Kehidupan Percintaan

Katanya Sih, Orang Narsis dan Psikopat Senang Tetap Berteman Dengan Mantan

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang masih berteman dengan mantan kekasih mereka adalah orang narsis dan psikopat. Kami ngobrol-ngobrol dengan seorang pakar untuk memahami mengapa mantan pacar kita masih suka nge-DM.
16.10.17
Foto dari BONNINSTUDIO via Stocksy

Bagi kalian yang pernah bertanya-tanya orang kayak apa yang masih mau temenan sama mantannya, sebuah penelitian terbaru berupaya mengungkapkan alasan orang-orang dengan "kepribadian gelap" (seperti narsisme, bermuka dua, dan bahkan psikopat) tetap merawat hubungan mereka bahkan setelah putus. Bagi banyak orang, berteman baik dengan mantan adalah hal mustahil. Bahkan Psychology Today mengimbau untuk tidak berteman dengan mantan karena: "Mereka kurang mendukung secara emosional, kurang membantu, kurang percaya, dan kurang peduli soal kebahagiaan kita."

Iklan

Dalam makalah berjudul 'Berkawan Dengan Mantan: Seks dan Kepribadian Gelap Memprediksikan Motivasi Berkawan dengan Mantan Sehabis Putus,' peneliti Oakland University Justin Mogilski dan Lisa Welling bertanya pada 860 subjek untuk menuliskan daftar motivasi atas keterlibatan mereka dengan kehidupan sang mantan. Menurut Daily Mail, para peneliti juga menyurvei subjek-subjek untuk menentukan siapa yang memiliki kepribadian gelap. "Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang-orang dengan skor tinggi dalam hal kepribadian gelap cenderung memilih teman-teman untuk alasan-alasan strategis, dan memilih hubungan asmara yang lebih singkat," lapor Daily Mail. Para peneliti ingin mengetahui motivasi mereka dalam berkawan dengan mantan kekasih.

Untuk menentukan hal ini, para subjek diminta untuk memberi nilai pada alasan mereka mempertahankan hubungan dengan mantan dengan menggunakan ukuran kadar kepentingan. Kepentingan yang paling utama, yaitu yang nilainya paling tinggu, diberikan oleh orang-orang yang merasa hubungan asmara mereka dengan si mantan dulu "dapat diandalkan, dapat dipercaya, dan memiliki nilai sentimentil." Namun para peneliti juga menemukan bahwa subjek-subjek yang memiliki kepribadian gelap dalam tingkatan tertentu cenderung mempertahankan hubungan dengan mantan atas alasan kepraktisan dan seksual.

Dalam sebuah wawancara dengan Broadly, pakar narsisme Dr. Tony Ferretti menjelaskan alasan orang-orang dengan kepribadian gelap, terutama orang-orang narsis, tetap ingin ndusel dengan bangkai hubungan asmara mereka. "Orang-orang narsis benci kalah atau gagal, jadi mereka akan melakukan segala cara untuk mempertahankan sejenis koneksi tertentu, kalau bukan mereka yang menyudahi hubungan itu," ujar Dr. Ferretti. "Mereka bisa mengalami luka narsisme saat ditolak oleh pasangan dan memiliki kesulitan move on atau sembuh dari penolakan tersebut."

Iklan

Hubungan romantis penting untuk kesehatan psikologis, papar Dr. Ferretti, dan ikatan-ikatan intim membawa banyak manfaat: "Orang-orang yang memiliki hubungan asmara yang akrab dan sehat cenderung aktif secara fisik, lebih terhubung secara sosial, bisa hidup lebih lama, dan lebih sehat secara fisik pula," ujarnya. Dia menambahkan bahwa orang-orang yang punya pacar cenderung peduli dengan kesehatan dan tidak merokok. "Orang-orang yang memiliki hubungan intim yang sehat, akrab dan mendalam, cenderung lebih bahagia," ujar Dr. Ferretti. Dengan segudang manfaat tersebut, tidak mengejutkan bahwa seseorang ingin mempertahankan hubungan mereka dengan mantan atau mencoba melakukan lagi hal-hal yang dulunya mereka bagi bersama.


Baca artikel lain Vice seputar kehidupan percintaan

Namun bagi orang-orang narsis, ada motivasi dan manfaat lain dari hubungan macam itu. Dr. Ferretti bilang, orang narsis merasa status sosial atau posisi mereka diamplifikasi karena pasangan mereka. Itulah sebabnya beberapa egomania memerlukan "trophy wife"; dalam pikiran orang narsis, trophy wife adalah penunjang kepercayaan diri dan martabat mereka. "Orang-orang narsis memiliki rasa bangga yang berlebih dan tidak bisa menerima mantannya jalan bareng sama orang lain."

Dr. Ferretti sepakat bahwa temuan-temuan dalam penelitian Mogilski dan Welling ini menyatakan bahwa tipe-tipe kepribadian gelap paling tertarik mengenai bagaimana hubungan tersebut dapat bermanfaat bagi mereka dan bahwa orang-orang ini "mungkin akan tetap berkawan dengan mantan mereka supaya dapat akses pada hal-hal berharga. Mereka juga memiliki informasi soal kerentanan dan kelemahan mantan-mantan mereka sehingga dapat dieksploitasi dan dimanipulasi, sehingga mereka merasa berkuasa dan memegang kendali," ujarnya.