Definisi urban farming dan manfaat kebun perkotaan untuk swasembada pangan
Foto ilustrasi urban farming:  Benjamin Combs/Unsplash
Kedaulatan Pangan

Skill Penting Dikuasai Anak Muda: Tanam Sendiri Bahan Panganmu Dekat Rumah

Pandemi menyadarkan kita semua, bahwa urban farming dan berkebun adalah keahlian bertahan hidup yang penting, terutama saat situasi berubah jadi darurat.
Pallavi Pundir
Delhi, IN
27.4.20

Di tengah lockdown akibat virus corona yang masih terus berlangsung di India, Diipti Jhangiani—penduduk Distrik Bandra di Mumbai—berjalan melewati tanah seluas 50 meter persegi di pinggiran komplek tempat tinggalnya. Terlihat rumpun tomat, wortel, okra, bayam, pepaya, sawo manila, kelor, pare, dan sayur mayur lainnya di kebun tersebut. Jhangiani siang itu mengumpulkan beberapa kunyit segar untuk dibawa pulang. Jhangiani adalah "urban farmer", petani yang tetap bercocok tanam dengan menyesuaikan kondisi kota besar.

Iklan

"Di tengah krisis seperti ini, akan selalu ada potensi kelangkaan makanan bagi mereka yang tidak mampu membayar," ujar perempuan 34 tahun itu, yang juga pendiri startup alat pertanian Edible Gardens. "Bahkan bagi mereka yang punya uang untuk membeli sembako, risiko kelangkaan bahan pangan selalu ada. Buktinya, toko dekat rumah sini sudah kehabisan kunyit. Namun saya jauh-jauh hari sudah menanam kunyit di ladang komunitas, jadi warga komplek cukup mengambil dari situ. Tentu kunyit dari kebun kami lebih segar hasilnya."

Tiga tahun yang lalu, ketika Jhangiani mulai mengubah lahan gersang di perumahan menjadi kebun komunitas, banyak tetangga menyebut tindakannya sekadar "hobi bercocok tanam yang kurang kerjaan." Sekarang, para tetangga nyinyir itu turut menikmati kerja keras Jhangiani yang "kurang kerjaan."

Orang-orang di kompleknya mulai membahas berbagai teknik menanam bahan pangan sendiri sampai cara menakar kompos. Tak sedikit warga manula mampir ke kebun mengambil pare dari ladang. "Pare memiliki efek baik untuk pembersihan darah yang mengalir di tubuh kita," kata Jhangiani pada VICE. "Ketertarikan tetangga saya dan masyarakat umum di India pada pertanian urban baru terlihat setelah lockdown. Kelak, ketika kebijakan ini berakhir, kita baru bisa melihat apakah orang-orang benar mau berubah. Setidaknya saya merasa lega melihat orang-orang kota mulai membicarakan pentingnya urban farming."

earth day india

Diipti Jhangiani saat bereda di kebun binaannya di Kota Mumbai. Foto dari arsip pribadinya.

Di seluruh dunia, pandemi corona menyadarkan kita pada banyak hal—mulai dari sistem kesehatan negara yang rentan, kesehatan mental masyarakat perkotaan yang rapuh, selalu ada risiko krisis ekonomi membayangi, hingga parahnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Tapi ada aspek lain yang membuat dunia berisiko lumpuh lebih cepat gara-gara penyakit menular: ketakutan irasional masyarakat terhadap kurangnya pasokan makanan.

Di setiap negara yang memberlakukan lockdown ataupun social distancing skala besar, selalu muncul laporan aktivitas penimbunan bahan pangan dan pembelian barang kebutuhan pokok besar-besaran. Semua dipicu kepanikan konsumen. Bermunculan foto-foto rak kosong di supermarket atau toko-toko, sementara banyak orang yang miskin kelaparan. Hal ini ironis, mengingat dua bulan lalu beberapa penelitian masih berkesimpulan bila ketersediaan pangan global seharusnya belum mencapai titik mengkhawatirkan.

Persepsi konsumen awam akan terjadi kelangkaan pasokan bahan pangan dan rasa takut tak berdasar soal harga-harga melambung tinggi ketika lockdown yang berujung pada penimbunan, ditambah gangguan dalam suplai penyediaan bahan pangan di beberapa negara, akhirnya benar-benar menyulut kemungkinan dunia sedang menuju ke krisis pangan serius.

Tren negatif di berbagai negara ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memprediksi dunia bakal mengalami kekurangan pasokan makanan, terutama di kota-kota besar. "Ketidakpastian info seputar ketersediaan makanan dapat mendorong kebijakan pembatasan ekspor oleh beberapa negara, yang kelak menyebabkan kekurangan pasokan di pasar global,"demikian merujuk pernyataan gabungan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), WHO, serta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Iklan

Faktanya, negara berkembang menghadapi risiko kelaparan serius, serta potensi kerusuhan akibat kurangnya pasokan pangan. Dominique Burgeon, Kepala Divisi Situasi Darurat Pangan FAO, memperingatkan bila orang kaya tidak bisa melihat masalah kekurangan pangan dari pandemi sebagai masalah orang miskin saja.

"Kalau kekurangan pangan mulai terjadi, dampaknya akan berpengaruh ke seluruh dunia dan tak peduli status sosial," ujarnya. Faktanya, di banyak daerah agraria dan pedesaan di dunia, petani menghadapi kerugian besar mengingat lockdown memaksa mereka meninggalkan sawah, dan kurangnya tenaga kerja turut mendorong kenaikan biaya produksi bahan pangan.

Di India, lockdown ketat menimbulkan situasi yang sulit bagi para buruh migran—yang mencakup 37 persen populasi Negeri Sungai Gangga itu. Para buruh migran bergantung pada upah harian untuk bertahan hidup. Artinya selama lockdown mereka tidak punya penghasilan sama sekali. Kalau sampai kelaparan, kelas sosial ini diprediksi akan menyulut kerusuhan. "Ini skenario permasalah sosial yang sulit untuk ditakar dampaknya," ujar Abdolreza Abbasian, penasehat ekonomi senior di FAO. "Saat ini, ketidakpastian informasi menjadi musuh utama semua pemangku kebijakan pertanian."

Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti inilah, konsep menanam bahan panganmu sendiri semakin relevan dibicarakan. Jhangiani, yang telah lama menanam bermacam sumber makanannya sendiri lewat ladang komunitas, mendukung konsep swasembada pangan mandiri perkotaan. Faktanya, pandemi virus corona tidak mengubah gaya hidupnya sama sekali.

"Urban farming harus dimulai dengan kemauan mengolah sampah kita sendiri. Dari sana, pelan-pelan kita mulai belajar menanam makanan sendiri. Di ruang-ruang urban, ada banyak potensi mengembangkan ladang di pinggir jalan atau taman komplek," ujarnya. "Kita tidak butuh lahan yang luas untuk bercocok tanam buat mencukupi kebutuhan keluarga atau komunitas. Saya sekarang bahkan menanam sawo manila dan murbei di dalam wadah plastik. Enggak butuh banyak ruang kok, cuma perlu belajar teknik hidroponik yang benar."


Tonton dokumenter VICE soal 'bungker persiapan kiamat' orang-orang superkaya:


Memulai kebun kecil-kecilan dalam rumah, tentunya opsi yang menarik bagi orang-orang yang tinggal di apartemen kota besar. Internet sudah menyediakan banyak sekali informasi tentang teknik dan perlengkapan swadaya yang dibutuhkan untuk bisa mulai menanam tanaman di manapun.

"Coba lihat sekitarmu, sebetulnya banyak ruang yang bisa diisi tanaman pangan: halaman rumah, pinggiran tembok/pagar, taman-taman komunitas, ujung jalan buntu; dan bagi yang tinggal di apartemen, area komunal atau ruang terbuka hijau pun bisa dimanfaatkan," tulis Palisa Anderson, seorang pemilik restoran di Australia yang menjalankan urban farming. Penulis opini di Los Angeles Times, Jeanette Marantos, menambahkan, "Kebutuhan bank makanan (lembaga non-profit yang membagikan makanan ke orang tidak mampu di AS) semakin meningkat. Belajar menanam bahan pangan sendiri bisa membantumu dan orang lain melewati hari-hari sulit di masa mendatang."

Percakapan seputar swasembada pangan bukan hal baru. Namun dampak karantina virus corona memaksa banyak orang belajar bercocok tanam di perkotaan untuk berjaga-jaga, termasuk di Indonesia. "Realitasnya semakin banyak orang memikirkan asal makanan mereka, betapa mudahnya jalur distribusi diganggu, dan bagaimana cara untuk mengatasi gangguan tersebut," ujar arsitek Kotchakorn Voraakhom, yang merancang sawah atap urban terbesar Asia di Bangkok. "Masyarakat, perencana tata kota, dan pemerintah harus memikirkan kembali bagaimana lahan kota digunakan. Pertanian urban bisa meningkatkan nutrisi dan keamanan suplai makanan, mengurangi dampak perubahan iklim, dan menurunkan stres."

Tren ini juga menarik mengingat PBB memprediksi dua pertiga populasi dunia akan tinggal di kota-kota besar pada 2050. Di banyak negara, praktek swasembada pangan di kawasan urban, seperti permakultur maupun konsep hidroponik, telah terbukti memberi banyak manfaat. Mulai dari sumber makanan bebas bahan kimia, mewujudkan konsep konsumsi etis dari 'ladang-langsung-ke-meja-makan', hingga menjaga kesehatan mental dan menciptakan taman/teras yang menawan secara estetika. Namun di negara macam Singapura, yang tidak memiliki lahan pertanian dan karenanya selalu mengimpor sebagian besar bahan makanan, tren pertanian dan peternakan swadaya di lahan vertikal merupakan solusi satu-satunya.

Beberapa ahli berpendapat bila pandemi ini dapat mendorong popularitas tren baru yang positif. "Penting bagi warga perkotaan untuk mempelajari sistem penyediaan pangan secara swasembada. Menanam sumber makanan sendiri merupakan cara terbaik untuk menjamin akses makanan sepanjang tahun," ujar Anusha Murthy dari Edible Issues, platform advokasi keadilan pangan saat diwawancarai VICE. "Ladang urban merupakan jalan tangan bagi mereka-mereka yang memiliki cukup modal. Pendekatan berbasis komunitas untuk menanam sumber makanan juga solusi yang cerdas. gar bisa mencapai swasembada pangan, mengetahui dari mana makanan kita datang adalah langkah pertama yang krusial."

earth day india

Anusha Murthy (kanan) pengelola Edible Issues bersama sang co-founder Elizabeth Yorke.

Jhangiani menambahkan, biarpun selalu ada ketergantungan terhadap toko/warung/supermarket bagi penduduk urban untuk biji-bijian atau minyak, konsep pertanian swadaya bisa diperluas, sampai mencakup banyak aspek kehidupan sehari-hari lainnya—seperti membuat deterjen sendiri (menggunakan kulit jeruk dan lemon), atau bikin sabun cuci alat masak DIY (menggunakan air, air lerak, dan air lemon), sampai pasta gigi sendiri (menggunakan baking soda dan minyak kelapa). "Ideologi swadaya harus diterapkan dalam aspek lain kehidupan juga," imbuhnya.

Menarik juga melihat bagaimana pandemi virus corona secara radikal menarik orang-orang ke konsep keswadayaan dibanding aktivisme bertahun-tahun yang dilakukan aktivis perubahan iklim. Mungkin ini disebabkan oleh kerentanan kolektif yang dialami semua orang, memaksa kita untuk mencari solusi yang bisa menyelamatkan kita dari rasa cemas akibat masa depan yang serba tidak jelas.

Iklan

Di Amerika Serikat, pencarian Google untuk topik "home farming (berkebun di rumah)" meningkat 50 persen sepanjang Maret 2020. Tercatat pula peningkatan 75 persen pencarian kata kunci "how to raise chickens (bagaimana cara beternak ayam)".

"Topik persediaan pangan dan keberlangsungan sedang sangat diminati sekarang," ujar Phyllis Davis, presiden Asosiasi Sistem Akuaponik Peternakan Portabel di AS kepada the New York Times.

Di India, Murthy menyadari bahwa pandemi telah memaksa penduduk perkotaan melirik kembali pentingnya sistem pangan lokal. "Bahan makanan yang bisa dimasak terbatas dan orang-orang mencoba resep-resep tradisional menggunakan bahan-bahan yang normalnya tidak mereka gunakan," ujarnya. "Banyak juga orang-orang yang menciptakan dan berinovasi dengan masakan mereka."

Tren ini menjelaskan kenapa semakin banyak konten memasak dan memanggang roti muncul di media sosial. Murthy juga menambahkan bila pandemi mendorong semakin banyak lelaki ikut aktif di dapur.

Selain itu, pandemi justru membantu para petani kecil, seiring fokus konsumen sekarang bergeser ke produk makanan lokal. "Gagasan 'Dari ladang langsung ke meja makan' harus menjadi budaya mayoritas konsumen, bukan bukan sekedar tren hipster," kata Samrat, jurnalis dan penulis kolom situs digital India, Firstpost. "Ideologi semacam ini dapat membangun ketahanan masyarakat dan ekonomi terhadap perubahan-perubahan yang ditimbulkan globalisasi. Pandemi global yang kita alami sekarang seharusnya bisa mendorong perubahan pola pikir ke arah sana."

Dunia sedang kacau balau, dan kita bahkan belum melihat puncak penularan Covid-19. Namun layak diingat, bahwa setiap krisis menawarkan pelajaran penting yang bisa dipetik. Pandemi corona mengajarkan kita betapa pentingnya setiap orang, terutama kaum muda yang akan mewarisi masa depan Planet Bumi, memiliki keahlian mewujudkan swasembada pangan.


VICE berkomitmen menyorot isu krisis perubahan iklim yang penting dipahami generasi muda. Baca berbagai laporan kami terkait Hari Bumi di tautan berikut , atau baca juga liputan khusus kami seputar kerusakan lingkungan di Asia Pasifik.

Follow Pallavi Pundir di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India.