penelitian

Penelitian: Orang yang Sering Bicara Omong Kosong Kemungkinan Cerdas

Kesimpulan artikel di jurnal Evolutionary Psychology ini memang bikin sebe. Sebab ternyata ada hubungan antara kemampuan membual dengan kecerdasan.
SJ
Mumbai, IN
29.6.21
Foto ilustrasi perempuan berbicara di depan laptop
Foto ilustrasi oleh Getty Images

Penelitian terbaru mengusulkan orang yang suka membual termasuk orang cerdas. Temuan menarik ini diuraikan dalam jurnal ilmiah Evolutionary Psychology.

Orang yang jago mengarang cerita untuk berbagai konsep dikatakan lebih cerdas daripada mereka yang tidak terbiasa melontarkan omong kosong. Namun, studi menyimpulkan seseorang tak perlu sering berbohong untuk menjadi pembual yang andal. 

Iklan

Untuk sampai pada kesimpulan itu, 1.017 orang diminta mengerjakan tes tertulis yang berbentuk esai. Peneliti kemudian mengamati korelasi antara kemampuan kognitif, kesediaan untuk membual, dan kemampuan untuk melakukannya dengan baik dalam dua studi.

Peserta harus memberi skala lima poin dari “tidak pernah mendengarnya” sampai “sangat memahami” untuk menilai pengetahuan mereka tentang 10 konsep yang disajikan. Enam konsepnya, seperti Teori Seleksi Seksual dan Relativitas Umum, adalah nyata, sedangkan sisanya — Penskalaan Subjungtif, Pecahan Deklaratif, Otonomi Genetik, dan Penerimaan Neural — adalah konsep palsu. Mereka-mereka yang mengaku memahami empat konsep palsu ini akan diukur seberapa besar kesanggupannya membuat penjelasan.

Untuk menentukan kemampuan berbohong, sekelompok berisi 534 peserta diminta menjelaskan setiap konsepnya semenarik mungkin. Mereka tidak perlu takut jawabannya salah, dan bebas menulis esai sesuka hati mereka.

Setelah itu, kelompok sampel lain yang disebut “penilai omong kosong” akan menilai seberapa akurat atau memuaskan jawaban ini menggunakan skala lima poin. Skalanya berkisar dari “tidak akurat sama sekali” hingga “sangat akurat” untuk menilai akurasi, dan “tidak memuaskan” hingga “sangat memuaskan” untuk menentukan seberapa bagus penjelasannya. Para juri juga diminta menentukan kecerdasan peserta di kelompok sebelumnya.

Peneliti menemukan sebagian besar peserta yang mampu memberikan penjelasan yang memuaskan dan tampak akurat untuk konsep palsu juga mendapat skor lebih tinggi pada tes kosakata. Sebagian besar dari mereka juga menguasai penalaran abstrak dan kecerdasan cair non-verbal, yang mengukur kemampuan analisis dan menyelesaikan masalah.

Iklan

“Kami menemukan, mereka yang lebih terampil membuat omong kosong yang memuaskan dan tampak akurat mendapat skor lebih tinggi pada kemampuan kognitif dan dianggap lebih cerdas oleh orang lain,” bunyi penelitian.

“Secara keseluruhan, kemampuan mengarang cerita yang memuaskan dapat membantu individu dalam menavigasi sistem sosial, baik sebagai strategi yang efisien secara energik untuk mengesankan orang lain maupun sebagai tanda kecerdasan seseorang.”

Peneliti mengingatkan, temuan ini masih bersifat permulaan dan hanya dapat digunakan sebagai bukti awal. “Penelitian di masa depan harus secara eksplisit menyelidiki hubungan kausal antara kecerdasan dan kemampuan membual jika memang ada hubungan seperti itu,” tulis mereka.

Menariknya lagi, studi menemukan meski jago membual, mereka tak serta-merta akan terus mengarang cerita hanya karena bisa melakukannya.

“Individu yang lebih cerdas tak selalu bersedia membuat omong kosong meskipun memiliki keterampilan yang unggul,” penulis studi Mane Kara-Yakoubian memberi tahu PsyPost. “Hal ini mungkin bisa dijelaskan oleh kapasitas mereka yang lebih besar untuk menghubungkan keadaan mental dengan orang lain (yaitu teori pikiran), membuat mereka sadar kapan omong kosongnya bisa dipakai dan tidak.”

Faktanya, peneliti juga menemukan orang yang sanggup mengarang cerita lebih cepat menerima omong kosong pseudo-intelektual. Hal ini sejalan dengan studi yang diterbitkan dalam British Journal of Social Psychology, yang menjelaskan bahwa orang yang sering membual mudah percaya dengan informasi menyesatkan dan berita palsu.

Kara-Yakoubian melaksanakan penelitian ini bersama dosen pembimbingnya. Menurutnya, temuan bahwa orang tidak dapat membedakan omong kosong pseudo-intelektual dengan artspeak — bahasa yang digunakan akademisi saat membicarakan seni — memotivasinya untuk melakukan penelitian tersebut.

“Semakin mengada-ngada isi esai saya, semakin bagus nilai yang saya dapat. Penelitian ini bisa dibilang relevan dengan hidup saya,” simpulnya.

Follow Shamani di Instagram dan Twitter.