesir. Karena itulah, warga tak peduli lagi siapa yang jadi biang kerok. Hamas atau Israel, sama zalimnya di mata mereka.

Bagi warga, pemerintah masing-masing kepala batu karena mengedepankan politik, sembari mengorbankan rakyat sipil. Israel sendiri ngotot tidak mau melonggarkan blokade, karena menganggap Hamas organisasi teroris yang menjadi otak serangan roket militan ke kota-kota besar Israel, termasuk ke pinggiran Ibu Kota Tel Aviv.

"Kami berunjuk rasa untuk memperjuangkan hak kami," ujar Louai al-Jammal, 21, kepada VICE News di tengah demonstrasi akhir Maret lalu. "Kami berjuang demi mengakhiri pengepungan Gaza."

Berbagai unjuk rasa tersebut menelan korban. Paling sedikit 270 pengunjuk rasa tewas saat bentrok dengan militer Israel di perbatasan selama demo berjuluk 'Return of Great March', menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Blokade ekstrem membuat kualitas hidup warga Palestina di Gaza amat rendah. Mati listrik terjadi setiap hari, penduduk kekurangan akses pada obat-obatan dasar, infrastruktur rusak tanpa bisa diperbaiki, sementara angka pengangguran di atas 50 persen.

Warga cuma menuntut Hamas fokus memperjuangkan perbaikan taraf hidup. Tapi karena tuntutan warga dibalas dengan pengeroyokan, banyak warga Jalur Gaza yang kritis terpaksa bersembunyi. Abed pun ikut tiarap.

Iklan

"Saya bahkan takut berbicara dengan pacar, bisa jadi panggilan teleponnya dipantau," ujarnya. "Saya sering merasa takut akan ditangkap aparat Hamas kalau keluar rumah."

Saat ditanya mengapa dia masih mau diwawancarai VICE News, Abed mengaku tak punya pilihan lain. Dunia, menurutnya, harus tahu bahwa persoalan di Gaza jauh lebih rumit dari sekadar Israel menjajah Palestina.

"Walau takut, saya akan terus mengungkap fakta ini sampai akhir. Tidak ada lagi yang patut ditangisi. Kami sudah terlanjur kehilangan masa depan."

Simak dokumenter VICE News seputar konflik rumit di Jalur Gaza lewat tautan di awal artikel.


Seluruh gambar diambil oleh Daniel Bateman dan disunting oleh Alejandro Soto.

Artikel dan dokumenter ini pertama kali tayang di VICE News