Ilmuwan Kembali Rilis Laporan Mengerikan tentang Fakta Pemanasan Global

Ilmuwan sepakat 2019 adalah tahun terpanas kedua yang pernah tercatat, membuat dekade 2010-an menjadi yang terpanas dalam sejarah dunia.
17.1.20
Laki-laki berjemur di Goose Lake, Alaska
Laki-laki berjemur di Goose Lake, Alaska karena suhu Bumi makin panas. Foto via Getty Images

Laporan suhu tahunan NASA dan NOAA menunjukkan sejumlah tempat di Bumi merasakan suhu udara yang lebih panas daripada sebelumnya sepanjang 2019. Para ilmuwan memperingatkan peningkatan ini tak bisa diputarbalikkan.

Ini pertama kalinya suhu rata-rata di Alaska melampaui titik terbeku. Sementara itu, suhu Australia mencapai rata-rata 1,5 derajat Celsius pada 2019.

Secara keseluruhan, laporan yang diterbitkan Rabu menyimpulkan 2019 adalah tahun terpanas kedua yang pernah tercatat. Paruh terakhir dekade juga masuk rekor terpanas. Suhu lima tahun berturut-turut juga menjadi yang terpanas. Menurut ilmuwan, emisi gas rumah kaca hasil aktivitas manusia adalah penyebab utama pemanasan ini.

“Suhu zaman es terakhir—ketika Amerika Utara dan sebagian besar Eropa masih tertutup es—lima derajat lebih dingin daripada planet pra-industri,” kata Gavin Schmidt, direktur Goddard Institute for Space Studies NASA, kepada VICE News.

“Suhunya sudah naik seperlima sekarang,” imbuhnya. “Bukan angka yang kecil buat planet kita.”

Selain Alaska dan Australia, suhu Polandia dan sejumlah negara lainnya di Eropa Timur juga memecahkan rekor. Sama halnya dengan Madagaskar, Selandia Baru, beberapa wilayah Afrika Selatan, dan Amerika Selatan bagian timur. Banyak masalah lingkungan yang mungkin terjadi akibat peningkatan suhu global. Gletser mencair pada tingkat tinggi di Greenland. Intensitas badai dan topan menjadi lebih kuat. Kebakaran hutan akan semakin parah dan sering terjadi.

Bumi mengalami penghangatan setiap tahunnya, dan ilmuwan mengultimatum tak akan bisa turun. Jangan mentang-mentang sekarang tidak sepanas 2016, terus bisa diartikan suhu mengalami pendinginan.

“Bumi mengalami pendinginan sejak 2016 itu omong kosong,” ujar Schmidt.

Peningkatan suhu ini membuktikan tren pemanasan global nyata dan dapat diukur. European Copernicus Climate Change Service dan Kantor Meteorologi Inggris juga mencatat 2019 adalah tahun terpanas kedua sepanjang sejarah. Tahun lalu, lautan menyerap lebih banyak panas daripada sebelumnya — panasnya setara dengan lima ledakan bom Hiroshima per menit sepanjang tahun.

“Kami sebenarnya sudah lelah melaporkan hal yang sama setiap tahun,” lanjut Schmidt. “Tapi, kami takkan berhenti sampai jumlah emisi berhasil dikendalikan.”

Persetujuan Paris 2015 dibuat agar pemerintah terdorong untuk mencegah kenaikan suhu global supaya tidak melebihi 2 derajat Celsius. Akan tetapi, para ilmuwan di Perserikatan Bangsa-Bangsa baru saja menemukan bahwa perbedaan antara 1,5 dan 2 derajat cukup signifikan.

Pada 1,5 derajat, 350 juta orang akan kekurangan air; pada 2 derajat, 410 juta lebih orang kehilangan akses air bersih. Terumbu karang masih bisa bertahan hidup pada 1,5 derajat pemanasan, dan semuanya akan mati pada 2 derajat.

“Mustahil rasanya bisa tetap berada di bawah 1,5 derajat,” tutur Schmidt. “Bukan karena alasan fisik, tapi karena alasan sosiologis.”

Namun, ilmuwan menekankan agar kita tidak putus asa ketika melihat angka-angka itu.

“Membuat keputusan menyelamatkan bumi bisa dilakukan pada tahapan mana saja,” terangnya. “Setiap kenaikan derajat penting untuk diperhatikan.”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard