Pengakuan Perawat RPSI Sulianti Saroso Merawat Pasien COVID-19 Selama Pandemi Corona
RSPI Sulianto Saroso membangun tenda darurat sebagai tempat kerja tenaga nonmedis di halaman depan, selama pandemi covid. Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin/VICE
Pandemi Corona

Kisah Perawat di Garis Depan Pandemi, Merawat Harapan Sekaligus Kewarasan

Di kala pandemi perawat wajib jadi sahabat bagi pasien yang sendirian, namun seperti kasus di Semarang terancam ditolak warga saat gugur. Perawat di RSPI Sulianti Saroso berbagi keluh kesahnya pada VICE.
10.4.20

Artikel ini adalah bagian kedua, sekaligus terakhir, liputan VICE tentang pejuang di garis depan pandemi corona dari sudut pandang perawat di RSPI Sulianto Saroso. Laporan sebelumnya mengangkat sudut pandang Palang Hitam dan pekerja TPU Tegal Alur.


Mereka yang bekerja sebagai tenaga medis punya satu kredo dalam melakoni profesinya: tidak bakal menolak pasien yang butuh pertolongan. Sayangnya, di Jakarta yang tengah menjadi titik pusat pandemi corona, penolakan demi penolakan yang pahit terpaksa diambil.

Di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, semua ruangan—termasuk instalasi gawat darurat—sekarang diubah menjadi ruang isolasi pasien virus corona. Sebanyak 150 tempat tidur di 60 ruang isolasi yang tersedia di RSPI saat ini hanya diisi oleh pasien khusus Covid-19.

Saking terbatasnya hingga pihak rumah sakit lebih memprioritaskan pasien dalam kondisi parah untuk menjalani rawat inap. Pasien dengan gejala atau kondisi ringan diimbau untuk mengisolasi diri secara mandiri atau menjalani perawatan di rumah sakit rujukan lain.

"Kami beberapa kali terpaksa menolak pasien," kata Derpina Sinaga, seorang perawat di RSPI, kepada VICE. "Di sini selalu ada antrean [pasien], jadi berdasarkan prioritas saja."

Derpina terhitung perawat veteran. Dia bercita-cita menjadi seorang polwan, tapi tinggi badannya tak memenuhi syarat. Sempat putus asa, orangtuanya menyuruh Derpina masuk sekolah perawatan saja. Sebuah keputusan yang tak pernah disesalinya sampai sekarang.

Dia bekerja sebagai perawat sejak 2007 setelah lulus dari Akademi Perawat Cikini, Jakarta. Pada 2008, Derpina diterima sebagai perawat di RSPI lewat jalur penerimaan pegawai negeri sipil. Saat wabah Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus (Mers-Cov) merebak pada 2012 hingga 2015 di Timur Tengah, Eropa, dan sebagian wilayah Asia, Derpina turut berada di garis depan.

Pihak RSPI mencatat ada 17 pasien diduga terjangkit Mers-Cov dengan riwayat perjalanan ke Timur Tengah dalam kurun 2014-2015. Kala itu pemerintah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk mengingat jumlah WNI yang melaksanakan ibadah haji atau umrah setiap tahunnya. Namun tak ditemukan kasus positif Mers-Cov di Indonesia.

"Sekarang [pandemi Covid-19] amat berbeda [dengan wabah Mers-Cov]," kata Derpina, perempuan asal Pematangsiantar, Sumatra Utara. "Kami tak tahu apa yang sedang dihadapi saat ini. Kapan ini akan berakhir?"

Merujuk data yang ada, puncak terburuk pandemi bahkan belum terjadi di Tanah Air.

Dari data statistik yang dimiliki Pemprov, ada hampir 4.400 pemakaman sepanjang Maret 2020, alias kenaikan 40 persen dari bulan-bulan sebelumnya. Muncul kekhawatiran bahwa angka kematian akibat virus corona jauh lebih besar ketimbang apa yang telah dilaporkan.

DKI Jakarta menjadi episentrum dengan penyebaran coronavirus tertinggi di seluruh Indonesia. Hingga awal April, tercatat sebanyak 20.532 orang telah mengikuti pemeriksaan cepat (rapid test). Hasilnya 428 orang dinyatakan positif tertular Covid-19, menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

1586526305099-DSC01912

Salah satu perawat menggotong bantuan logistik yang baru tiba untuk RSPI Sulianti Saroso

Pelaksanaan rapid test tersebut dinilai kurang oleh banyak pihak, mengingat jumlah penduduk DKI Jakarta mencapai hampir 10 juta jiwa, sementara penerapan social distancing oleh pemerintah dinilai setengah hati. Termasuk ketika pemerintah enggan bersikap tegas, bahkan berbeda sikap di tiap kementerian, soal tradisi mudik Lebaran.

Tingginya kasus penularan virus corona di Jakarta lantas memaksa pemerintah untuk memperluas layanan kesehatan. Kementerian Kesehatan kemudian menunjuk delapan rumah sakit rujukan di DKI Jakarta untuk menangani pandemi Covid-19, dari yang awalnya cuma dua rumah sakit.

Wisma Atlet di Kemayoran lantas diubah menjadi rumah sakit darurat yang mampu menampung lebih dari 4.000 pasien. Saat ini,nyaris semua rumah sakit di Ibu kota memiliki keterbatasan ruang rawat inap, peralatan, dan tenaga medis untuk menghadapi pandemi.

Tak ada negara yang siap ketika Covid-19 merebak begitu cepat di berbagai belahan dunia. Pemerintah sempat mengklaim Indonesia bebas coronavirus dan berencana mengucurkan Rp72 miliar buat influencer media sosial demi mempromosikan sektor pariwisata yang lesu. Rencana itu panen kecaman dan akhirnya batal.

Baru pada 2 Maret, Presiden Jokowi mengkonfirmasi kasus pasien pertama dinyatakan positif mengidap Covid-19. Respons Istana dinilai lambat mengantisipasi wabah. Akibatnya, pekerja medis sekarang kewalahan menangani pasien, ditambah dengan keterbatasan ruang rumah sakit, APD, dan alat pendukung medis.

Seiring penambahan pasien, pihak RSPI turut menambah pekerja medis yang datang dari berbagai daerah. Ada 21 tambahan tenaga medis pekan lalu. Bagi perawat sekaligus seorang ibu seperti Derpina, beban tugas di pundaknya begitu besar hingga perasaannya bercampur aduk antara menjawab panggilan tugas mulia demi menyelamatkan nyawa sesama atau menantang risiko tertular. Mental dan fisiknya tertekan.

"Jelas selalu ada ketakutan seandainya saya membawa virus ke rumah," kata Derpina, yang memiliki seorang putra semata wayang yang duduk di bangku SD. "Tapi saya tidak mau kekhawatiran itu justru membuat semangat saya kendur. Sepanjang saya menerapkan disiplin dan berusaha melakukan semuanya sesuai prosedur."

Derpina melakukan semua prosedur yang diperlukan untuk dekontaminasi. Selesai bertugas, dia melepas APD dengan hati-hati sebelum membersihkan badan di rumah sakit, dan mengganti baju. Sesampainya di rumah, dia bergegas mandi lagi. Baju yang dikenakan selama perjalanan dicuci. Baru setelah semua selesai, Derpina bisa menempatkan dirinya sebagai ibu.

"Setelah mandi, baru saya tenang memegang anak," ujarnya.

1586526390670-DSC01911

Karangan bunga dari masyarakat sebagai dukungan sekaligus bela sungkawa untuk awak RSPI Sulianti Saroso yang gugur selama bertugas menangani pasien pandemi Covid-19.

Ketakutan terbesar Derpina adalah stigma dan diskriminasi. Tak sedikit perawat yang diusir dari tempat tinggal pasca pandemi di berbagai daerah. Nasib paling nahas dialami perawat Nuria Kurniasih dari RSUP dr. Kariadi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Mendiang, yang meninggal di usia 38 tahun usai dirawat sepekan, positif tertular covid-19 sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Ketika keluarga berniat memakamkan Nuria di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, Kecamatan Ungaran, muncul penolakan dari rombongan warga. Jenazah sang perawat itu akhirnya terpaksa dipindah makamnya ke halaman belakang RSUP Kariadi. Ketika kasus ini viral dan memicu gelombang kecaman netizen, termasuk dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ketua RT yang mengakomodasi penolakan warga meminta maaf terbuka.

"[Dapat penolakan warga] ketakutan terbesar saya," kata Derpina yang tinggal bersama keluarganya di Jakarta Utara. "Sampai sekarang saya enggak pernah bersosialisasi dengan warga kampung, sebab saya takut [diusir]."

Pemprov DKI Jakarta kemudian menyediakan akomodasi berupa hotel buat para pekerja medis, dari 1 April hingga 31 Mei. Derpina mendapat fasilitas itu. Sejauh ini, dia memilih pulang ke rumahnya. "Tak bisa jauh dari anak," tuturnya singkat dengan senyum dikulum.

Derpina bekerja selama delapan jam, sesuai shift. Jika bekerja pada shift malam, setiap pagi dia mengurus kebutuhan putranya, dari makanan sampai membantu mengerjakan PR. Kemudian dia mengurus anjing peliharaannya. Sore dia bersiap berangkat menuju RSPI dan pulang lewat tengah malam.

Di rumah sakit, Derpina langsung menuju ruang IGD tempatnya bekerja—bersetelan APD lengkap—keliling menyambangi pasien. Setiap perawat seharusnya menangani satu pasien, tapi dalam kondisi darurat ini, Derpina bisa menangani 6-9 pasien per hari. Rutinitasnya sama, memeriksa suhu tubuh mereka, tanda vital, dan memberi obat. Tapi yang membuatnya bangga pada tugasnya adalah ketika ngobrol dan memberi semangat ke pasien agar mereka juga terus bertahan. Sebab, katanya, pasien isolasi rentan stress dan tertekan secara mental.

"Saya lebih memposisikan diri sebagai tenaga konseling," kata Derpina. "Paling tidak saya meluangkan lima menit buat mereka. Berdoa bersama, mengobrol. Supaya dia bertahan. Efeknya besar buat mereka yang terisolasi. Mereka sendirian."

RSPI Sulianti Saroso adalah rumah sakit rujukan nasional selama pandemi Covid-19. Sebelum tujuh rumah sakit lain ditunjuk sebagai rujukan, antrean panjang orang yang ingin memeriksakan diri adalah pemandangan sehari-hari. Beberapa hari terakhir rumah sakit tersebut sepintas terlihat lengang dari luar.

Situasi di dalam rumah sakit adalah tentang hidup dan mati seseorang. Di RSPI, tercatat satu paramedis meninggal dunia hingga 24 Maret lalu. Di seluruh Indonesia total hingga kini 30 tenaga medis meninggal terpapar virus corona. Ada kemungkinan, penularan terbesar bagi tenaga medis adalah pada saat melepas baju APD.

1586526446440-DSC01870

Mobil jenazah kini rutin wara-wiri ke RSPI Sulianti Saroso menjemput pasien yang gagal terselamatkan akibat Covid-19

Para dokter di Bergamo, Italia, dalam sebuah jurnal medis, menulis bahwa ada kemungkinan rumah sakit kini menjadi carrier Covid-19 terbesar lantaran dengan cepat diisi oleh pasien virus corona. Derpina sadar sewaktu-waktu dia bisa tertular, namun dia tetap menolak mengikuti tes covid-19. "Saya tak mau," kata Derpina. "Saya hanya menjaga kondisi badan. Saya tak menonton TV sebab tak mau berita-berita itu mengganggu pikiran saya. Jika stress, kondisi badan malah enggak fit."

Sepanjang kariernya sebagai perawat Derpina akrab dengan kematian. Dan buruknya, dia tak tahu kapan pandemi kali ini akan berakhir, mengingat mata rantai penularan coronavirus tidak jua bisa terputus.

Ketika ada seorang pasien meninggal, pihak rumah sakit akan menelepon Pelayanan Pemakaman dan Jenazah. "Mereka yang meninggal kini tak lagi masuk ke kamar jenazah, tapi langsung dibawa ke pemakaman," kata Derpina. “Tubuhnya dibungkus plastik masih dengan baju terakhir yang dikenakan, bukan kafan."

Jenazah tersebut dibawa lewat jalur khusus. Petugas desinfektan kemudian mendekontaminasi semua, dari tempat tidur, ruangan, hingga jalur yang digunakan untuk membawa jenazah.

Itulah saat bagi petugas pemulasaraan dari Palang Hitam, menginjak pedal gas dan memacu mobil jenazahnya. Sementara Derpina segera kembali bergumul dengan ketidakpastian, sembari merawat harapan para pasien dan dirinya sendiri untuk terus menjalankan tugas sebaik-baiknya, hingga kelak pandemi ini berakhir.