Konten Viral

Akibat Tren Konten TikTok Hadang Truk Melaju, 2 Remaja Tewas dalam Sebulan

Insiden tragis macam ini terjadi di Bogor dan Pamulang. Kedua remaja itu tewas terlindas ketika berusaha memberhentikan truk yang melaju saat dini hari.
9.4.21
Tren Konten TikTok Hadang Truk Melaju Tewaskan 2 Remaja di Bogor dan Pamulang
Foto ilustrasi truk di jalanan Indonesia oleh Jalal Kelink/via Unsplash

Kisah tragis ini terekam dalam video yang kemudian viral. Tampak empat remaja berlarian ke tengah jalan menyambut datangnya truk yang sedang melaju kencang di Jalan Raya Simpang Sentul, Bogor, Jawa Barat. Keempatnya berupaya memberhentikan truk untuk jadi konten TikTok, namun remaja yang bertugas merekam malah tertabrak. Tiga lainnya dilaporkan selamat setelah menepi ke jalan.

Iklan

Insiden terjadi pada Selasa (6/4) lalu sekitar jam setengah tiga dini hari. “Kejadian dini hari kemarin. Jadi anak tersebut menyetop kendaraan truk tidak dengan tempat dan semestinya,” kata Kasatlantas Polres Bogor Dicky Pranata kepada Suara. Korban diketahui berusia 15 tahun berinisial DP. Sopir truk dilaporkan melarikan diri karena takut diamuk massa. “[Kasus] sudah ditangani. Kami imbau kepada orang tua agar memperhatikan anak-anaknya, jangan sampai kejadian ini terulang kembali,” tambah Dicky.

Sebelum ini, pembuatan konten memberhentikan truk yang sedang melaju sudah makan korban nyawa di Pamulang, Tangerang Selatan, pada 25 Maret lalu. Korban adalah remaja 14 tahun berinisial MH yang tewas terlindas truk. 

Sama seperti di Bogor, kejadian di Tangsel ini juga terjadi pada dini hari. Menurut warga di sekitar lokasi, sebelum kejadian sekumpulan remaja tersebut sempat ditegur karena aksi berbahaya itu, namun tidak dihiraukan.

“Saya sering melihat anak-anak itu berkumpul di depan komplek perumahan Villa Dago. Ada yang merekam video untuk bikin konten dan diunggah di media sosial,” kata Anjas, salah satu saksi, kepada Tempo.

Melihat maraknya kematian konyol ini, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana turut menyesalkan tren konten ekstrem.

Iklan

“Anak-anak ini berjibaku dengan bahaya, mereka melakukan aksi-aksi di tengah jalan dengan bergaya memberhentikan kendaraan besar yang sedang berjalan, entah untuk kepentingan konten atau unsur lain,” kata Sony kepada Kompas. “Dengan beban yang berat dan gaya dorong ke depan sangat besar, truk itu membutuhkan jarak berhenti yang panjang. Harus dipahami.”

Sony menyebut anak-anak dalam video suka melakukan aksi secara spontan sehingga sulit dihentikan. “Harusnya, petugas setempat sudah bisa curiga ketika melihat ada segerombolan anak nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, terlepas mereka hanya duduk ataupun nantinya ingin iseng melakukan hal berbahaya. Jadi harus ditertibkan,” tambah Sony.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi meminta keluarga, lingkungan, dan polisi untuk bantu mengontrol. “Perlu pemberdayaan untuk mengingatkan agar anak-anak atau remaja tetap hati-hati. Bukan sembarangan di tempat berbahaya,” kata Kak Seto kepada Tempo

Ia meminta masyarakat refleks lapor polisi bila mendapati remaja yang bandel melakukan tindakan berbahaya. “Sama seperti melihat ada tawuran, tindakan kriminal remaja, menyetop truk untuk sekadar membuat konten, langsung saja lapor ke polsek atau polres. Jadi tidak [meninggal] konyol dan sia-sia seperti itu.”