Renungan Idul Adha

Makna Spiritualitas Penuh Darah Dari Idul Adha dan Asyura

Bagi umat Muslim pertumpahan darah bukan simbol spiritualitas, kecuali saat Idul Adha. Penulis punk muslim, Michael Muhammad Knight, berbagi pandangannya soal kemiripan semangat hari raya qurban dari perayaan Ashura.
22.8.18
Ritual Ashura punya semangat spiritualitas seperti qurban di hari raya Idul Adha. Foto oleh VICE US.

Renungan ini ditulis oleh Michael Muhammad Knight, muslim asal Amerika Serikat pengikut aliran salafi, wartawan, sekaligus penulis lebih dari 10 buku tentang Islam dan anak muda. Dia dikenal berkat buku dan film 'Taqwacore'.


Dalam kalender Islam, umat Muslim sedang berada di antara dua hari raya, yang ditandai dengan ritual pertumpahan darah: Idul Adha yang jatuh hari ini dan Hari Asyura, yang akan digelar pada September mendatang. Pada kedua hari raya ini, perdebatan tahunan di internal muslim biasanya terjadi seputar makna darah dan bagaimana "agama" sebaiknya ditampilkan di ruang publik.

Hari ini, Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha, yang menandakan selesainya ibadah haji. Tokoh sentral dalam kisah haji bukanlah Muhammad, melainkan Ibrahim, yang keikhlasannya mengorbankan hal yang paling dia cintai di dunia—anak laki-lakinya sendiri—ditiru jamaah haji dengan melemparkan batu ke sebuah tembok yang melambangkan godaan setan. Untuk memperingati kepatuhan absolut Ibrahim pada Allah SWT, umat muslim sedunia merayakan Idul Adha dengan mengorbankan kambing atau sapi.

Sementara pada 20 September, muslim dari Mazhab Syiah akan memperingati pengorbanan lain: syahidnya Husain, cucu Nabi Muhammad, pada hari Asyura. Husain mengorbankan nyawanya dalam perang yang sejak awal tak mungkin dimenangkan, melawan ketidakadilan rezim pada masanya. Dalam praktik yang kini dipandang kontroversial, banyak orang merayakan Asyura—menandai cinta mereka untuk Husein—dengan mencambuk punggung mereka pakai pisau atau mengoyak kepala mereka sendiri.

Iklan

Di kalangan komunitas Syiah, praktik menyakiti diri sendiri ini masih diperdebatkan. Pemandangan laki-laki berparade di jalan-jalan, bersimbah darahnya sendiri, telah menjadi amunisi untuk lebih dari satu agenda polemik tak berkesudahan. Teman-teman Sunni bisa jadi mengatakan Syiah bukan Muslim yang kaffah karena melakukan praktik tersebut, yang tidak ada tuntunannya dalam Quran. Sementara orang-orang anti-Islam akan memandang ritual Asyura sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang fanatik dan penuh kekerasan.

Dalam kasus Idul Adha dan Asyura, sebagian intelektual Muslim moderat (setidaknya yang saya temui di negara-negara Barat) mencoba mereformasi praktik-praktik ini, menyesuaikannya dengan gagasan mereka sendiri soal makna individu yang modern, rasional, dan manusiawi. Dalam visi alternatif Idul Adha, kurban hewan-hewan dan pembagian daging kepada fakir miskin adalah nilai yang ditonjolkan. Kalangan moderat ingin melawan narasi sebagian orang yang tak paham Islam bahwa qurban adalah ritual kejam terhadap binatang.

Sementara saat memperingati pengorbanan Husein pada Hari Asyura, sebagian kalangan Syiah reformis memilih tidak menyakiti diri, tapi mendonorkan darah. Pada Hari Asyura di Iran, yang mayoritas adalah umat Syiah, bank darah menampung darah empat kali lebih banyak daripada hari-hari lain.

Saya bisa menghargai upaya-upaya untuk menafsirkan kisah-kisah Ibrahim dan Husain sebagai panggilan untuk melakukan tindakan etis di dunia sesuai semangat zaman sekarang. Muslim selalu melakukan reinterpretasi ajaran klasik macam ini sepanjang sejarah.

Iklan

Muslim yang mendonorkan darah mereka pada Hari Asyura mengikuti contoh Husain, yang mengorbankan darahnya dengan cara yang lebih drastis. Meski menginovasi praktik-praktik lama, umat muslim ini menurut saya tetap berpegang pada tradisi sekaligus menegakkan semangat ritual tersebut dalam konteks baru yang sesuai perkembangan zaman.

