LGBTQ

Lewat Referendum, Rakyat Taiwan Menolak Legalisasi Pernikahan LGBT

Tujuh juta penduduk memberi suara, Taiwan batal jadi negara pertama di Asia mengesahkan perkawinan sejenis. Sebagian pegiat komunitas gay menganggap hasil ini tidak sepenuhnya buruk.
Referendum legalisasi pernikahan LGBT di Taiwan
Seorang pendukung legalisasi pernikahan LGBT menangis setelah hasil referendum dirilis. Foto oleh Reuters

Meski selama dua dekade belakangan dikenal atas sikap pemerintah maupun masyarakatnya yang relatif progresif terhadap perlindungan minoritas seksual Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual, dan Queer (LGBTQ), mayoritas rakyat Taiwan rupanya memilih opsi "tidak" terhadap kebijakan legalisasi perkawinan sejenis dalam referendum nasional yang digelar 24 November lalu.

Sepertiga masyarakat Taiwan yang berhak memilih—sebanyak 7 juta orang— menganggap pasangan sejenis tidak perlu diizinkan menikah secara legal. Hasil referendum ini otomatis menodai reputasi Taiwan sebagai salah satu negara Asia paling toleran terhadap komunitas LGBTQ.

Iklan

Tiga referendum diusulkan oleh grup-grup konservatif melebihi titik 25 pesen, salah satu poin yang dimintakan pendapat rakyat adalah penetapan hukum baru bagi pernikahan sejenis dalam revisi UU Perkawinan Taiwan. Kedua referendum pro-perkawinan sejenis hanya berhasil mengumpulkan 3 juta suara dan gagal mencapai jumlah suara minimal untuk diloloskan ke parlemen.

Ironisnya, Mahkamah Agung Taiwan sebetulnya sudah mendukung perkawinan sejenis pada Mei lalu. Hakim agung menyatakan pernikahan sejenis tidak melanggar UU. Namun, agar bisa berkekuatan hukum tetap, rencana revisi UU perkawinan wajib disetujui rakyat dan parlemen dalam waktu tiga bulan sejak diusulkan. Tahap pertama untuk memuluskan revisi itu kandas akibat hasil jajak pendapat akhir pekan lalu.

Komunitas dan pegiat LGBT lokal terkejut melihat respons mayoritas rakyat Taiwan terhadap isu pernikahan sejenis. "Harus diakui, hasil jajak pendapat ini merupakan kemunduran bagi gerakan hak LGBTQ," kata Jay Lee, juru bicara Parade Kebanggaan LGBTQ Kaohsiung, kepada VICE. Jay dan teman-temannya berkumpul saat pengumuman referendum di sebuah bar, agar bisa mengikuti parade pride pada hari berikutnya.

"Aku tahu banyak orang Taiwan tidak mendukung homoseksualitas, tapi aku tidak menyangka hampir 40 persen masyarakat Taiwan tidak mendukung perkawinan sejenis," ucap Lee, yang kecewa dengan keputusan mayoritas rakyat Taiwan. "Mayoritas di negara ini rupanya tetap tidak mau memperlakukan kami selayaknya manusia."

Iklan

Chi Chia Wei, pelopor advokasi hak LGBT di Taiwan selama tiga puluh tahun terakhir, punya pendapat berbeda mengenai hasil jajak pendapat tersebut. Menurutnya, hasil ini memang kekalahan bagi kelompok pro-perkawinan sejenis, tapi bisa juga dilihat sebagai "kemenangan" bagi minoritas seksual di Taiwan.

Berdasarkan pengalamannya, tiga puluh tahun lalu, hanya 1 dari 50 orang yang mendukung perkawinan sejenis. Sekarang, angka itu menjadi 1 dari 3 orang. "Aku senang melihat persentase pandangan anti-gay sudah menurun secara drastis di negara ini," kata Chi.

"Selama puluhan tahun, kami berjuang hanya demi hak menikah, bukan demi hak diistimewakan. Tapi karena kita tidak mendapatkan kesetaraan perkawinan, setidaknya kini kami optimis bisa meminta keuntungan-keuntungan lain melalui mekanisme hukum terpisah," kata Chi kepada VICE.

Adapun, bagi grup-grup anti-perkawinan sejenis, hasil referendum ini disambut gembira. Yu Hsin Yi, juru bicara Koalisi Kebahagiaan Generasi Penerus Bangsa yang anti-LGBTQ, saat dihubungi VICE menyatakan hasil pemilihan tersebut adalah kemenangan bagi semua orang yang menghargai nilai-nilai keluarga tradisional. "Kami tetap akan melindungi hak-hak komunitas gay tanpa perlu memasukkan mereka ke dalam undang-undang, perkawinan," ucap Yu.

Menurut Wen Lang Dung, pengamat politik setempat, hasil referendum menunjukkan bahwa Taiwan belum siap menerima perkawinan sejenis. "Isu ini telah membelah opini di Taiwan," katanya. Menurutnya, masih ada banyak masalah yang belum terselesaikan.

Iklan

"Misalnya, tidak mudah menciptakan undang-undang khusus untuk memuaskan kedua belah pihak," Menurut referendum yang dilaksanakan, pasangan-pasangan sejenis mungkin berhak atas perlindungan hukum, tetapi tidak boleh menikah.

Kelompok advokasi LGBTQ membulatkan tekad mereka untuk tidak menyerah, kendati hasil referendum menolak agenda mereka.

"Kami akan terus berjuang demi kesetaraan," ujar Lee.

Demikian lah. Di Taiwan, perjuangan agar terwujud kesetaraan pernikahan bagi minoritas seksual terus berlanjut.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.