Kuliner Kontroversial

Sebagian Pasokan Daging B1 di Medan Justru Dari Pemilik Anjing Peliharaan

VICE melacak asal bahan baku masakan kontroversial di Sumatra Utara. Hasilnya mengejutkan.
21.11.17

Di Medan, mudah sekali menemukan penjual masakan daging anjing. Kamu tinggal menyusuri Jalan Jamin Ginting, buka telinga lebar-lebar. Tunggu saja. Hanya dalam sekian detik pasti terdengar gonggongan anjing. Jalan Jamin Ginting kesohor sebagai surganya restoran daging anjing, yang kerap disamarkan pakai sebutan 'B1'—julukan ini berasal dari kata “Biang” yang dalam bahasa Batak berarti anjing. Saya masuk Warung Jhon, restoran yang bangunannya terbuat dari kayu. Pintunya terbuka. Bau rokok menguar dari dalam restoran menyertai wangi daging anjing yang sedang dipanggang.

Iklan

Normintargian, sang pemilik restoran segera menyambut saya. Dia menyodorkan menu berisi beragam olahan daging anjing: sop anjing, barbekyu daging anjing, hingga saksang, semacam kari daging anjing yang biasanya disajikan dengan daging babi. Apapun makanan yang kita pilih, daging anjingnya sudah pasti dimasak lengkap sama rempah-rempah seperti jahe, merica putih dan serai guna menyembunyikan cita rasa bau daging anjing yang menyengat. Pertanyaan pertama saya buat Normintargian, kenapa sih banyak orang suka makan daging anjing?

“Habisnya daging anjing kan enak,” ujarnya lempang.

Daging anjing merupakan menu utama dalam khazanah kuliner Batak sejak berabad-abad lalu. Umumnya, olahan daging anjing disajikan di wilayah yang dihuni mayoritas Kristen. Sejak lama, daging anjing dipandang sebagai penambah stamina dan obat beberapa penyakit. Terlebih lagi, harga daging anjing jauh lebih murah dibanding daging babi. Bermacam keunggulan inilah yang membuat daging anjing begitu populer di komunitas non-Muslim tinggal di Sumatra Utara.

Walaupun populer, bukan berarti masakan berbahan anjing bebas dari kontroversi di Sumut. Daging anjing dianggap najis (kotor) sehingga diharamkan oleh komunitas Muslim Indonesia—meski, menurut pengakuan banyak pelanggan Warung Jhon, beberapa pemeluk agama Islam mengonsumsi daging anjing untuk tujuan pengobatan alternatif.


Tonton Liputan VICE Tentang Festival Makan Daging Anjing di Yulin


“Saya sering mengantar banyak orang Islam ke sini,” ujar Abet, sehari-hari menjadi taksi online. “Gampang kok mengenalinya. Mereka biasanya pakai Peci. Saya sering mengantar mereka dari rumah sakit jadi mereka bisa langsung makan sup anjing kalau pas sakit.”

Lalu, ada juga segelintir penyayang binatang yang menuding penjualan daging anjing sebagai industri kejam. Koalisi Dog Meat Free Indonesia mencatat cuma 7 persen penduduk Indonesia menyantap olah daging anjing. Masalahnya, angka serendah itu berarti tetap ada jutaan anjing yang harus dibunuh saban tahun. Kampanye memerangi penjualan daging anjing belakangan makin populer, sampai menarik perhatian pesohor macam Ricky Gervais dan Chelsea Islan.

Itulah sebabnya saya keluyuran sepanjang Jalan Jamin Ginting memahami proses perdagangan daging anjing di Medan. Saya penasaran, dari mana sih datangnya daging anjing ini. Selain itu, ada beberapa pertanyaan yang masih wara-wiri di kepala saya. Misalnya, apa ada semacam peternakan anjing di pinggiran Medan? Atau apakah daging-daging anjing yang dioleh menjadi beragam santapan ini berasal dari binatang peliharaan yang dicuri, seperti yang sering digembar-gemborkan?

Setelah kami telusuri, fakta sebenarnya adalah kombinasi dari keduanya yang sangat mengejutkan.

Iklan

Normintargian bilang semua daging anjing yang dijajakan di Warung Jhon berasal peliharaan orang lain. Warung Jhon tak mengutus sekelompok pemburu anjing menggasak peliharaan orang yang berkeliaran di jalanan. Beberapa anjing dibeli lewat perantara yang mengiming-imingi pemilik anjing dengan sejumlah uang, agar mereka mau melego peliharaannya. Ada juga pemilik anjing datang langsung ke Warung Jhon menjual anjing mereka. Biasanya, anjing-anjing seperti ini dijual karena susah diurus atau terlalu tua.

“Beberapa hari yang lalu, seekor anjing dijual karena terus-terusnya menggigit sepatu majikannya. Makanya yang punya pengen buang anjing itu,” kata Normintargian. “Kadang kita juga dapat anjing German Shepherds. Awalnya anjing jenis ini dibeli jadi penjaga ternak. Cuma kadang, ada beberapa yang terlalu galak. Makanya si pemilik memutuskan untuk menjualnya.”

Daging German Shepherds sebenarnya kurang enak dimasak. Tekstur dagingnya terlalu kuat, kata Normintargian. Perempuan ini lebih memilih daging anjing yang lebih kecil dan lebih muda. Daging anjing kecil biasanya lebih manis dan lembut. Anjing muda dijual seharga Rp 40.000 per kilogram. Anjing-anjing lucu ini biasanya dijagal beberapa hari setelah dilego ke Warung Jhon.

Sebentar, bukannya Warung Jhon seharusnya menunggu beberapa hari untuk memastikan anjing-anjing yang mereka terima tak mengidap rabies? Rabies adalah virus yang endemik di kawasan Asia Tenggara. Menurut data yang dilansir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 96 persen kasus rabies berasal dari anjing terinfeksi.

Iklan

Normintargian mengatakan beberapa pekerja restorannya ditugaskan memeriksa apakah anjing-anjing dibeli Warung Jhon mengidap rabies. Para pegawai ini memantau apakah ada anjing yang menunjukkan gelagat yang aneh. Sayangnya, permintaan daging anjing terlalu tinggi sementara pasokan yang sampai ke Warung Jhon bisa dibilang seret.

“Jadi, anjing-anjing yang kami dapat dijagal beberapa hari setelah sampai,” ujar Normintargian. “Daging anjing di sini cepat datang dan cepat habis juga.”

Saya keluar dari bangunan restoran menuju halaman belakang restoran untuk melihat bagaimana anjing-anjing di Warung Jhon dijagal. Ada enam ekor anjing dengan ukuran yang berbeda-beda yang ditempat dalam kadang logam yang sempit. Tak jauh dari situ, saya menjumpai seorang pria Batak berusia 23 tahun. Namanya Fernando. Dia bertugas menjagal anjing-anjing yang sampai ke Warung Jhon. Fernando tampak malu dan menghindari pandangan mata saya. Tingkah polahnya bikin saya penasaran, jangan-jangan pria ini tak punya taji untuk menghabisi anjing—binatang yang kerap dianggap sebagai sahabat terbaik manusia.

Fernando buru-buru mengaku bahwa sejak kecil dirinya terbiasa makan daging anjing di kampung halamannya di pinggiran Danau Toba. Hari itu, kebutuhan daging anjing Warung Jhon sudah terpenuhi jadi Fernando tak perlu membunuh satupun anjing lagi. Untungnya, sang jagal anjing ini mau berbaik hati menceritakan caranya menghabisi anjing—tentunya, kali ini, tanpa harus membunuh anjing.

Iklan

Pertama, Fernando terlebih dahulu memukul kepala anjing dengan tongkat besar hingga sasarannya tak sadar. Dia kemudian mengikat kaki anjing dengan tali. Ujung tali itu kemudian diikat lagi ke sebuah tiang. Ini, katanya, untuk jaga-jaga bila sang anjing sadar sebelum Fernando menikamkan belatinya ke dada sang anjing.

“Begini tekniknya biar anjingnya enggak ngelawan,” katanya.

Setelah diikat, Fernando menusukkan pisaunya ke jantung anjing dan mengumpulkan darah yang keluar untuk dijadikan kuah. Badan anjing kemudian dilemparkan ke sebuah api yang menyala. Ini dilakukan untuk menghilangkan bulu anjing sebelum dagingnya dipisahkan dari organ-organ dalam dan tulang.

Saya berjongkok di satu sisi kandang logam. Seekor anjing berdiri dan mengebas-ngebaskan ekornya. Mata saya beradu dengan sepasang matanya yang berwarna coklat. Saya lantas bertanya pada Fernando apakah dirinya pernah merasa kasihan setelah menghabisi nyawa begitu banyak anjing. Dia cuma menggeleng dan bilang bahwa itu adalah pekerjaannya.

Kembali ke dalam restoran, Normintargian memamerkan beberapa menu terbaiknya. Dia menghidankan sepiring daging anjing panggang, sepiring kuri saksang dengan saus darah anjing dan semangko sup daging anjing. Tak lupa, dia juga menyuguhkan segelas nira yang manis di atas meja.

Bagi yang tak terbiasa menyantap daging anjing, aromanya bikin nafsu makan menghilang dalam sekejap. Baunya seperti daging kambing yang menusuk, sementara penampakkannya seperti olahan babi char siu. Kuah karinya terlalu encer, penuh dengan jeroan, dan sisa potongan daging.

Beberapa saat, mata saya terpaku masakan Warung Jhon yang terhidang di meja. Saya akhirnya tak sampai hati menyantapnya. Ada bagian dari diri saya yang was-was kalau-kalau anjing-anjing ini mengidap penyakit berbahaya sebelum dijagal. Di saat yang sama, sebagian diri saya tak tega memakan daging anjing yang beberapa hari lalu masih jadi peliharaan orang.

Terus, apakah Normintargian pernah memiliki rasa sayang pada anjing-anjing di warungnya? Apa dia pernah merasa kasihan pada makhluk yang dianggap sebagai taman hidup terbaik manusia? Nyatanya tidak. Perempuan itu berbagi tips agar tak jatuh kasihan pada anjing-anjing yang dia jajakan dagingnya, katanya. Kadang, Normintargian memberi nama pada anjing-anjing yang hendak dijagal. Dua anjing yang ada di luar restoran, misalnya, diberi nama Sule dan Andre.

"Andre sama Sule kayak nama seleb terkenal itu bu?" tanya saya

"Iya," sahutnya. "Kami selalu pakai nama seleb."