Break the Stereo

Balerino dari Solo Terus Menari Sebagai Ibadah

Kami mewawancarai Siko Setyanto, sang balerino yang sejak kecil berusaha mendobrak batasan maskulintas.
25.4.17

Maskulinitas adalah konsep yang sebenarnya sangat cair. Faktor apakah yang menentukan seseorang dianggap maskulin? Apakah norma sosial? Bisakah stereotipe maskulinitas bisa berubah seiring waktu?

Siko Setyanto, seorang penari balet yang kini menonjol dalam kancah seni Indonesia, berusaha selalu melampaui berbagai citra-citra maskulin. Dia mengalami sendiri betapa ide mengenai maskulintas nyaris merenggut cita-citanya. Siko, yang lahir dan besar di Kampung Sewu, Kota Surakarta, Jawa Tengah, terpukau melihat tari monyet di Taman Hiburan Sriwedari ketika masih di Sekolah Dasar. Namun ketika dia ingin menempuh karir dan belajar menjadi penari, kawan-kawan sebaya di sekolah mulai mengolok-olok dirinya. Dia sempat ingin menyerah.

Iklan

"Saya termakan stigma kan. Bahwa, tari itu dunianya perempuan, bukan dunianya laki-laki. Laki-laki main bola, lah, apa, lah, yang lebih manly, lah," ujarnya.

Siko belajar tari balet langsung dari maestro tari Wied Sendjayani, yang memimpin Sanggar Maniratari. Dia berlatih bertahun-tahun. Kini, Siko menetap dan mencari nafkah di Jakarta. Sehari-hari, Siko mengajar tari dan koreografer. Tahun lalu, dia menerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola berkat gubahannya yang bertajuk 'Nol'. Tari membawanya dari sudut kampung Solo melanglang buana. Walau tak pernah benar-benar mempelajari langgam tari Jawa, koreografi Siko yang terdidik dalam mazhab balet dan modern jazz justru menampilkan citarasa tradisional; hasil pengalaman hidupnya sebagai manusia asal Jawa. Dalam seri perdana 'Break The Stereo' bersama AXE, Siko menceritakan pengalamannya sebagai penari balet kepada VICE Indonesia. Kami menemui Siko di rumah mungilnya daerah Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Selama ngobrol, kami membahas banyak hal bersama penari 34 tahun itu. Tentang bagaimana dia mengekspresikan diri lewat gerakan,sampai akhirnya berhasil merobohkan konstruksi maskulinitas yang akan menghalanginya berkreasi.

Sejak kapan anda merasa ingin memutuskan terjun belajar tari?
Siko Setyanto: Saya menjalani tari, tidak memutuskan terjun ke sana. Saya mulai belajar dari usia 9 tahun. Itu pun mulai dengan pola yang 'ngikut dulu'. Pertama kali saya diajak ke Sanggar Maniratari, sanggar saya. Umur sembilan tahun saya melihat tarian yang untuk saya tuh keren sekali, lagunya pun sampai sekarang saya inget. Setiap detail lagunya itupun saya inget. Judulnya "Lady of Dream", lagunya Kitaro. Itu kakak senior saya, Mas Kamto dan Mbak Ayu. Mereka duet.

Iklan

Di situ saya melihat elemen yang, "Wah, indah lho." Tari itu indah. Nah, hati saya kebawa ke situ. Itu meracuni saya. Meracuni sampai berapa bulan. Saya di sekolah teringat terus. Kelas empat SD itu saya selalu mengingat keindahannya. Mungkin nggak detail semua koreografinya. It was amazing. Saya bilang gitu terus di dalam hati.

Kabarnya anda dicemooh kawan-kawan ya ketika dulu mulai belajar tari?
Iya, sempat malu. Karena saya termakan dengan stigma, kan. Bahwa, tari itu dunianya perempuan, bukan dunianya laki-laki. Laki-laki main bola, lah, apa, lah, yang lebih manly, lah.

Krisis identitas itu pasti ada, karena masa SMP gitu kan masa-masa teman-teman mempertanyakan. Yang mestinya kalau anak-anak SMP itu kan genjrang-genjreng gitaran, nge-band lah, atau mainan Tamiya lah jaman saya kecil dulu, atau mainan Sega lah, apa dulu. Kok main — kok nari gitu kan. Balet lagi.

Kenapa memutuskan terus belajar?
Setelah menjalani, pelan-pelan ada rasa tenang, gitu lho. Belum, yakin belum. Tenang dulu, bahwa ini nggak gampang, kok. Sekarang saya bisa menelaah kan apa yang saya lakukan dulu. Kalau dulu saya melakukan, melakukan karena atas dasar susah, hal yang susah itu keren, gitu lho. Bahkan saya setiap hari Rabu dan Sabtu di sekolah nggak konsen lagi saat di sekolah. Saya udah nungguin ingin cepat pulang setiap jam tiga sore karena saya harus latihan. Hari Rabu saya latihan classical ballet, hari Sabtu saya latihan modern jazz.

Seberapa penting sih tari balet untuk anda?
Lewat tari saya sedang beribadah dan sedang berdoa bersama Tuhan. Saya selalu bilang gitu ke murid, teman, atau siapapun yang dekat dengan saya. Jadi saya kalo nari tuh kayaknya ada ada elemen besar di belakang saya yang menguatkan saya. Ego positif saya muncul, ratusan orang itu harus ngeliatin saya.Soalnya, penari banyak, penari semuanya menyenangkan dilihat. Tapi kita harus menjadi spesial, karena kita dihadirkan di hidup ini spesial. Hidup saya ya udah di panggung itu, gitu lho. Kalo udah di panggung, keluar, udah menjadi manusia biasa. Egga perlu jadi kayak superstar syndrome gitu-gitu. Itu malah justru jadi virus gitu menurut saya ya. Jadi, saya terus… terus-terusan bilang, "Ini tuh ibadah! Kalau ibadah nggak tulus, selesai hidupmu!"

Stereotipe kalau laki-laki tidak sepatutnya menari menurut anda bagaimana?
Saya men-challenge diri untuk melawan stereotipe, saya tetap tinggal di pekerjaan saya. Saya tetap menghidupi, kehidupan saya dalam tari dengan baik. Menghidupi itu dalam artian, ya, terus mengembangkan apa yang saya tahu, termasuk lingkungan pekerjaan saya. Dalam artian juga merangkul orang-orang yang mau kerja bersama saya.

Anda memutuskan pindah dari Solo ke Jakarta. Ada yang terasa beda di mata anda sebagai seniman?
Yang pasti Jakarta menawarkan banyak hal, ya. Dalam hal ini, saya anak kampung, anak desa, anak kota pinggiran itu ngerasa, "Kayak apa ya Jakarta ya?" Pasti pas — banyak tanda tanya yang saya pengen tahu, waktu itu ya. Selain memang kesempatan sebenarnya apa adanya nih, Jakarta untuk show business lebih banyak Nah, saya dua garis nih, kayak sebelah kanan untuk idealisme,dengan pengkaryaan yang skalanya konvensional, untuk panggung-panggung apresiatif. Yang kiri, show business. Nah, maksudnya adalah untuk mensuplai kehidupan saya disini. Karena ini apa adanya juga kok. Kalau bikin karya-karya skala serius, di Jakarta ini nggak ada duitnya. Memang sih ada beberapa yayasan yang membantu, tapi itu juga nggak men-cover segalanya.Sebagai professional, nggak nyampe itu untuk menutup biaya.

Segala polemik-polemik yang ada disini dengan politik dengan semua yang kotor jadi bersihnya, Itu menginspirasi saya. Baik visual, maupun yang ada dalam hati dan pikiran saya. Karena itu yang saya rekam. Multikulturnya juga beda banget sama di Solo. Saya ketemu dengan orang dengan bahasa yang macam-macam dengan kehidupan yang aneh-aneh. Nah, itu, melengkapi saya.