Politik

Survei Bilang Sebagian Pemilih Muslim Ingin Indonesia Menjadi Seperti Timur Tengah

Kesimpulan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dianggap Fahri Hamzah tendensius terhadap umat muslim jelang Pemilu 2019. Namun, konservatisme harus diakui menguat beberapa tahun terakhir.
6.3.19
Peserta unjuk rasa di depan Kedubes AS dari elemen ormas Islam
Peserta unjuk rasa di depan Kedubes AS dari elemen ormas Islam. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA menyampaikan hasil penelitian terbaru, terkait pergeseran sentimen agama setelah enam bulan masa kampanye menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif 2019. Hasil penelitian tersebut mengejutkan: sekitar 3,5 persen pemilih di Indonesia yang disurvei berharap orientasi politik Indonesia semestinya meniru kondisi Timur Tengah atau negara-negara di kawasan Jazirah Arab.

Iklan

Bentar-bentar politik bagian mananya dulu nih? Timur Tengah tuh yang mana nih? Arab Saudi atau malah Turki?

Taruhlah maksudnya Saudi, hal apa sih yang ingin kita tiru dari Negeri Petro Dollar itu? Kan mereka kerajaan, sementara kita negara demokrasi. Selain itu, apakah maksudnya Indonesia perlu sering melakukan intervensi militer ke negara tetangga, menjalin hubungan rindu-dendam dengan Israel, serta membungkam kelompok oposisi?

LSI tidak mengelaborasi definisi Timur Tengah atau pertanyaan apa yang mereka ajukan ke responden. Tapi ada sentimen bahwa kondisi Timur Tengah lebih ideal bagi sebagian pemilih di Tanah Air. "Prabowo unggul di masyarakat muslim yang menginginkan Indonesia seperti Timur Tengah. Jadi dua hal itu kita bisa melihat memang ada pergeseran suara baik yang naik maupun juga yang turun," kata peneliti LSI Ardian Sopa dalam jumpa pers di Jakarta, pada 5 Maret 2019.

"Jokowi sendiri relatif agak turun di segmen FPI dan juga di PA 212 tapi naik di NU. Prabowo relatif stabil di NU, naik di PA 212 maupun di FPI."

Hasil survei tersebut ditanggapi negatif oleh Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, yang merupakan salah satu bagian dari tim pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga. Menurutnya kesimpulan yang dirilis LSI amat tendensius terhadap pemilih muslim di Indonesia.

"Denny JA itu tim sukses, dia bukan ilmuwan. Menurut saya surveinya mulai berbahaya karena memasukkan elemen-elemen adu domba antar warga negara," kata Fahri saat diwawancara oleh Tirto.id.

Iklan

Dalam paparannya, LSI menyebut ada 87,8 responden pemilih Muslim yang terlibat dalam penelitian mereka. Dari orientasi politik yang ditunjukkan lewat kuesioner, 84,7 persen yakin bahwa Indonesia harus tetap berpegang pada Pancasila, sisanya 1,1 persen menyebut Indonesia harus seperti negara Barat, dan 3,5 persennya menyebut Indonesia semestinya meniru Timur Tengah. Dari total 3,5 persen yang menginginkan Indonesia seperti Timur Tengah, 54,1 persennya merupakan pemilih Prabowo-Sandiaga, sisanya 45,9 persen mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Selisih angka yang tipis tersebut menunjukkan bahwa kedua kubu sama-sama didukung kelompok konservatif.

Pengaruh konservatisme agama adalah wacana politik yang dominan sejak Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017. Saat itu sentimen puritanisme agama digunakan sebagai alat pencari dukungan. Mobilisasi massa konservatif dalam julukan Aksi 212, berhasil membuat Basuki Tjahaja Purnama, gubernur petahana, mendekam di penjara selama dua tahun karena melakukan penodaan agama. Gerakan ini mengklaim berjasa mengantar pasangan Anies Baswedan-Sandiaga S. Uno memenangkan pilkada DKI. Gelombang demonstrasi umat muslim di Jakarta yang sukses mempengaruhi hasil pilkada sekaligus menjadi simbol kemenangan politik agama di kota paling plural di Tanah Air.

Dampak lanjutan dari pemakaian sentimen agama melebar ke banyak aspek politik. Sentimen penolakan terhadap etnis Tionghoa turut menguat. Narasi ‘pribumi’ dan ‘nonpribumi’ berulang kali dilontarkan politikus. Situasi jelang Pemilu 2019 masih sering diwarnai kampanye-kampanye emosional macam itu, dari kubu Prabowo ataupun Jokowi. Contohnya adalah persaingan buzzer memamerkan pasangan calon presiden dan wakil presiden mana yang lebih saleh atau siapa yang terlihat paling rajin pergi salat Jumat.

Iklan

Lailatul Fitriyah, kandidat doktor bidang Teologi dari University of Notre Dame, Amerika Serikat, saat diwawancarai VICE, menyoroti betapa politisasi agama di Indonesia akan selalu berkaitan erat dengan narasi politik ras. Tren ini menggejala di Indonesia sejak 10 tahun terakhir, dan semakin menguat akibat Pilkada DKI 2017.

"Kecenderungannya sekarang, beragama itu harus menjadi sesuatu yang vulgar dan ditampakkan, yang bisa dijual sebagai komoditi politik," kata Laily.

"Di situlah mengapa elemen masyarakat Arab yang dulu mengalami alienasi seperti etnis Cina, sekarang malah bukan hanya dimasukkan dalam 'pribumi', tapi menjadi prototipe ideal. Kalau kamu punya darah Arab, kamu berarti lebih Islam, kamu lebih orisinal, lebih pribumi."

Terlepas dari kritik valid Fahri, bahwa LSI mungkin tidak netral saat menggelar survei ini, kita harus mengakui adanya "keinginan meniru Timur Tengah" tak lahir dari ruang kosong. Sentimen macam itu, seandainya benar ada di benak sebagian masyarakat kita, adalah dampak keputusan politikus menggunakan basis agama dalam pertarungan politik praktis.