Hal-hal Aneh yang Dilakukan Tamu di Resto Sushi All-You-Can-Eat
Foto oleh Epicurrence Unsplash

Hal-hal Aneh yang Dilakukan Tamu di Resto Sushi All-You-Can-Eat

Enggak mau ketahuan ninggalin makanan sisa, ada tamu yang buang sushi di pot tanaman di depan restoran.
Elia Alovisi
Italy
11.10.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES Italy.

Untuk seorang seumuran saya, restoran sushi all-you-can-eat (AYCE) bukanlah suatu yang aneh. Kami sudah terbiasa dengan warna merah darah atau gelap dalam dekorasi restoran, konter di bagian depan di mana sajian cold plate disiapkan, dapur tempat makanan hangat dimasak yang tersembunyi di balik gorden serta menu yang isinya sudah kami hafal di luar kepala. Yang pasti, restoran sushi adalah tempat yang aman, mudah ditebak, dan karenanya sangat mengasikkan.

Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di balik konter restoran sushi all-you-can-eat? Apa pendapat koki muda yang menyusun sushi roll pesanan kita tentang kita? Atau apapula yang terlintas di benak pelayan yang dalam 10 menit menggelar begitu banyak piring di meja kita padahal dia tahu kita tak akan bisa menghabiskan semuanya? Atau apa yang dipikirkan pemilik restoran yang terus menerus melayangkan pandangannya ke arah semua pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantar saya ke pintu-pintu 30 restoran AYCE di sekitar Milan.

Hal pertama yang saya temukan dari para staff AYCE adalah mereka sangat irit bicara. Itu masih mending. Ada juga langsung mengarahkan kamu ke penyelia mereka yang tentu saja tak punya waktu lowong meladeni kalimat macam "Hello saya dari MUNCHIES, vertikal kuliner VICE." Ada juga beberapa staff yang merasa tak ada yang menarik dari pekerjaan mereka. Yang seperti ini biasanya bakal ngegerundel atau ngomong "Maaf, maaf bisa enggak ganggu saya tidak?. Akhirnya, setelah bolak-balik dari satu restoran ke restoran lainnya, saya akhirnya menawarkan bakal merahasiakan identitas siapapun yang mau ngobrol dengan saya.

Wei*, 25 Tahun

"Pelanggan yang memesan nigiri, futomaki, uromake dan chirashi segera setelah duduk biasanya tak akan menghabiskan apa yang mereka pesan."

Strategi saya berhasil. Saya berhasil ngobrol dengan Wei, pria berumur 25 tahhun yang bekerja di sebuah restoran all you can eat di tengah kota Milan. Saya bertanya pada Wei tentang jenis pelanggan yang menurinya paling nyebelin. Wei diam sejenak lalu angkat bicara "pelanggan yang ngorder terlalu banyak." Mendengar jawaban ini, saya langsung sadar akan kemampuan pelayan restoran mengenali pelanggan yang kecele menakar kemampuan perutnya sendiri. "Ada pelanggan yang langsung memesan nigiri, futomaki, uramaki, maki dan chirashi tak lama setelah duduk," ujar Wei, "Kalian langsung tahu kalau mereka tak bisa menghabisan apa yang mereka pesan."

Saya harus mengakui pernah menggunakan taktik ini dan saya pernah melakukannya. Setiap kali bagian otak yang mengatur saya agar tak telalu banyak makan korslet, saya langsung menggila begitu mendengar kata "tiger roll." saya cuma makan setengah Urumaki, itu pun cuma isinya. Jadi, ada banyak nasi yang tersisa di piring saya. saku menghancurkan nigiri menjadi potongan kecil dan menyebarkannya di piring yang tersisa di atas meja. Saya juga menyembunyikan sisa-sisa chirasi di bawah serbet dan berdiri meninggalkan meja dengan sedikit mulu. Saban kali saya melakukan ini, saya begitu yakin tak ada yang tahu. Sayang, itu semua cuma ilusi. Wei bilang "Kami lihat semua kok. Kami terbiasa dengan orang yang tak bisa menghabiskan pesanannya. Biasanya kami biarkan saja. Bukan perkara besar ini."

Saya lega mendengarnya. Setidaknya, restoran all-you-can-eat tak rugi-rugi amat lantaran perilaku saya. Lalu, saya tanya apa ada tindakan curang pelanggan yang tak pernah diikhlaskan Wei. "Ada dong," jawab Wei. "Saban kali ada pelanggan yang mengakui masakan pesanan mereka, saya tahu apa saja yang mereka pesan, apa yang mereka terima dan apa yang belum sampai ke meja mereka." Di tempat Wei bekerja, pelayanan menggunakan layar LED mungil yang dilengkapi stylus untuk mencatat pesanan. Jadi, kalian boleh-boleh makan habis-habisan, tapi kalau sudah terlalu banyak makan. Plis deh jangan sok-sok mengklaim bahwa kamu tak pesan Udon walau aslinya dua mangkok sudah kamu tandaskan.

