The VICE Guide to Right Now

Marak Begal Pesepeda di Jakarta, Asosiasi Pengemudi Ojol Tawarkan Jasa Pengawalan

Asosiasi ini berjanji para penggowes yang menyewa jasa mereka akan selalu mendapat pengemudi ojol yang berpengalaman jadi satpam. Selamat datang era 'e-bodyguard'.
12.11.20
Jasa Ojol kawal Pesepeda Marak di Jakarta karena marak begal
Pesepeda di Jakarta memantau titik kemacetan lewat aplikasi yang disediakan Pemprov DKI. Foto oleh Bay Ismoyo/AFP

Asosiasi sopir ojek online (ojol) dengan nama Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) menawarkan solusi preventif di tengah banjirnya kasus pembegalan pesepeda di DKI Jakarta. Bagi kelompok ataupun individu yang mau bersepeda dengan rasa terlindungi dari aksi kriminalitas, Garda mengumumkan telah membuka jasa pengawalan.

Apabila tertarik, harga yang dipasang sebesar Rp750 ribu per jam per 10 pesepeda. Satu paket penyewaan akan terdiri dari tiga personel sopir ojol pengawal yang naik dua sepeda motor, berjaga di depan dan belakang rombongan pesepeda.

Iklan

“Kami sediakan jasa pengamanan pengawalan bagi para pesepeda dengan menggunakan sepeda motor sesuai kebutuhan,” kata Igun Wicaksono kepada Detik. Igun menjamin pengawal adalah sopir ojol pilihan dan berpengalaman dalam hal jaga-menjaga, misalnya mantan satpam atau sopir yang emang terlatih dalam jasa pengamanan.

Kalau kelompok ojol jual jasa pengamanan swasta, gimana kabar polisi sebagai juru pengamanan resmi? Yah, bisa dibilang mereka bukannya tanpa usaha. Saat ini, polisi mengaku tengah menyelidiki berbagai laporan begal sepeda yang masuk. Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusri Yunus mengatakan bahwa sepanjang Oktober 2020, ada lima laporan aksi begal sepeda. Salah satunya menimpa seorang anggota TNI Pangestu Widiatmoko di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, akhir Oktober lalu.

“Dari lima laporan ke polisi sepanjang bulan Oktober ini, ada satu yang sudah ditangkap dan sisanya masih kami dalam,” kata Yusri dilansir Tempo. Namun, Yusri menduga aksi begal sebenarnya sudah lebih dari yang diterima polisi. Sebab pelaku yang sudah ditangkap mengaku udah tujuh kali membegal pesepeda di Jakarta. 

Kalau dirunut sejak September hingga November, Polda Metro Jaya mengaku sudah menangkap 10 begal pesepeda dari 6 TKP. Empat di antara pembegal berusia di bawah umur. Sebanyak 71 ponsel disita polisi sebagai barang bukti kejahatan. Ponsel emang disebut jadi tujuan utama perampokan begal pesepeda.

Iklan

“Saya yakin masih ada masyarakat yang menjadi korban begal sepeda belum melapor ke kepolisian. Saya imbau masyarakat yang menjadi korban untuk segera melapor,” ujar Kapolda Metro Jaya Nana Sudjana, senada dengan Yusri. Keluhan Nana dan Yusri sangat bisa dimaklumi. Dari balasan atas cuitan akun Twitter Divisi Humas Polri yang viral beberapa waktu lalu, kita dikasih lihat betapa masyarakat cenderung malas berurusan sama polisi meski jadi korban kriminalitas.

Polisi udah membagi beberapa informasi terkait tren begal pesepeda di Jakarta. Misalnya, lokasi pembegalan tersebar di beberapa lokasi, mulai dari Menteng, Tanjung Priok, sampai Ciputat. Yusri menyebut kawasan DKI Jakarta seperti Jalan Thamrin, Sudirman, Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Selatan sampai Stasiun Kota sebagai zona begal.

Polisi juga menganalisis kalau pelaku begal kerap mengincar pesepeda yang menggowes seorang diri sekitar jam 6-9 pagi. Oleh karena itu, polisi mengimbau pesepeda untuk berolahraga dalam rombongan.

Menentukan target incaran disebut polisi dilakukan pelaku dengan melihat merek sepeda. “Mereka selalu melihat-lihat, mengintai. Wah, ini sepedanya bagus, pasti handphone-nya mahal. Yang jelas itu handphone-nya baru-baru itu,” kata Nana saat diwawancarai CNN Indonesia.

Untuk menangkal aksi begal pesepeda di masa depan, Nana turut mengumumkan pihaknya tengah membentuk tim khusus beranggotakan Brimob yang akan berpatroli di daerah rawan begal sepeda.