serba-serbi peliharaan

Kata Penelitian, Sifat Anjingmu Biasa Saja dan Tidak Spesial

Peneliti mendalami ratusan penelitian untuk membuktikan apakah anjing memang lebih unik dari spesies lain.
2.10.18
Foto via Shutterstock

Kamu mungkin berpikir kalau anjingmu jenius setiap kali dia menjabat tanganmu supaya dapat treat. Tapi, asal kamu tahu saja sob, penelitian menunjukkan kalau anjing sebenarnya tidak spesial-spesial amat. Peneliti dari University of Exeter dan Canterbury Christ Church University menjajaki bias terhadap anjing dalam penelitian, dan mereka menemukan bahwa kemampuan kognitif anjing tidak begitu istimewa jika dibandingkan dengan spesies lain yang relatif cerdas, seperti serigala, kucing, hyena, simpanse, dan lumba-lumba.

“Saat kami melakukan penelitian, kami menemukan banyak studi tentang kemampuan kognitif anjing yang ingin ‘membuktikan’ betapa cerdasnya mereka,” kata Stephen Lea, dosen University of Exeter dan ketua penelitian, dalam sebuah siaran pers.

"Anjing sering dibandingkan dengan simpanse dan setiap kali anjing ‘menang,’ maka ini menjadi nilai tambah bagi reputasinya. Namun, kami menemukan di setiap kasus bahwa spesies pembanding yang valid lainnya melakukan sesuatu secerdas anjing."

Iklan

Peneliti mendalami 300 penelitian tentang kecerdasan hewan untuk menarik kesimpulan ini. Mereka meninjau kemampuan sensorik, fisik, spasial, sosial dan mawas diri atau refleksinya.Temuan mereka diterbitkan pekan lalu dalam jurnal Learning & Behavior .

Para ilmuwan sudah lama menjadikan anjing sebagai subjek penelitian psikologi; Percobaan pengkondisian Pavlov hanyalah salah satu contoh populernya. Anjing menjadi subjek penelitian yang bagus karena tidak dikurung, mudah ditemukan, dan telah dibesarkan selama beberapa generasi untuk menanggapi perintah manusia dan melakukan tugasnya.

Sama seperti spesies lainnya, anjing punya keunikannya sendiri. Akan tetapi, peneliti mengatakan bahwa tidak ada yang spesial dari hewan karnivora yang sudah dijinakkan dan pintar bersosialisasi.

“Kami tidak menaruh harapan besar kepada anjing,” kata Britta Osthaus, salah satu peneliti dari Canterbury Christ Church University, dalam siaran pers. “Anjing ya anjing, dan kita perlu memerhatikan kebutuhan dan kemampuannya saat mempertimbangkan cara memperlakukan mereka.”