Shi*, 20 Tahun

"Saya pernah lihat nigiri yang dibuang di pot tanaman di depan restoran. Kadang, ada jga yang disembunyikan di sebuah gayung. Suatu kali seorang pelanggan yang mabuk berat melempar sumpit ke arah saya.."

Restoran tempat Shi bekerja lebih besar dari restoran-restoran sejenisnya: sebuah bekas gudang/toko besar yang dialihfunsgikan sebagai buffet AYCE yang menawarkan segalanya dari pasta seafood hingga beragam daging. Shi memang tak pernah diribetkan dengan pesanan; ini adalah sebuah restoran swalayan. Tetap saja, Shi masih harus mengawasi apa saja yang diambil tiap pengunjung. "Kebanyakan pengunjung berusaha menyembunyikan nasi," aku Shi. Perilaku macam ini muncul lantaran sistem swalayan restoran itu. Selama kamu mikir kalau pelayan tak cuma bisa lihat dari jauh, kamu jadi merasa aman-aman saja saat menggondol delapan nigiri dalam kantong bajumu.

Shi pun sesekali menemukan pelanggan yang kreatif. "Saya pernah lihat nigiri di dalam pot tanaman di depan restoran," katanya," kadang nigiri juga ditemukan bersama sampah dapur." Di kesempatan lain, Shi harus berhadapan dengan pengunjung yang menyebalkan. "Bahasa Italia saya lumayan sebenarnya. Tapi, kadang para pelanggan bersikap seakan saya tak mengerti apa-apa. Itu enggak enak banget. Ada juga yang berteriak-teriak kalau piring mereka kosong. Selama kamu bisa tenang, kamu bisa menjelaskan pada mereka kalau santapan yang baru bakal segera disajikan. Suatu hari seorang pelanggan yang mabuk melempar sumpit cuma untuk dapat perhatian saya." sayangnya, Shi dan rekan-rekannya tak punya kemampuan untuk menebak orang yang masuk restoran, apakah doi punya perilaku yang baik atau sebaliknya.

Hiroshi*, 40 Tahun

"Banyak yang sok minta sumpit padahal mereka tak bisa memakainya. Jadi, mereka menusuk hidangan dengan sumpit sampai patah…kami sampai harus membawa serbet untuk mereka bahkan ketika mereka baru mulai makan."

Saya lantas bertanya pada Hiroshi kejadian paling aneh apa yang pernah dia lihat selama mengelola restoran. Dia lantas menjelaskan tipe pelanggan yang disebutnya sebagai "petualang." "kami punya makanan yang tak bisa kamu temukan di mana pun," jelas Hiroshi, "nattō, mia." Nattō dibuat dengan membiarkan kedelai terfermentasi sempai teksturnya lengket dan menusuk, cita rasa yang asing bagi orang Italia. "Natto masuk dalam menu all-you-can-eat. banyak ingin mencobanya. tentu kami dengan senang hati menyuguhkannya dan menonton mereka menyantap makanan satu ini," Hiroshi punya hobi tersendiri melihat apa yang terjadi ketika di satu meja ada yang memesan natto. "awalnya mereka mengendus pesanan mereka, merasakannya dan akhirnya memaksa diri menghabiskan natto, meski rasanya tak karuan bagi mereka."

Hiroshi juga doyan melihat orang Italia makan Sushi. "Sebenarnya tak ada yang salah dengan mengambil sushi roll menggunakan tangan," jelasnya. "Tapi banyak yang minta dibawakan sumpit padahal mereka tak bisa menggunakannya dengan benar. Walhasil, mereka menusuk sushi roll dengan sumpit dan sumpit pun patah. kami bahkan harus membawa serbet buat tangan mereka begitu mereka mulai makan." kalau kamu termasuk orang yang meninggalkan meja dengan taplak acak-acakan dan sisa nasi di atas piring saus kedelai, mungkin kamu belajar sesuatu. "kalian harusnya tak makan jahe dengan sushi," lanjut Hiroshi. "Jahe itu di makan di antara hidangan." sayangnya, banyak pelanggan tak tahu aturan ini. Akibatnya, Hiroshi kerap harus menangani pelanggan yang nekat menelan semua potongan jahe dan wasabi. Ujung-ujungnya bikin mereka terbatuk-batuk sendiri dan berlinang air mata.

Pelajaran yang bisa saya ambil: Bekerja di restoran boleh makan sepuasnya tak jauh berbeda dari bekerja di sebuah Pizzaria. ada sisa makanan setelah restoran tutup dan banyak juga hal yang bisa bikin kita mati-matian menyembunyikan Ini senada dengan apa yang dikatakan oleh manajer-manajer AYCE yang mengusir saya selama proses penulisan naskah ini: "saya bingung harus ngomong apa kalau kamu benar-benar mencari kisah-kisah yang aneh. pekerjaan saya normal-normal saja. jadi saya permisi dulu, saya harus kerja."

*Nama narasumber telah diganti demi menjaga kerahasiaan. Wawancara telah disunting agar lebih mudah dibaca.