Alasan Iklan Game Mobile Bohong Besar dan Tak Mirip Game Aslinya

Contohnya iklan 'Mobile Strike' yang sepintas mirip episode terbaru 'Call of Duty'. Ternyata beda jauh dari gameplay aslinya. Kok bisa?
22.2.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Iklan palsu memang bukan fenomena baru. Tapi, belakangan, game-game mobile makin sering dipromosikan secara lebay.

Satu contohnya adalah game 'Mobile Strike' yang banyak diiklankan di timeline facebook dan twitter kalian. Iklan game yang sama juga kerap muncul sebelum video diputar di YouTube. Dalam pariwara tersebut, Arnold Schwazenegger asyik bermain game virtual reality lengkap dengan ledakan. Kalau buru-buru menyimpulkan bahwa anda akhirnya bisa menggunakan Oculus Rift untuk memainkan game ini seheboh pemeran Terminator itu, siap-siap saja kecewa. Pariwara sepanjang 30 detik yang menghabiskan dana $5 juta ini dibuat hanya untuk mempromosikan Mobile Strike, sebuah game yang memuncaki daftar paling banyak diunduh di Google Play. Sayangnya, meski dalam terlihat super canggih di iklan, game Android yang sudah download lebih dari 50 juta kali ini hanyalah game free-to-play biasa banget.

Ini bukan pertama kali iklan game mobile mennggunakan selebriti kelas atas dan menghabiskan daya yang luar biasa besar. Dua tahun lalu, Machine Zone (pengembang game Mobile Strike yang sayangnya tak membalas permintaan wawancara sampai naskah ini dilansir) mengeluarkan iklan Game of War: Fire Ag_e, di dalamnya  Kate Upton dengan sangat menggoda bertanya, "Do you want to play?" _Clash of Clans juga tak mau kalah. Iklan bergenre MMO Strategy ini mencampur rekaman gameplay dengan parodi monolog Liam Neeson yang terkenal dari film Taken.

Nah, di bawah adalah trailer Mobile Strike yang bakal disangka banyak orang sebagai episode baru Call of Duty:

Padahal, ini penampakan asli gameplay Mobile Strike:

Ada perbedaan mendasar antara iklan Clash of Clans keluaran 2015 dan iklan Mobile Strike tahun ini: yang pertama menunjukkan gameplay asli gamenya sementara yang kedua bisa kita bilang menipu kita habis-habisan. Ketidakpedulian terhadap ekspektasi calon pemain membuat saya gatal bertanya: kok bisa-bisanya perusahaan game bisa melakukannya dengan woles tanpa kena tuntutan hukum? Jawabannya ternyata sama saja mengecewakannya seperti menjajal Mobile Strike sehabis menonton iklannya yang menipu itu: malesin.

Ternyata, akar masalahnya tidak berasal dari industri game itu sendiri tapi dari bunyi pasa Truth Advertising law yang dikeluarkan olah Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat. Ketika satu iklan lolos ditayangkan di AS, maka penyebarannya ke seluruh dunia jadi mulus. Sekacau apapun iklan itu. Penggugat yang ingin melaporkan konten suatu iklan harus terlebih dahulu membuktikan bahwa iklan tersebut bisa menipu konsumen. Jelas sekali aturan di AS ini adalah pasal karet yang bisa dimanfaatkan untuk banyak perusahaan payah agar bisa membuat iklan 'menipu' di pasar aplikasi yang tengah berkembang pesat.

"Aturan ini tak bisa mengimbangi perkembangan teknologi," ujar Jovan Johnson, seorang pengacara yang mengkhususkan diri dalam kasus-kasus aplikasi online. Johnson bekerja untuk Johnson & Moo, sebuah firma hukum di Los Angeles.

"Para pembuat undang-undang butuh waktu mencerna apa yang tengah terjadi, termasuk apa yang bisa saja salah atau yang terang-terang sudah salah. Ini perlu dilakukan dalam usaha meregulasi pasar aplikasi online. Di sisi lain, perkembangan aplikasi mobile dan pasar game mobile terus berkembang pesat. Game free-to-play jelas bukan barang baru. Tapi, apa yang kita lihat dalam iklan-iklan game buatan Machine Zone jelas-jelas suatu yang baru," ungkap Ramin Shokrizade, mantan developer game World of Tanks dan seorang yang sangat menjunjung tinggi etika dalam ranah game Free-to-play, lewat sebuah percakapan telepon. Shokrizade menduga tren marketing adalah imbas dari model bisnis pay-to-win, yang memperkenankan pemain membeli item upgrade. Kelangsungan hidup sebuah game dalam model ini bergantung pada 5 persen pemain yang bernafsu menjadi dewa dalam game.

"Game model ini memang melayani nafsu pemain-pemain yang terobsesi menjadi pemain paling kuat dan rela merogoh kocek sampai jutaan dolar." jelasnya.

Mengenai hal ini, Machine Zone tak merespon permintaan kami untuk memberikan komentar.

Intinya, game seperti Mobile Strike punya tingkat konversi rendah dalam hal mengubah pendownload game menjadi player yang membeli item. Tapi, toh mereka tak mau pusing tentang hal ini. Mereka masih punya pemain yang dirayu Kate Upon untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sulit kita percaya. Logika bisnis seperti ini bisa jadi alasan kembalinya Evony dalam  bentuk game mobile F2P. Evony ialah gama yang umurnya sudah hampir satu dekade. Namanya banyak dikenal orang karena iklan facebook yang agak-agak softporn. Menyusul Mobile Strike dan Clash of Clans, Iklan Evony bergaya perang live-action yang lebay ikutan nongol di jam tayang utama televisi.

Sebelum iklan-iklan lebay ini muncul  di televisi, banyak yang meragukan efektivitasnya. Banyak pula yang sanksi bahwa game yang diiklankan bakal bisa menarik banyak player . namun, kalau ukurannya cuma masalah angka, sepertinya para kritikus ini harus gigit jari. Menurut data surat kabar La Times, angka penjualan Game of War naik dua kali lipat saat iklan yang melibatkan Kate Upton sedang gencar beredar. Belakangan, Mobile Strike juga merangsek ke posisi 1 top grossing game di app store selama gelaran Super Bowl, seperti yang dipaparkan oleh Think Gaming. Jelas semata bahwa tujuan beriklan sekarang telah bergeser, dari menarget gamer secara umum menjadi hanya menarget pemain dalam demografi tertentu yang terobsesi kekuasan dalam game online.

Tapi harapan masih ada, setidaknya menurut Johnson, terutama karena iklan-iklan tersebut pada akhirnya akan membunuh harapan para gamer. "Maraknya iklan-iklan lebay akhirnya berimbas pada naiknya angka download, jumlah rerata pemain dalam sebulan, pembelian item dalam game. Namun, di saat yang sama, iklan-iklan ini akan memancing munculnya suara-suara sumbang tentang game tentang suatu game," tutur Johnson. Dulu, konsumen yang marah akan segera menghubungi Johnson mengadukan iklan-iklan yang menipu. "Mobile Strike malah tak menunjukkan sedikit rekaman gameplay. Jadi, boleh dong kalau gamer berpikir pertempuran gamenya seperti di iklan? Saya sih belum berani menjawabnya, apalagi kalau melihat perkembangan teknologi virtual reality."

Menurut Johnson, kebanyakan gamer sangat bersemangat saat bermain game mobile. Rasanya tinggal tunggu waktu sampai iklan yang lebay itu dikategorikan sebagai praktik penipuan. Kalau ini benar-benar terjadi, bisa saja ada perusahaan game yang didenda sampai jutaan Dollar.

Berbeda dengan Johnson,  Shokrizade tak begitu optimis bahwa konsumen bisa bersatu melawan praktik curang ini.

"Kamu bisa mengiklankan apapun di Amerika Serikat," ujarnya. "Konsumen cuma bisa melakukan satu hal: terus mengedukasi diri agar tidak mudah percaya."