Band Legendaris

Bikini Kill Kembali Aktif Pada 2019, Sebab Pesan Musik Mereka Tidak Pernah Luntur

Teriakan mereka 'Revolution Girl Style Now!' akan terus abadi dalam kancah punk global.
Lauren O'Neill
London, GB
Kathleen Hanna dari Bikini Kill saat konser Desember 2016 lalu
Foto Kathleen Hanna dari Bikini Kill via Wikimedia

 

Saya bisa saja menulis beribu-ribu kata tentang bagaimana reuni band punk rock legendaris Bikini Kill yang baru saja diumumkan pekan lalu rasanya sangat pas momennya. Mungkin tidak ada lagi kebangkitan yang lebih ditunggu-tunggu, selain kelompok yang musik dan pesannya selalu menjadi detak jantung kolektif-kolektif perempuan di dunia ini.

Berkat teriakan mereka yang senantiasa kencang, serta kata 'SLUT' alias pelacur yang sengaja ditulis di perut mereka pakai spidol, Bikini Kill sukses menjadi salah satu simbol feminitas dunia musik paling kuat. Mereka juga termasuk kolektif yang paling memberontak dalam sejarah punk.

Iklan

Bisa dibilang, kebangkitan mereka saat ini terasa lebih mendesak. Tentu saja signifikansi Bikini Kill terhadap blantika musik tidak hanya berhenti sampai di situ.

Selama hampir 30 tahun, musik Bikini Kill telah menjadi semacam jimat bagi orang-orang yang ditindas akibat kefemininan mereka. Pada 1990, drummer Tobi Vail dan bassis Kathi Wilcox menciptakan seksi ritme yang penuh kemarahan bercampur dengan raungan khas vokalis Kathleen Hanna dan menolak tunduk akan komunitas punk Washington yang patriarkis.

Musik mereka (bersama Bratmobile, Heavens to Betsy, dan Huggy Bear, yang membentuk komunitas berpengaruh yang dikenal sebagai riot grrrl) spesial karena dibangun atas dasar bahwa elemen yang digunakan untuk memarginalkan kefemininan justru bisa digunakan sebagai senjata. Di chorus lagu “Double Dare Ya,” dari rilisan kaset 1991 Revolution Girl Style Now! Hanna berteriak:

Dare you to do what you want
Dare you to be who you will
Dare you to cry, cry out loud
I get so emotional, baby

Bait tersebut lumayan dikenal dalam katalog Bikini Kill karena terasa seperti sebuah manifesto tentang band itu sendiri—dan juga riot grrrl secara umum. Lama setelah mereka bubar pada 1997, lirik tersebut terus mendengking di telinga para penggemar musik muda. Kemarahan yang terpancar dari karya mereka tidak pernah kehilangan energi atau semangatnya.

Kita membutuhkan Bikini Kill pada 2019 bukan hanya karena situasi kultural kita saat ini, tapi karena memang kita akan selalu butuh mereka. Gerakan #MeToo didasarkan atas realisasi bahwa pertarungan melawan patriarki dalam kehidupan sehari-hari kini sudah aman dibicarakan secara publik tanpa harus merasa malu. Akibatnya, dunia telah berubah. Namun sebelum itu, band-band seperti Bikini Kill lah yang berani mengucapkan hal-hal yang tidak bisa kita artikulasikan dan menjadi penyalur bagi rasa bingung dan kemarahan dari orang-orang yang suaranya tidak didengar dunia.

Iklan

Popularitas Bikini Kill sebagai garda depan gerakan riot grrrl juga membuat mereka mudah ditemukan oleh remaja-remaja yang haus akan alternatif dari rock yang didominasi lelaki. Mereka adalah jalan masuk ke dalam sudut pandang dunia yang baru bagi banyak orang. Musik Bikini Kill juga banyak mengedukasi pendengar tentang politik gender yang radikal dan memperkenalkan kita semua ke musik-musik lain dengan pesan yang serupa.

Bikini Kill membuat saya merasa diberikan izin untuk mengekspresikan perasaan saya, di tengah komunitas punk hardcore yang mayoritasnya lelaki, dan bahwa perasaan saya berharga dan layak dieksplorasi lebih jauh. Dan pastinya bukan hanya saya yang merasa seperti ini.

Kita membutuhkan Bikini Kill sekarang karena kita memang selalu butuh mereka. Kita butuh lebih banyak perempuan maju ke depan, lebih banyak kefemininan di atas panggung, lebih sedikit machismo dalam musik rock, dan gaung perempuan yang lebih keras dalam cara apapun.

Bikini Kill menunjukkan kita semua bahwa ini bisa dilakukan pada 1990—dan kalaupun mereka tidak reunian tahun ini, pesan mereka tidak akan pernah luntur. Revolution Girl Style Now? Mungkin lebih pas Revolution Girl Style Forever.


Kalian bisa mengajak Lauren diskusi soal Bikini Kill lewat Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey