The VICE Guide to Right Now

Dari Kajian Otaknya, Burung Menurut Ilmuwan Cerdas dan Punya Kesadaran Eksistensial

Jadi mulailah waspada bila kendaraanmu sering diberaki burung saat parkir.
30.9.20
Menurut Ilmuwan Cerdas dan Punya Kesadaran Eksistensial
Foto ilustrasi burung merpati oleh sanjiv nayak / Unsplash

Sejak lama, beberapa ilmuwan meyakini kalau burung punya kecerdasan di atas rata-rata binatang, meski masih di bawah manusia dan spesies primata. Rupanya, berdasarkan dua kajian terbaru mengenai struktur otak burung, spesies aves bukan sekadar pintar. Mereka juga ditengarai memiliki kesadaran diri serta mampu berpikir abstrak, hal yang jarang dijumpai di dunia satwa.

Burung sebelumnya sudah terbukti dapat merangkai peralatan sederhana, memahami konsep abstrak, serta memahami pola lukisan Monet dan Picasso. Kemampuan burung melakukan berbagai pekerjaan rumit itu awalnya membingungkan ilmuwan, sebab otak mereka tidak memiliki neo-korteks seperti mamalia, di mana saraf otak tersambung sehingga suatu organisme dapat mengingat peristiwa, merencanakan sesuatu, serta menyelesaikan persoalan.

Iklan

Dua makalah yang terbit di jurnal ilmiah pada pekan ketiga September 2020, menjawab kebingungan tersebut dan disebut-sebut memberi terobosan bagi cabang ilmu biologi yang mengkaji burung.

Satu makalah dibuat oleh Martin Stacho, pakar anatomi otak dari Ruhr-University Bochum, ang mengkaji jaringan saraf otak burung. Dia menyatakan burung memiliki sistem saraf otak yang rumit untuk mengendalikan persepsi. Artinya, meski secara struktur aves dan mamalia bentuk otaknya tidak sama, “tapi kemampuan kognitif dua spesies ini serupa,” ujar Stacho saat diwawancarai Science.

Stacho bersama kolega kampusnya meneliti otak burung merpati, dan menganalisisnya lewat permodelan 3D. Dari temuan mereka, ada struktur otak burung bernaa pallium, yang fungsinya mirip neo-korteks di otak mamalia, seperti tikus, monyet, dan manusia.

Stacho dkk sekaligus menyimpulkan, bahwa otak burung berevolusi selama ratusan juta tahun seperti yang dialami mamalia. Kedua spesies ini, meski punya cara hidup dan bentuk tubuh berbeda, sama-sama berasal dari reptil yang hidup di permukaan Bumi pada 320 juta tahun lalu.

Dalam kajian berbeda, Andreas Nieder, pakar studi neurologi dari University of Tübingen, menyimpulkan bahwa burung memiliki kesadaran eksistensial. Mereka sadar mengenai kondisi lingkungan sekitar, sehingga tidak beraktivitas mengandalkan insting semata. Kesimpulan itu diambil Nieder setelah lama meneliti gagak di laboratorium. Gagak dijuluki sebagai “primata yang punya sayap” karena kecerdasannya.

Iklan

Gagak yang diteliti Neider dkk mampu merespons semua simbol yang ditampilkan monitor dalam laboratorium setelah dilatih selama setahun. Ada aktivitas neuron ketika gagak bisa merespons tanda dari ilmuwan, karena mereka sadar akan diberi makanan bila mampu menebaknya.

Dua kajian berbeda itu menghasilkan kesimpulan yang sama, bahwa burung lebih cerdas dari yang selama ini diyakini manusia. “Sehinga meski struktur otak burung berbeda, tapi sistem sarafnya bisa menghasilkan kemampuan berpikir tidak jauh berbeda,” kata John Marzluff, pakar biologi the University of Washington, merespons temuan tersebut kepada Science.

Kajian ini juga akan membuka jalan bagi penelitian baru di masa mendatang, mengenai konsep “kesadaran” yang selama ini dianggap hanya dimiliki manusia.

Follow Satviki di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia