FYI.

This story is over 5 years old.

ISIS dan terorisme

Raqqa ‘Dibebaskan’ Oleh Pasukan Koalisi, Tapi Mimpi Buruk Belum Berarti Selesai

Sebagian besar penduduk Raqqa menyambut gembira keberhasilan pasukan koalisi merebut kembali kota mereka. Ada yang menyebut ini bukan pembebasan, hanya pemindahan kekuasaan dari milisi satu ke milisi lain.

Operasi militer yang didukung Amerika Serikat terhadap Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mencatatkan kemenangan berharga minggu ini saat pasukan koalisi berhasil merebut kembali kota Raqqa di Suriah Utara. Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Saat pasukan koalisi memegang kendali atas kota yang pernah dianggap sebagai ibu kota kekalifahan ISIS, kondisinya sudah porak poranda. Menurut Raqqa Is Being Slaughtered Silently, kelompok jurnalisme warga yang telah mendokumentasikan kejahatan ISIS sejak menduduki Raqqa 2014 silam, lebih dari 95 persen wilayah Raqqa hancur. "Banyak keluarga yang seluruh anggotanya terkubur dalam puing-puing bangunan. Sampai saat ini, kami masih berusaha mencari keberadaan warga yang hilang begitu saja." ujar Abdel Aziz al-Hamza, juru bicara kelompok tersebut pada saya awal minggu ini.

Iklan

Di saat yang sama, penduduk yang selamat keluar dari Raqqa dan berhasil menghindari kekejaman ISIS serta gempuran pasukan koalisi harus puas hidup dalam kamp pengungsian di pinggiran kota. Menurut Abdel Aziz, kamp Ain Aissa yang terletak sekitar 48 km di utara Raqqa saja kini dihuni 100.000 jiwa. Jumlah ini jauh melampui sisa penduduk yang bertahan di dalam kita. Angka total penduduk terusir sejak operasi militer merebut kembali Raqqa dari tangan ISIS dimulai Juni lalu mencapai 450.000, menurut Hamoud al Mousa, advokat lainnya yang bekerja di Raqqa Being Slaughtered Silently.

Baca artikel VICE lain yang membahas tentang ISIS

Menyadari kekalahan sudah di depan mata, beberapa minggu terakhir ISIS seakan mengambil opsi bumi hangus. Mereka membunuh lebih banyak orang dari biasanya dan menamam ranjau hampir di setiap penjuru kota. "Mereka memasang peledak di kulkas, mesin cuci, kamar mandi dan panci. Pokoknya apapun bisa jadi tempat menaruh ranjau," tutur Abdel Aziz. "Hampir tiap hari, kami mendengar ada orang tewas karena ranjau saat mencoba kembali ke rumahnya. Beberapa hari lalu, saya kehilangan seorang kawan. Tubuhnya hancur karena ledakan ranjau mencoba membuka pintu rumahnya." Namun, kendati kekejaman ISIS telah banyak didokumentasikan, beberapa penduduk dan mantan penduduk Raqqa dibuat frustasi oleh persepsi bahwa operasi pembebasan Raqqa bukanlah takdir yang mereka inginkan. Mereka juga takut identitas Raqqa sebagai sarang perlawanan terhadap presiden Bashar Al-Assad. Tak sampai dua tahun setelah revolusi Suriah meledak pada 2011, kota berubah menjadi kota yang sepenuhnya kacau balau. Zaina Erhaim, wartawan pemenang anugrah jurnalisme yang menggelar lokakarya media di wilayah-wilayah yang dikuasai kaum pemberontak mengenang organisasi sipil di Raqqa "melakoni aktivitas yang digolongkan tabu oleh pemerintah Suriah seperti membela hak-hak perempuan, HAM dan hak berekspresi." "Mereka bahkan menerbitkan puluhan surat kabar yang mengkritik banyak hal hal termasuk pasukan bersenjata yang merebut Raqqa dari pemerintah Suriah," kata Erhaim.
Ketakutan yang kini menyebar di antara warga Raqqa, termasuk mereka yang sudah mengungsi, adalah pasukan pemberontak akan membangun kembali Raqqa dan merombaknya sekehendak mereka hingga menjadi kota yang tak dikenali penduduknya. "Perasaan saya tak karuan menyangkut operasi merebut kembali Raqqa," ujar seorang warga Raqqa yang sudah lebih dulu lari ketika ISIS masuk kotanya. Kepada kami, dia meminta data dirinya dirahasiakan karena keselamatannya akan terancam. "Saya sih sebenarnya tak mau ISIS dihancurkan. Tapi, di saat yang sama, kami mau balik ke mana. Raqqa sudah hancur lebur. Mirip seperti Kobani, kami sadar kota kami akan dibiarkan hancur. Tak akan ada yang membangunnya kembali dalam waktu dekat." Beberapa mantan penghuni Raqqa mengungkapkan kekhawatirannya bila Syrian Democratic Forces (SDF), grup pemberontak paling berpengaruh yang ikut memimpin operasi perebutan kembali Raqqa bakal segera memulai bentuk penjajahan mereka sendiri—meski jelas jauh lebih moderat dari ISIS. Mereka sudah mengungkit-ungkit tuduhan pelanggaran HAM di masa lalu yang dilakukan YPG, grup paramiliter Kurdi yang digembosi oleh SDF. "Ketika kelompok radikal diberi wewenang untuk memimpin operasi pembebasan, kedamaian yang mereka bawa tak akan langgeng," ujar warga lainnya. Dia lari dari Raqqa pada 2014 dan kini tinggal di Turki. "Belum lagi, Irak dan Suriah belum pulih benar dari sektarianisme yang dipicu kemunculan ISIS. makanya, saya malas menyebutnya sebagai operasi pembebasan." Malah, sebagian warga Suriah menganggap serangan udara pasukan koalisi yang memperparah kondisi Raqqa—dan pada gilirannya memudahkan pasukan koalisi mencapai kemenangan—sebagai sesuatu yang diperlukan. "Yang menyedihkan adalah serangan-serangan ini diperlukan untuk mengusir ISIS dari Raqqa," ucap aktivis Suriah yang kini hidup dalam pengasingan beberapa hari sebelum Raqqa kembali direbut. "Saya tak bisa menemukan cara lain untuk mengusir ISIS dari ibu kota kekhalifahan mereka." Di sisi lain, pemboman yang digagas oleh AS—yang meminta korban ratusan penduduk non-ISIS—menjadi preseden buruk bagi kancah politik di daerah Raqqa. "Saya malah khawatir penduduk Raqqa akan teradikalisasi setelah menjadi saksi pemboman AS," ujar sang aktivis yang kini hidup di Turki itu. Tentu saja, peluang teradikaliasi juga dimiliki oleh mereka yang menyaksikan kekejaman tentara Assad—sebuah ironi yang tak bisa dinafikan mereka yang menangisi nasib kampung halaman mereka, Raqqa.
"Penggunaan kekerasaan dan tindakan brutal lah yang memicu radikalisasi warga Raqqa. Susah mengharap penduduk yang menyaksikan sanak saudaranya masuk liang lahat gara-gara serangan udara AS tak lantas teradikalisasi," ujar aktivis kedua yang juga hidup dalam pengasingan. "Mereka terlalu lelah dengan semua ini dan ingin perang cepat selesai."