Sayangnya, sebagian Muslim yang aktif menuntut reformasi ibadah macam itu malah jadi terdengar Islamofobik. Saya pernah bertemu muslim modern di Barat menuduh keluarganya yang masih patuh pada ritual qurban atau asyura sebagai, "fanatik", "tak beralasan", atau bahkan "barbar." Kalangan moderat ini membangun asumsi sendiri tentang agama yang baik—misalnya beragama itu lebih penting diekspresikan lewat jiwa, bukan di konsep ketubuhan—sehingga mereka berkeras tidak ada yang spiritual dari pertumpahan darah.

Kalau ada seorang muslim yang keberatan makan daging hewan, saya paham mengapa mereka menolak kurban. Meski demikian, saya suka makan daging dan saya tidak mengembangbiakkan atau memburu sendiri hewan-hewan itu. Saya terbiasa menikmati daging hewan tanpa harus benar-benar memikirkan proses penyembelihannya. Nah, saaat qurban Idul Adha, kita menampilkan proses tersebut secara gamblang. Umat muslim yang makan daging terpaksa menghadapi realita tak menyenangkan selama ini. Setidaknya, ini lebih baik ketimbang beli daging di supermarket dan masa bodoh tentang cara hewan itu diubah jadi potongan daging.

Sulit menemukan masjid di Amerika Serikat tempat saya bisa menyakiti diri sendiri untuk memperingati kematian Husain, tapi setidaknya saya akan bergabung dengan sebuah komunitas di matam dan berpartisipasi dalam ritual menampar dada sampai nyeri. Husain meninggalkan Makkah dan pergi ke Karbala, dengan janji bahwa dia akan menyelesaikan proses haji bukan dengan mengorbankan seekor kambing, melainkan nyawanya sendiri. Sebagaimana kambing yang dikorbankan, kematian Husain yang tidak bersalah menjadi sumber penyelamatan bagi banyak orang. Kita akan terus mengingat Husain dan pasukannya, sekitar 100 orang, yang melawan pasukan sang tiran Muawiyah yang terdiri dari ribuan orang.

Menyakiti diri sendiri sewaktu Asyura bukan cara untuk meniru begitu saja pengorbanan Husein. Simbol dari ritual ini adalah kesadaran kita sebagai muslim di zaman kiwari, yang menerima manfaat dari pengorbanan Husein, dan kita akan mengekspresikan cinta, kesedihan, dan rasa bersalah kita pada tubuh ini.

Setiap kali saya menampar dada sendiri, saya akan mengingat betapa Hari Asyura jauh lebih parah bagi Husain. "Setiap hari adalah Hari Asyura," begitu ucapan keturunan Husain yang kini sering dikutip di mana-mana, "setiap daratan adalah Karbala." Pembunuhan tragis Husain oleh tirani mewakili ketidakadilan dan penderitaan yang masih ada hingga kini. Meski demikian, dunia ini penuh penindasan gaya baru dalam berbagai bentuk. Jika sebagai muslim saya abai pada ketidakadilan di sekitar, sekeras apapun saya mengorbankan kambing atau menyakiti diri sendiri, maka saya berperilaku lebih mirip dengan tiran pembunuh Husain ketimbang orang yang mengaku mencintai keluarga Rasulullah.

Banyak orang, Muslim dan non-Muslim, mengatakan bahwa pertumpahan darah adalah hal menjijikan dan rasa sakit tak seharusnya menandakan tingkat spiritualitas. Tentu, praktik-praktik ini bisa jadi tak membuat kita merasa baik. Menyembelih seekor hewan juga bukan hal yang menyenangkan.

Tapi, di antara dua hari raya ini, Idul Adha dan Hari Asyura, kita mengingatkan diri atas kekerasan dalam keseharian hidup manusia—kekerasan yang membantu kita bertahan hidup—dan peran kita dalam mendukung kekerasan tersebut. Ritual ini adalah ekspresi keagamaan yang berat dilakukan. Sebagian orang tidak ingin ada kesedihan atau beban dalam agama mereka, dan itu tak apa. Tapi bagi saya, pengorbanan, rasa sakit, dan kesediaan menumpahkan darah kita sendiri untuk melawan ketidakadilan adalah inti ajaran Islam. Itulah sebabnya miliaran umat muslim sedunia terus merayakan Idul Adha dan Asyura.