Facebook

Akun Facebook Akan Diperingkat Berdasar Kredibilitas, Tapi Metodenya Belum Jelas

Facebook ingin memerangi hoax dan disinfomasi, hanya saja akankah ini efektif? Seleb Facebook dan admin page yang suka nyebar info pasti pada was-was nih.
23.8.18
Image: Shutterstock; Composition: Motherboard

Sistem ranking adalah tulang punggung kehidupan sosial di internet. Sistem ini membantu kita menentukan makanan apa yang kita pesan lewat layanan ojek online, apa yang kita tonton di Netflix hingga vendor Amazon mana yang barangnya kita beli bakal beli. Dalam waktu dekat, sistem ranking sepertinya juga akan berperan besar dalam menentukan siapa yang bisa kita percaya di sosial media.

Seperti yang dilansir dari Washington Post, Facebook akan segera menerapkan sistem ranking baru yang menilai kredibilitas seorang penggunanya dengan skala nol sampai satu. Raksasa media sosial ini mengklaim bahwa sistem ranking ini sejatinya adalah salah satu bentuk upaya untuk memerangi misinformasi yang disebarkan akun-akun bodong.

Iklan

Hingga kini, pengembangan sistem ranking baru ini dirahasiakan guna mencegah pihak yang tak bertanggung jawab menemukan celah sistem tersebut, terang Facebook product manager, Tessa Lyons kepada Washington Post. Menurut Lyons, sistem ranking hanyalah salah satu upaya dari ribuan petunjuk yang digunakan Facebook untuk menilai tingkat kepercayaan seorang pengguna dan konten dia buat.

Sebelumnya, Facebook hanya mengandalkan laporan pengguna mengenai misinformasi dan konten-konten yang menyalahi aturan Facebook. Laporan-laporan tersebut kemudian diteruskan kepada para pemeriksa fakta independen. Awal tahun ini, Facebook meluncurkan sebuah program yang memungkinkan penggunanya menilai kredibilitas sebuah berita dalam feed mereka.

Sayangnya, fitur ini kerap disalahgunakan oleh pengguna yang sengaja melaporkan berita yang benar sebagai berita abal-abal. Akibatnya, keabsahan sebuah postingan kembali ditentukan oleh filter otomatis yang dipasang Facebook.

"Kalau pengguna melaporkan unggahan yang bodong saja sih, fitur ini akan bekerja dengan mulus," ujar Lyons seperti yang dikutip Washington Post. "Masalahnya, orang sering melaporkan postingan hanya karena isinya tak mereka sepakati."

Kini, Facebook sepertinya mulai menggunakan analisa yang lebih canggih untuk mengenali konten-konten berbahaya, namun kriteria yang digunakan masih sangat dirahasiakan.

"Salah satu sinyal yang kami pakai adalah bagaimana pengguna berinteraksi dengan artikel yang diunggah," ungkap Lyons. "Misalnya, jika seorang pengguna memberikan feedback bahwa sebuah artikel sejatinya hoaks dan hal itu dibenarkan oleh seorang pemeriksa fakta, maka kami akan lebih mempercayai feedback pengguna ini di kemudian hari, daripada feedback yang orang secara serampangan menilai banyak artikel di Facebook abal-abal, termasuk artikel yang pada kenyataannya sahih."

Menurut Washington Post, Lyons menolak menyebut contoh sinyal lainnya untuk menentukan kredibilitas seorang pengguna demi melindungi keampuhan sistem pemeringkatan akun tersebut.

Saat banyak perusahan raksasa di Silicon Valley seperti Google dan Twitter kelabakan memerangi misinformasi di platform mereka, sistem ranking baru ini setidaknya adalah sebuah upaya untuk menemukan solusi yang tepat, meski keampuhannya belum terbukti. Di saat yang sama, kemungkinan kredibilitas seseorang bakal ditentukan algoritma adalah dalih kuat bagi sebagian orang untuk meninggalkan Facebook selama-lamanya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard