The VICE Guide to Right Now

Gonta-Ganti Pasangan Untuk Urusan Seks Tak Lebih Memuaskan Dari Monogami

Kepuasan dalam penelitian terbaru di Jerman dimaknai dari aspek seksual. Cuma 71 persen orang menganut hubungan poliamori merasa kehidupan seksualnya 'memuaskan'.
12.6.17
Sumber ilustrasi hubungan dari Pixabay.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Beberapa tahun belakangan, poliamori—alias komitmen menjalin hubungan terbuka bersama lebih dari satu pasangan dalam waktu bersamaan—dianggap anak-anak muda berbagai negara sebagai solusi terbaik pacaran jarak jauh. Ketika pasangan mengizinkanmu mengencani orang lain, peluang LDR sukses diklaim lebih besar serta menghapus kecemburuan yang biasanya memicu percintaan kandas. Hanya saja respons positif terhadap poliamori, berdasarkan penelitian yang belum lama ini dipublikasikan, belum berbanding lurus untuk urusan kepuasan seksual. Setidaknya kesimpulan tersebut dibangun berdasarkan pengalaman responden dari negara-negara Uni Eropa.

Iklan

Merujuk artikel yang dilansir Quartz, Pusat Studi Dalia berbasis di Kota Berlin, Jerman, menggelar survei melibatkan kurang lebih 11.000 orang dari seluruh negara Uni Eropa. Dari jajak pendapat tersebut, disimpulkan bila pasangan monogami (baik yang menikah maupun kumpul kebo tapi dengan komitmen hanya pada satu orang) merasa kehidupan seksualnya lebih memuaskan, dibanding orang yang menjalani poliamori.

Penelitian ini dipublikasikan Mei 2017, menyatakan 82 persen responden yang menjalani monogami merasa kehidupan seksualnya memuaskan. Sementara 'cuma' 71 persen responden melakoni hubungan poliamori yang puas untuk perkara hubungan seks. Sayangnya, ketika membahas lelaki dan perempuan single, data yang ada langsung nyungsep jadi agak depresif. Penelitian tersebut masih menggambarkan para jomblo (setidaknya di Uni Eropa) merasa kurang bahagia dalam kehidupan seksual. Hanya 48 persen responden yang tidak sedang menjalin hubungan (maupun mencari pacar/calon suami/istri) yang merasa bahagia dengan kehidupan seksualnya saat ini. Angkanya turun jadi 40 persen untuk lelaki dan perempuan single dalam survei ini yang berminat mencari pasangan, yang mengaku puas dengan keadannya sekarang.

Tentu saja, jika kita membicarakan hubungan yang membahagiakan, seks bukan satu-satunya faktor. Studi sejenis baru saja dipublikasikan di Jurnal Perspectives on Psychological Science. Para peneliti University of Michigan menyatakan pasangan poliamori lebih sukses terhindar dari persoalan cemburu dan lebih mempercayai pasangan, dibanding pasangan monogami. Dengan begitu, dapat diasumsikan untuk sementara orang yang bebas gonta-ganti pasangan dan tak menjalani komitmen hanya pada satu orang tak kalah bahagia dari sejawatnya.

Survei yang digelar Dalia turut mencari tahu seperti apa karakter hubungan romantis para responden. Dari sana, disimpulkan bila rata-rata responden merasa periode kehidupan seks mereka yang paling membahagiakan terjadi pada usia 25 hingga 30 tahun, baik untuk perempuan maupun lelaki. Warga Spanyol memiliki rerata tertinggi untuk aspek kepuasan seksual di Uni Eropa, sementara posisi buncit dihuni penduduk Polandia. Hanya 23 persen responden asal Polandia merasa "sangat puas" dengan kehidupan seks mereka.

Patut diingat, walaupun survei ini menggambarkan kepuasan seksual responden, hasilnya tidak bisa dijadikan patokan untuk seluruh dunia. Di Amerika Serikat, kebanyakan millenials tak lagi tertarik berhubungan seksual dengan lawan jenis. Sementara kalau kita lihat hasil jajak pendapat di Indonesia, kondisi masih cukup "menggembirakan". Survei Durex lima tahun lalu menunjukkan 85 persen respondenTanah Air puas dengan kehidupan seksual mereka. Angka ini jauh lebih tinggi dari 38 negara lainnya, termasuk Jepang, Cina, ataupun Singapura dari sesama negara Asia. Survei lain yang dipublikasikan tahun ini menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu bangsa paling aktif secara seksual sedunia. Barangkali yang harus dicari tahu ke depan adalah berapa banyak anak muda Indonesia yang sekarang meyakini poliamori sebagai solusi kebahagiaan dalam percintaan, melebihi format hubungan monogami.