Perempuan Muda Dari Jalur Gaza Merekah di Tengah Penindasan
Alle billeder af Monique Jacques

Perempuan Muda Dari Jalur Gaza Merekah di Tengah Penindasan

Lewat proyek foto ‘Perempuan Gaza’, Monique Jacques berusaha menumbuhkan rasa empati lebih mendalam komunitas internasional kepada wilayah konflik ini.
25.8.17

Sejak 2012, jurnalis foto asal Turki, Monique Jaques menyambangi Jalur Gaza, Palestina, untuk mendokumentasikan Operasi Pilar Pertahanan—salah satu dari banyak peperangan antara tentara Israel dan simpatisan Hamas. Awalnya Jacques hanya meniatkan seri foto ini sebagai proyek delapan hari. Belakangan, Gaza Girls: Growing Up in the Gaza Strip, berubah menjadi proyek dokumentasi kehidupan perempuan muda yang tumbuh di tengah wilayah yang riuh rendah. Proses pengambilan gambarnya molor hingga lima tahun. Jaques termotivasi oleh kegigihan, determinasi, dan gairah yang ditunjukan para perempuan muda Gaza biarpun harus hidup di tengah daerah yang penuh pergumulan setiap harinya.

"Kota Gaza adalah wilayah yang bermasalah, dan tumbuh disana tidak mudah. Gaza adalah distrik seluas 72 kilometer persegi, dikelilingi oleh dinding beton tinggi anti-ledakan, kawat berduri dan tentara asing yang berjaga di perbatasan," ingat Jaques tentang waktu yang dia habiskan disana. "Setelah bertahun-tahun diblokade dan dibekukan oleh larangan travel, wilayah ini menjadi terisolasi dan terpisah dari seluruh dunia. Di malam hari, dengungan bunyi drone yang konstan menjadi semacam lagu pengantar tidur. Apabila kamu berdiri di pantai, kamu bisa melihat cahaya dari Israel—daratan yang tidak pernah akan bisa kamu capai. Perbatasan dan pengawasan menjadi bagian dari eksistensi hidup."

Doaa bersantai di kamar temannya. Perempuan yang belum menikah hanya memiliki beberapa tempat dimana mereka bisa menjadi dirinya sendiri. Kamar tidur dan mobil pribadi adalah tempat aman dimana perempuan bisa bernyanyi dan menari tanpa dihakimi oleh publik atau keluarga mereka sendiri

Hasilnya adalah hidup penuh pemeriksaan dan tekanan. Jalur Gaza—sedikit lebih besar dari Surabaya, dan ditinggali oleh lebih dari 2 juta penduduk—ditinggali terlalu banyak orang dan mungkin tidak jauh berbeda rasanya dengan tinggal di dalam penjara, menurut Jaques. Mengingat semua orang tinggal bersama dalam ruang sempit, tidak banyak ruang untuk privasi. "Belum lagi adanya elemen Islam konservatif dan anggota keluarga yang bosan dan mencari-cari gosip buat hiburan. Tidak heran banyak ketegangan dan tekanan bagi anak-anak perempuan untuk mencari tahu jati diri mereka," kata Jaques.

Bagi Jaques, proyek ini bukan hanya sekedar mencari gadis muda untuk difoto sebelum dia berlanjut ke tugas selanjutnya—tapi bagaimana menciptakan hubungan antara gadis-gadis belia yang dia temui. "Saya bekerja perlahan-lahan. Saya ngobrol dengan banyak dari anak-anak perempuan dan mengenal mereka dengan baik sebelum mulai mengambil foto. Banyak dari mereka sudah saya kenal bertahun-tahun lamanya, tapi saya selalu bertemu wajah-wajah baru." Karena tidak memiliki tenggat waktu, Jaques sanggup memanfaatkan waktunya untuk membuat proyek ini sangat pribadi. Bagian favoritnya adalah kembali ke Gaza dan melihat perkembangan para wanita muda itu dan bagaimana kehidupan mereka berubah. "Minggu lalu, ketika saya kembali, salah satu perempuan yang saya foto sudah memiliki seorang bayi!"


