Korupsi FIFA

Mantan Presiden Barcelona FC Ditahan Karena Terseret Kasus Korupsi FIFA

Penyelidikan kasus korupsi FIFA oleh FBI tak pernah menyentuh klub-klub besar dunia. Namun, situasi berubah setelah Sandro Rosell ditangkap minggu ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Selasa pagi waktu setempat, kepolisian Spanyol menahan mantan presiden klub sepakbola Barcelona Sandro Rosell dalam rangkaian penyelidikan pencucian besar-besaran Federasi Sepakbola Dunia (FIFA). Menurut laporan surat kabar El Confidencial, penangkapan Rosell masih ada hubungannya dengan penyelidikan FBI terhadap FIFA yang dikembangkan dua tahun terakhir.

Iklan

Seperti kasus pencucian uang yang menyeret petinggi FIFA, detail kejahatan Rossel teramat rumit untuk dipahami. Satu alasannya, bung dan nona, kasus cuci uang sejak awal dirancang untuk menyembunyikan uang haram. Setidaknya, yang bisa kita pahami dari hasil penangkapan tersebut, terungkap bila Rossel dituduh menerima suap lewat perusahaan pemasaran olahraga miliknya saat menjual hak penyiaran pentandingan timnas Brasil. Ketika menjabat presiden Barcelona pada tahun 2010, Rosell "menjual" perusahaan pemasarannya, Bonus Sports Marketing, kepada temannya, Shahe Ohannesian. Seperti yang dilansir El Confidencial, tindakan ini cuma akal bulus belaka menghindari tuduhan konflik kepentingan. Sejatinya, Rosell masih sepenuhnya mengendalikan Bonus Sports Marketing selama menjadi orang nomor satu di Barca, termasuk ketika Barcelona membeli striker kenamaan Brasil Neymar, sebuah pembelian yang mencurigakan bagi aparat Spanyol sejak lama. Hingga kini Barcelona, Rosell dan Neymar tengah menjalani investigasi atas tuduhan mengemplang pajak dan korupsi.

Presiden federasi sepakbola Brazil yang menjabat dari tahun 1989 sampai 2012, Ricardo Teixeira, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi FIFA. Teixeira dituduh menerima suap sebesar $15 juta (setara Rp200 miliar) dari Nike sebagai tanda jadi kesepakatan pemasaran produk olahraga pada 1996. Pada tahun 1998, Rosell pindah ke Rio de Janeiro untuk mengepalai divisi Amerika Latin Nike. pada saat itulah, Rosell banyak mengelola kontrak Nike di Brazil dan sering bekerja sama dengan Teixeira.

Dalam kasus terpisah, kepolisan Perancis tengah menyelidiki kasus pemalsuan pajak yang melibatkan tiga pesepakbola asal Argentina. Pihak kepolisian Perancis menggeberek kantor Paris Saint Germain serta tempat tinggal Angel Di Maria, Javier Pastore, dan Emiliano Sala. Bloomberg dalam laporannya menyebutkan PSG ditengarai membantu ketiga pemain tadi mengemplang kewajiban membayar pajak. Menurut laporan yang dilansir oleh Associated Press, penyelidikan ini bermula dari sebuah berkas yang dibocorkan oleh Football Leaks. Tiga orang pemain asal Argentina ini menambah panjang daftar pesepakbola kenamaan yang tersangkut kasus pengemplangan pajak. Nama-nama besar itu misalnya Samuel Eto'o, Lionel Messi, Neymar, Javier Mascherano, Alexis Sanchez, Cristiano Ronaldo, hingga Mesut Ozil.

Kasus Neymar—serta keterkaitannya dengan tuduhan pencucian uang oleh Rosell—menunjukkan kecurangan dan korupsi sangat mungkin tumbuh subur dalam klub sepakbola profesional. Sebuah kesebelasan yang disegani dari Catalan ternyata dikelola koruptor. Godaan bertindak curang, mengingat semakin tingginya nilai kontrak pemain kelas dunia—beberapa tahun ini seringkali tembus angka miliran Dollar—membuka peluang petinggi sepakbola dunia berperilaku lancung.

Industri sepakbola sebenarnya dunia yang sempit. Rasanya tinggal tunggu waktu sebelum kita membaca berita tentang pengungkapan kasus korupsi di klub-klub beken lainnya dari Benua Biru.