FYI.

This story is over 5 years old.

Berita

Delapan Orang Ditangkap Aparat Turki, Diduga Terkait Penembakan Klub Pada Malam Tahun Baru

ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas serangan Klub Reina di Istambul yang menewaskan 39 orang. Mayoritas korban tewas adalah warga asing dari Jazirah Arab.
Sumber Foto: Associated Press

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Klub Malam Reina, Kota Istambul, Turki, pada momen pesta pergantian tahun. Insiden itu menyebabkan 39 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Sampai sekarang, aparat keamanan Turki masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Kantor berita Associated Press melaporkan polisi setidaknya telah menangkap delapan orang yang diduga membantu penyerangan itu. Sosok si pelaku penembakan tidak termasuk rombongan yang sudah dicokok.

Iklan

Pernyataan ISIS beredar melalui aplikasi pesan terenkripsi, telegram, yang kemudian disebar di Twitter. Isinya adalah pujian terhadap pelaku penembakan Istambul sebagai "prajurit Daulah Islamiyah" yang berhasil menyerang "orang-orang kafir sedang merayakan liburan."

ISIS turut menjuluki Turki sebagai "negara antek Salibis." Julukan ini diberikan karena pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan terlibat serangan koalisi internasional ke kota-kota di utara Suriah, terutama Kota Raqqa yang menjadi basis militan khilafah. Serangan spesifik menyasar Turki diperintahkan langsung oleh Khalifah ISIS Abu Bakar al-Baghdadi.

Ini adalah kesekian kalinya ISIS mengklaim melakukan serangan teror terhadap warga sipil. Selama 18 bulan terakhir, sudah lebih dari lima kali ISIS dikaitkan dengan pemboman serta penembakan di seantero Turki. "Pemerintahan kafir di Turki harus tahu bahwa setiap darah muslim yang tumpah akibat serangan udara armadanya akan dibalas atas izin Allah. Api akan membakar wilayah Turki," tulis pernyataan ISIS yang beredar kemarin.

Ada dua gaya serangan teror yang menimpa Turki dua tahun terakhir. Militan Kurdi, yang ingin memisahkan diri dari Ankara, biasanya melakukan serangan menyasar aparat keamanan. Contohnya yang terjadi dalam pemboman di Kayseri, 17 Desember lalu. Insiden itu menewaskan 13 tentara. Sementara ISIS, kebalikannya, selalu menyasar warga sipil, terutama yang bisa menimbulkan korban di kalangan warga asing. Reina, sasaran penembakan malam tahun baru lalu, adalah klub yang banyak didatangi ekspatriat seputaran Istambul.

Iklan

Dari 39 korban tewas, 25 orang adalah warga asing. Sebagian besar berasal dari negara Jazirah Arab. Tujuh korban tewas adalah warga Arab Saudi, tiga dari Libanon dan Irak; dua dari Tunisia, Maroko, Yordania, dan India; dan masing-masing satu warga negara Kanada, Kuwait, Israel, Suriah, dan Rusia.

Adapun 11 korban tewas lainnya adalah warga negara Turki, serta satu orang punya paspor ganda Turki-Belgia. Satu korban tewas belum teridentifikasi kewarganegaraannya.

Sosok pelaku penembakan sebetulnya sudah teridentifikasi oleh kamera CCTV di luar klub. Dia meninggakalkan senapan serbunya beberapa saat setelah memberondong pengunjung. Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, menyatakan pelaku berhasil kabur di tengah kekacauan.

Media massa Turki menyatakan polisi masih menyelidiki identitas pelaku. Ada informasi jika sosok penembak punya ciri khas orang dari Asia Tengah. Polisi juga mendalami adakah kaitan pelaku dengan jaringan teror yang melakukan pemboman di Bandara Istambul pada Juni 2016.

Intelijen dan aparat keamanan Uni Eropa kini dalam status siaga tinggi setelah pelaku penembakan klub malam Istambul belum tertangkap. Beberapa hari sebelum Natal tempo hari, sebuah truk yang dikendarai pelaku teror menabrak kerumunan pasar malam di Kota Berlin, menewaskan 12 orang.