Ilmuwan Tak Sengaja Menemukan Jamur Berumur 115 Juta Tahun
Tentu ini cuma ilustrasi, jamurnya udah jadi fosil. Sumbe foto: Bernard Spragg. NZ/Flickr/Pixabay. Tambahan ilustrasi oleh Lisa Cumming.
magic mushroom

Ilmuwan Tak Sengaja Menemukan Jamur Berumur 115 Juta Tahun

Gila ya, ini sih resmi jadi jamur tertua di dunia.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Sekitar 115 juta tahun lalu, di superbenua kuno bernama Gondwana, sebuah jamur kecil jatuh ke sungai, terbawa arus masuk ke laguna air asin, dan terpendam dalam endapan untuk waktu yang lama. Setelah menemukan sisa dari jamur Cretaceous di Brasil, peneliti menyatakannya sebagai fosil jamur tertua di dunia.

Paleontolog Sam Heads, yang mendalami penelitian fosil serangga sedang sibuk membuat arsip digital spesimen dari Zaman Crato (atau disebut crato formation) ketika dia menemukan benda berwarna oranye-coklat. Benda itu membuatnya penasaran. “Saya menelitinya menggunakan mikroskop, dan melihat struktur yang menyerupai insang. Ada bagian topi dan batangnya,” kata Heads, yang bekerja di Illinois Natural History Survey. “Saya pikir wah, ini terlihat seperti sebuah jamur.”

Iklan

Fosil jamur yang kini diawetkan. Foto oleh Jared Thomas/ilustrasi oleh Danielle Ruffatto

Menemukan tulang belulang dinosaurus berumur jutaan tahun memang seru, tapi menemuka jamur dari Periode Kapur awal, ketika Bumi masih dihuni dinosaurus dan tumbuhan berbunga adalah penemuan luar biasa. “Jamur umurnya sangat pendek,” kata Heads saat kami hubungi via telepon. “Seringkali, tumbuhan ini mati dalam hitungan hari.”

Nyatanya jamur ini bertahan jutaan tahun, berkat lingkungan yang mendukung. “Hanya ada sekitar 10 fosil jamur yang pernah ditemukan,” kata Heads. Fosil jamur diawetkan menggunakan amber, ketika getah pohon menetes jatuh ke tanah hutan dan mengawetkan mereka. (Jamur tertua kedua umurnya sekitar 100 juta tahun, menurut penjelasan Heads.)

“Crato Formation sangat unik dalam hal pengawetannya,” tambah Heads ketika menjelaskan jamur kuno temuannya. Penelitiannya, dibantu oleh penulis Andrew Miller, seorang ahli jamur dan tanaman kuno, dijelaskan dalam sebuah makalah akademik dalam PLOS ONE.

Jamur ini berada di tengah bagian Gondwana ketika superbenua itu mulai terpisah laut di awal zaman Cretaceous.

Jadi jamur ini bisa dimakan atau beracun? Apakah dinosaurus dulu melahap jamur ini atau justru menghindari? Sayangnya, pertanyaan ini belum bisa dijawab. Menurut Heads, dia dan Miller kesulitan mengklasifikasikan penemuan mereka ke dalam keluarga jamur tertentu karena mereka tidak yakin. (Namun, mereka berspekulasi bahwa jamur temuan mereka terlihat mirip dengan keluarga Strophariacae)

“Saya sudah mendalami bidang penelitian Crato Formation selama 15 tahun,” kata Heads. “Saya belum pernah melihat sesuatu seperti jamur tersebut. Spesimen ini memberikan pencerahan pada ilmu pengetahuan kita tentang Bumi di masa lalu.”