Simak liputan khas lainnya tentang kehidupan manusia di Jalur Gaza:

Jaques berharap proyek Gaza Girls bisa menampilkan sisi lain dari konflik Israel-Palestina yang jarang disentuh media. Bahkan, kalau bisa memberi pemahaman yang lebih baik tentang wilayah tersebut kepada orang luar, lalu menumbuhkan rasa empati yang lebih besar. "Mereka semua hanya anak perempuan biasa, sama seperti saya dan kamu," kata Jaques. "Mereka hidup di dalam situasi penuh konflik yang rumit, tapi mereka berpikir dan bermimpi sama seperti manusia lainnya."

Setelah berinteraksi dan bertemu para perempuan muda Gaza, Jaques menyadari ada banyak kesamaan di antara perempuan-perempuan belia yang menjadi obyek fotonya—mulai dari ketertarikan dengan pakaian dan makeup hingga teman-teman cowok di sekolah. "Mereka memiliki keinginan untuk melihat dunia dan menjadi mandiri, sama seperti saya ketika seumuran mereka," kata Jaques. "Tapi ketika banyak orang di dunia berhasil mewujudkan mimpi-mimpi ini, mereka tidak mendapat kesempatan yang sama."

Perempuan Gaza memamerkan kutek bertema Palestina setelah sebuah kampanye pemboman terjadi baru-baru ini.

Beberapa jam setelah gencatan senjata dideklarasikan antara Hamas dan Israel, penduduk kota Gaza mulai membangun kembali kota mereka. Toko-toko dibuka kembali dan penduduk berhamburan ke luar untuk meyaksikan kerusakan yang diakibatkan serangan.

Nisreen Shawa, sukarelawan untuk Palestinian Medical Relief Foundation menemani pelajar Sekolah Hamza Bin Abd-el Muttalib. Mereka melakukan terapi seni dan olah raga bareng tidak lama setelah pengeboman terjadi.

Di sebuah salon di Kota Gaza, perempuan datang untuk mempersolek rambut, kuku dan menggunakan makeup sebelum menikah. Di tradisi banyak keluarga, seorang perempuan tidak diperbolehkan dilihat pria selain keluarga tanpa mengenakan kerudung, maka dari itu salon kecantikan hanyalah khusus untuk wanita.

Mahasiswi jurusan keperawatan dari Islamic University bersenda gurau saat istirahat di Bangsal Bersalin di Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza.

Yara dan adik lelakinya menunggu ayah mereka kembali membawa Shawarma sebagai santapan makan malam setelah konflik usai.

Hadeel Fawzy Abushar, 25 tahun, merekam sebuah lagu di studio di Kota Gaza. Tidak banyak penyanyi perempuan yang tersisa karena ini profesi yang dipandang rendah oleh keluarga dan pemerintah. Hade

Madleen Koolab membawa penduduk Gaza mengarungi laut di malam Kamis, kegiatan yang populer bagi keluarga-keluarga. Madleen memiliki kapalnya sendiri dan menggunakannya untuk memancing di waktu lain.

Bagi banyak warga Gaza, laut adalah satu-satunya tempat dimana mereka bisa merasa bebas. Sabah Abu Ghanem, 14 tahun dan kakak perempuannya hobi surfing pagi-pagi subuh di luar kota Gaza. Kakak-beradik ini sering menjuarai kompetisi surfing di dalam jalur Gaza tapi belum pernah keluar untuk berkompetisi di wilayah lain.

Manekin di toko pakaian dekat jalan utama kota Gaza

Dua remaja perempuan menonton matahari terbenam di pelabuhan kota Gaza. Tinggal di Gaza memang berat, tapi lebih berat lagi apabila kamu perempuan.

Yara dan teman-temannya menyiapkan sebuah tarian ketika sedang mati lampu. Bahan bakar sangat langka di Gaza, dan banyak keluarga hanya menerima jatah listrik enam hingga delapan jam sehari.

Telepon berbentuk bibir dan sebuah sajadah tergeletak di ujung ruangan ketika sedang mati lampu.

Perempuan berjalan melewati dinding mural yang melarang kekerasan domestik terletak di luar rumah sakit Al-Shifa. Menurut penelitian tahun 2012. Dilaporkan 37 persen dari perempuan Gaza menjadi korban kekerasan domestik suami mereka.

Remaja perempuan bermain sepakbola di utara kota Beit Lahiyah. Perempuan di Gaza memainkan segala jenis olahraga hingga menginjak umur 16 tahun ketika keluarga mulai menyuruh mereka berhenti dan mencarikan mereka calon suami.

Follow Clara Mokri dan Monique Jaques di Instagram.