Berita

Reaksi Netizen Indonesia Usai Trump Terpilih Sebagai Presiden AS (Sebagian Besar Nyinyir Sih)

Trump menang, banyak orang Indonesia yang ikut tidak berbahagia, mengekspresikannya di medsos secara sendu maupun kreatif. Berikut kompilasi reaksi tersebut.
9.11.16

Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat belum lama diumumkan seluruh media massa besar. Di luar dugaan pakar dan lembaga survei, termasuk oleh netizen Indonesia, Donald John Trump mengalahkan pesaingnya Hillary Rodham Clinton.

Terpilihnya pemimpin baru Negara Adi Daya itu menjadi perhatian banyak pengguna Internet Indonesia. Salah satu jejaring sosial paling riuh adalah Twitter. Trump selama beberapa bulan terakhir dicitrakan negatif di Tanah Air. Pasalnya dia sempat mengusulkan larangan muslim masuk ke AS (belakangan dia meralat ucapannya sendiri dan menyebutnya baru sekadar wacana).

Iklan

Reaksi-reaksi netizen Indonesia sangat beragam–sekilas sebenarnya hampir semuanya berupa candaan nyinyir atas pilihan lebih dari separuh penduduk AS untuk menjadikan Trump sebagai orang nomor satu di Gedung Putih.

Salah satu pengguna Twitter berpengaruh di Indonesia Arian Arifin yang populer lewat akun @aparatmati, meyakini sosok politikus 70 tahun itu akan berdampak positif pada musisi antifasis. Trump kerap dituding fasis terselubung, yang akan menjadi materi lirik yang oke. "Trump menang berarti di masa mendatang bakal banyak karya-karya keren dari band-band hardcore punk."

Herry Sutresna, musisi hip hop sekaligus aktivis sosial yang menggunakan akun @lord_kobra, menulis twit dalam bahasa Inggris yang menghujam ke inti masalah: "Dickheads, Trump is the U.S version (and uncut remix) of you."

Di Facebook yang memberi keleluasaan memasang gambar, banyak pula netizen yang membuat sindiran bercitarasa lokal. Cepi Sabre, penulis asal Malang, memasang gambar Obama dengan caption yang dulu populer bagi pendukung Orde Baru.

"Siap dijadikan meme dengan tagline: "Piye kabare, iseh penak jamanku tho?"

Penulis dan penerjemah Ronny Agustinus lewat akun Facebook-nya, mengutip ucapan Carlos Fuentes yang pendek namun menyelekit: United States of Amnesia.

Selebritis Twitter, @arman_dhani, dalam twit berbahasa Inggris menilai guyonan soal Trump kurang pas. Pasalnya situasi AS di masa mendatang di bawah kepemimpinan Trump diyakini tak akan ramah pada penduduk minoritas kulit hitam, muslim, maupun imigran lainnya. "I don't see why praising Trump is good jokes right now."

Sebagian netizen populer lainnya menggunakan kabar Trump untuk mengomentari isu-isu dalam negeri. Contohnya I Gede Ari Astina penggebuk drum band Superman Is Dead, atau lebih populer dengan panggilan Jerinx. Dia mengkritik aksi intoleransi yang tempo hari melanda Jakarta. "Sedikitpun ga heran Trump menang. Its USA, dude. Yg saya heran; 'selebriti' terang2an hina presiden RI, ormas hina Pancasila, ga ditangkap."

Jurnalis Dandhy Dwi Laksono juga menyatakan terpilihnya Trump adalah lampu kuning bagi publik Indonesia yang menggemari sosok pemimpin kuat. "Berhentilah pura-pura heran bila Trump menang. Sebab kita tahu betul bagaimana di sini fasis pun bisa sangat populer."

Dan di luar semua itu, netizen yang bisa dibilang paling sedikit jumlahnya adalah mereka yang merayakan secara tulus kemenangan Trump. Fadli Zon, Wakil Ketua DPR, menjadi kalangan minoritas itu. Sebagai politikus Indonesia, yang hadir dalam kampanye Trump tahun lalu, reaksi Zon seharusnya tak mengejutkan: