Fantasy Football, Game Penghancur Kehidupanku Setiap Akhir Pekan
Fantasy Football

Fantasy Football, Game Penghancur Kehidupanku Setiap Akhir Pekan

Lo semua yang pada main pasti ngerti seramnya dampak game ini!
02 Juni 2017, 11:25am

Fotografer yang membantuku mengambil semua foto untu artikel ini, Chris, tak tahu apa itu Fantasy Football. Dalam sekejap, aku iri sekali padanya: Chris bagaikan malaikat. Jiwanya bersih tanpa noda barang setitikpun. Akhir minggunya pasti indah, tak dirusak oleh game berbasis poin yang dimainkan lelaki pada umumnya dalam diam. Sebuah game yang berada di atas pertandingan sepakbola di alam nyata, sebuah gamenya sejatinya judi bagi mereka yang engga berani bener-bener taruhan. Terus kenapa, tanya Chris, kami berada di Markas Besar Actual Premier League justru di hari terakhir musim kompetisi tahun ini, mengamati spreadsheet saling bertarung dalam sebuah game sepakbola buatan?

Pertanyaan yang bagus. Dan jawabannya: kami di sini untuk menarik garis pembeda antara apa yang dimaksud dengan Fantasy Football (sebuah cara untuk memamerkan superioritas prediksi sepakbola anda di depan teman) serta apa yang bukan, sembari menjelaskan titik tengah di antara keduaya. Semuanya bermula di sini: beberapa musim kompetisi ke belakang, kegemaran menonton sepakbola mulai direduksi menjadi data-data statistik yang dingin semata. Di masa lalu, atau tepatnya sebelum Football Fantasy merajalela, menjadi suporter berarti menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli pernak-pernik sepakbola, datang ke stadion untuk melihat kesebelasan kesayangan berlaga, rajin nobar di kafe saban akhir pekan atau mengaku sambil terisak pada Istri anda berapa uang belanja yang kamu tilep untuk memuaskan dahagamu akan akan sepakbola.

Sekarang, arti menjadi fan sepakbola telah berubah, kalau tidak bisa dibilang bermetamorfosa. Kita tak lagi menilai betapa kerennya seorang pemain bola dari seberapa sering dia memaksa kita berdiri memberikan salut ketika nobar, tapi dari sebanyak apa operan penting yang mereka buat, sebesar apa kemungkinan gol yang dia buat, seberapa banyak asssist yang dia berikan jika timnya punya striker jempolan. Mulai saat itu, penggemar sepakbola tak lagi rajin mencatat kafe mana yang menayangkan laga klub kesayanga mereka (dan punya menu yang ramah dengan dompet), mereka berubah menjadi mahasiswa statistik yang keranjingan sepakbola. Dalam kondisi seperti inilah Fantasy Football bisa tumbuh subur. Game ini jadi bukti empiris seorang maniak sepakbola menunjukkan bahwa dia punya pengatahuan yang lebih mumpuni tentang sepakbola dibanding kawanannya. Poin dalam game ini diberikan berdasarkan goal dan assist yang dibuat serta performa sebagai pemain terbaik dalam sebuah laga. Fantasy Football—dibandingkan dengan kompetisi sebenarnya—memiliki tabel liga superketat dan nama-nama tim yang kadang terlalu kurang ajar.

Fantasy Football adalah sebuah dunia tersendiri yang dihuni oleh 4,5 juta pemain—atau kita sebut saja manajer—tiap musim kompetisinya (jumlah itu dicapai di awal musim kompetisi. Menjelang akhir musim, angkanya menyusut sampai 2 juta orang saja). Inilah dunia yang penuh hiruk yang sayang luput dari perhatian anda atau dalam kasusku, orang macam Chris itu. Sebenarnya kalau mau lebih teliti, Fantasy Football mulai merembet dalam hidup orang-orang di sekitarmu. Riuhnya diam-diam terasa di kantor kalian. Sekarang kami berada di sini, Bung dan Nona, untuk menentukan apakah aku bisa membuat Harry Kane jadi kapten di hari terakhir kompetisi tahun ini atau tidak.

Dalam Fantasy Football, kita diperkenankan memilih 15 pemain yang berlaga di Premier League. Tapi ada satu syarat, dari satu klub, anda cuma bisa memilih tiga pemain. Setelah itu, kamu bisa memasang pemain-pemain pilihan kamu dalam formasi 5-3-2, 4-4-2 atau 3-5-2 untuk menghasil skor setinggi-tingginya dalam satu minggu kompetisi. Poin diperoleh oleh setiap formasi dihitung dari performa tiap pemain yang dipasang dalam kehidupan nyata. Saat memulai bermain game ini, anda akan diberi modal £100 juta untuk membentuk tim. Nilai tiap pemain yang kamu punya bakal naik turun seiring berjalannya musim—harga awal pemain di awal musim ditentukan oleh Football Fantasy. Singkatnya, Fantasy Football adalah game manejemen keuangan dengan sistem poin sederhana yang berdasarkan apa yang terjadi selama satu musim kompetisi Premier League.

Di sisi lain, Fantasy Football adalah candu yang kerap kali merepotkan bagi mereka yang melakoninya dengan super serius. Aku—sayangnya—adalah salah satu orang macam itu.

Sebenarnya, aturan permainnya sederhana sekali: poin diberikan untuk setiap gol, assist dan clean sheet. Poin akan dikurangi jika pemain menerima kartu kuning, kartu merah, klub kebobolan empat gol dan gagal mengeksekusi penalti. Kapten yang kamu pilih tiap minggunya bakal mendapat poin ganda dan tiap pekan kamu bakal dapat satu transfer gratis agar kamu bisa merotasi pemainmu (kalau beruntung, kamu juga bisa mendapatkan opsi wildcard tiap tahun untuk melakukan sebanyak mungkin transfer tanpa kena penalti). Lamanya seorang pemain beraksi di lapangan berpengaruh pada skor akhir timmu. Misalnya, jika 11 pemain yang kamu pilih tak satupun diturunkan dalam suatu minggu, maka empat orang pemain cadanganmu akan "mengantikan" mereka secara berurutan. Kamu tak usah ribet mengganti pemain, semua dilakukan oleh algoritma yang menjadi tulang punggung permainan ini. Namun, pergantian tersebut baru bakal terjadi setelah semua skor akhir dalam satu minggu keluar (inilah makanya kenapa poin baru masuk satu jam setelah sebuah pertandingan kelar. Fantasy Football butuh waktu untuk melakukan rekalkulasi. Lalu ada juga poin bonus seperti yang dijelaskan ole Mark Hughes, gamer runner Fantasy Football (bukan manajer Stock City sekarang itu loh).

"Pemberian poin berdasarkan statistik Opta," ujar Mark. "Tapi tak semua data statistik opta dipakai dalam game—yang jelas, data tentang gol dan assist jelas dipakai, tapi ada juga data tambahan tentang tackle dan interseps..ada banyak data-data di dalam Opta. Nah, poin bonus itu sebenarnya cuma dihitung berdasarkan data tambahan ini. Lalu, tiga pencetak skor dalam tertinggi akan dapat bonus point sebanyak tiga, dua dan satu. Tak ada campur tangan manusia dalam perhitungan ini. Semuanya sepenuhnya berdasarkan data statistik."

Nah, kalau begini kan enak. Meski sudah jadi candu bagiku dan kerap merusak akhir pekanku, Fantasy Football adalah sebuah game yang adil. Jadi, ketika kamu berbuat dosa kecil karena pernah mengejek temanmu lewat pesan whatsapp, facebook atau sms yang menyebalkan karena raihan klubnya jeblok minggu lalu, percayalah ejekanmu dilandasi sebuah data yang akurat.

Siapa sih Josh King? Josh King adalah pemain sepakbola berumur 25 tahun asal Norwegia yang pernah mencoba peruntungan di Manchster United. Selepas berkarir bersama Setan Merah, King berkelana ke beberapa klub dengan capaian yang tak bagus amat. King pernah jeblok bersama Preston. Prestasinya sedikit membaik saat berlabuh Borussia Mönchengladbach. Di klub selanjutnya Hull City, King mencatat 18 kali penampilan tanpa sekalipun meninggalkan kesan berarti. Bersama Blackburn Rovers catatannya lebih panjang, 56 pertandingan dengan tiga gol. Agak sulit juga untuk mengatakan bahwa kalau prestasinya mencuat di sini. Dua tahun lalu, King memutuskan pindah ke Bournemouth. Di bawah bendera The Cherries, King berhasil menjadi mesin gol tersubur dengan raihan 7 gol. Musim kompetisi tahun ini, King masih on fire. Sejenak Febuari tahun ini, King mengemas 12 gol untuk Bournemouth dari 14 pertemuan, termasuk catatan hat-trick saat bertemu West Ham. Dengan catatan sebagus ini, King bisa saja memperoleh—jika kamu termasuk fan sepakbola yang rajin mengonsumsi gosip sepakbola—tawaran untuk pindah klub ke Tottenham musim panas ini. Namun, yang paling penting adalah King kini jadi pemain yang dikejar semua manajer Fantasy Football karena untuk beberapa saat, King adalah seorang pemain differensial sempurna.

Baiklah, aku jelaskan dulu: differensial—pemain tak begitu terkenal yang terus dan bermain di klub semenjana—adalah mantra ajaib bagi semua manajer Fantasy Football. Dengan budget sebesar £100 juta, kamu harus bergantung pada pemain bertahan seharga £4 juta agar bisa memasang bertipe seperti David Luiz di lini belakangmu: Nathan Ake dari Bournemouth pernah jadi pilihan favorit untuk pemain di posisi ini sebelum Chelsa berhenti meminjamnya dan dia pun jadi jarang merumput. Manajer Fantasy Football juga kerap mendapatkan banyak point dari perubahan posisi pemain dari posisi standar mereka di Fantasy Football dalam kehidupan nyata untuk menghasilkan banyak gol (Etinne Capoue pernah sangat digemari setelah posisinya lebih maju dalam formasi klubnya; Chris Brunt di West Brom terdaftar sebagai pemain bertahan namun kini kerap bermain di lapangan tengah. Rekannya Gareth McAuley berhasil mencetak enam gol dalam Premier League tahun sembari tetap menjaga rekor clean sheetnya).

Detail-detail ini sebenarnya tak begitu terkait dengan keterbatasan anggaran belanja pemain. Namun, penting untuk membuat klub berbeda dari yang lain hingga kemungkinan bisa memperoleh poin jauh lebih banyak. Begini logikanya: setiap manajer klub pasti berusaha melengkapi skuadnya dengan pemain semacam Eden Hazard, jadi keputusan yang paling strategis adalah mencari pemain potensial di lini lain. Josh King pernah jadi pemain differensial. Profilnya pas: midfielder murah dan kurang terkenal dari Bournemouth yang terpaksa main lebih maju karena striker Bournemouth cedera. Tahun ini, dia mengemas 16 gol di Premier League. Dari sini anda tahu, rahasia berjaya di Fantasy Football adalah kemampuan menebak pemain mana dan tim mana yang bakal on-fire.

(Ryan Giggs sedang syuting pas kami datang. Kami tanya pendapatnya tentang Fantasy Football. "Pusing mainnya kalau menurut saya" begitu jawabnya).

Tahun ini segalanya berubah bagiku. Ini tahun kedelapanku main Fantasy Football. Aku bisa tahu aku sudah selama itu bermain karena tiap tahun pasti mengganti password akun. Setiap password-nya selalu kuakhiri ini dengan umur tahun itu. Tahun password saat ini diakhiri dengan angka 22. Selama delapan tahun bermain, aku mengalami tiga fase ini:

Pemain ikutan-ikutan. Ini adalah tipe orang yang ikut-ikutan main Fantasy Football di awal musim, ngotot main hingga beberapa kali sampai suatu saat lupa bangun jam 23.30 untuk menyusun pemain. Setelah itu, mereka tak lagi main Fantasy Football.

Pemain Angin-anginan. Kalau yang ini adalah sekelompok pemain Fantasy Football yang serius bermain sampai pekan ke 20 sebelum klubnya turun lima posisi. Setelah itu mereka akan berkilah bahwa mereka "enggak peduli-peduli amat dengan hasil liga. Lagian ini kan game goblok. Yang bilang ini game keren sebenarnya goblok, jadi.."

Profesor, ini kelas tertinggi dalam strata manajer Fantasy Football. Mereka rela menjadi pelanggan blog sepakbola tertentu dan memfollow akun twiiter, main menggunakan akun palsu untuk berkompetisi di banyak sub-liga. Para profesor ini bahkan mau memfollow akun twitter West Ham cuma untuk dapat berita tentang cedera pemain di striker ketiga klub itu. Jangan aneh kalo orang-orang macam ini jadi jarang pacaran.

Tahun ini, aku naik tingkat tingkat dari Pemain Angin-Anginan ke marwah tertinggi, Professor. Jangan dikira kenaikan tingkat ini terjadi dalam waktu singkat. Asal kalian tahu, aku harus menjalani tahun-tahun penuh ejekan. Meski termasuk domainnya manusia kurang keren, kalau musim kompetisi telah berakhir. Orang-orang kurang kerjaan ini bakal saling ejek. Aku sampai muak diejek oleh teman bernama Adam. Dari tahun ke tahun dia mengolokku mengirim sms bertuliskan "Ha!" atau "Ha ha!". Aku harus mengubah cara hidupku, begitu kesimpulan yang kuaambil waktu itu. Sejak saat itu aku mulai memfollow akun twitter bernama "The FPL General", menghabiskan jam makan siang hari Jumat memantau forum online r/fantasyPL. Aku juga jadi terbiasa menghabiskan banyak waktu untuk menganalisa hasil akhir pentandingan dan mereka-reka timku. Minggu pagi, aku bangun sedini mungkin supaya bisa punya banyak waktu menyusun timku di aplikasi ponsel pintarku. Mulanya Fantasy Football jadi pelengkap kenikmatantanku menonton bola—"Asik Alexis Sanchez ngegolin! Poin gue nambah!" – kini jadi cambuk yang bikin akhir pekan terasa begitu menyiksa.

"Biasanya sih, tiap minggu yang aku lakukan adalah sebagai berikut, aku membuka diri untuk menerima berbagai macam informasi sepakbola. Lalu jika tenggat normal jatuh pada, misalnya, Sabtu pagi, maka Jum'at malamnya aku habiskan untuk riset." kalimat ini keluar dari mulut Uwais Ahmed, yang berhasil menempati posisi pertama di pekan terakhir kompetisi. Uwais bertarung ketat dengan Ben Crabtree. Uwais berhasil meloncat dari posisi ketiga ke posisi puncak setelah dengan cemerlang menjadi Harry Kane sebagai kapten tim di pekan kompetisi ke 37 (raihan empat gol dan catatan bermain selama 48 menit membuat Kane mendapat skor 187). Uwais sangat percaya diri. Bersama asisten manajer yang juga masih saudaranya, Uwais masih menimbang-nimbang rencana transfernya sebelum kickoff terakhir. "Tahun ini aku enggak bilang aku main lebih serius." ujar Uwais menanggapi tekanan menjadi pemuncak klasemen. "Tapi lebih dari itu. Aku tak cuma mengandalkan insting. Konsumsi informasi sepakbola sebanyak kau perlu dan kau bisa."

Salah satu keputusan terbaik yang diambil Uwais tahun ini adalah memberikan kesempatan untuk Josh King sebelum manajer lain mulai ikut-ikutan. "Waktu itu dia baru bermain tiga atau empat pertandingan, dan kelihatannya dia lumayan ok," jelasnya. "Waktu itu dia sedang bertanding melawan West Ham dan memang teman-teman setimnya tidak terlalu spektakuler, jadi ya udah aku iseng aja transfer dia dan tiba-tiba dia mencetak hat-trick, melepaskan tiga tembakan on target dan tiga lagi off target—statistiknya luar biasa. Ini adalah tipe tindakan yang diambil ketika resiko masih tinggi. Kebanyakan orang menunggu hingga pemain incaran mereka bermain bagus, namun Uwais justru mengambil keputusan sebelum pemainnya meledak."

Nah, inilah kunci—dan satu-satunya—kenikmatan bermain fantasy football.

Di masa kini, pemain yang sedang ngetren adalah Philippe Coutinho. Liverpool sedang berusaha mendapatkan posisi keempat di liga dan hanya membutuhkan kemenangan melawan Middlesbrough yang sedang hancur-hancurnya untuk mendapatkan jatah kualifikasi Champions League. Di musim ini, Liverpool sangat mengandalkan trio penyerang mereka untuk mencetak gol, dan banyak manajer fantasy football yang haus poin memasukkan pemain Brasil berumur 24 tahun ini. Dia luar biasa bagus, mencetak dua gol dan satu assist di pertandingan terakhirnya. Fakta bahwa dia bermain dalam sebuah tim yang haus kemenangan juga membuat dia kandidat pencetak gol tertinggi minggu ini. Akibatnya, dia menjadi salah satu pemain pilihan nomor satu di Fantasy Football. Sayangnya, timku sudah tidak punya ruang untuk Coutinho.

"Pertahanan harus diperhatikan," kata Mark Southern. Dia adalah scout tetap FPL, seorang pria yang berhasil mengubah blog networking Fantasy Football menjadi pekerjaan nyata di markas besar Premier League, dan menjadi sesepuh nasihat bagi manajer Fantasy Football (Dia banyak mengunggah video di halaman Facebook resmi FF dan kurang lebih menyuruh semua manajer untuk menendang Hazard dan memasukkan Coutinho). "Keluarin Maguire, dia lagi cedera...uang masih banyak gak? Hmm. Ambil Matip dari Liverpool, dia susah dibobol dan bisa mencetak gol dari set piece." Dia juga memberikan nasihat soal lini tengah dan depan. "Ambil Yoshida dari Southampton dan pasang formasi 4-4-2." Setelah itu, dia mengembalikan ponselku. Beneran aja, di akhir minggu ini, nasihat selama 20 detik tersebut berjasa memberi 42 poin tambahan untuk tim FL-ku.

Tapi ingat, karena sekarang kita sudah di penghujung musim, dia tidak lagi bisa menawarkan nasihat yang relevan. Tapi saran Mark bagi mereka yang ingin menyiapkan tim untuk musim depan adalah dengan bersiap dari awal: nonton pertandingan pre-season, perhatikan penampilan pemain, bentuk penyerangan tim-tim di liga, kemudian pilih bek dan gelandang yang sesuai. Di situs Fantasy Football, sudah ada panduan untuk memilih tim musim depan, termasuk hitungan mundur 80 hari sebelum liga dimulai di bulan Agustus.

"Biasanya saya melihat jadwal pertandingan dulu dan mengira-ngira apa yang akan terjadi di tiga atau empat minggu pertama," jelas Mark. "Anda harus percaya bahwa anda punya pemain wildcard. Jangan terlalu jauh mikirin pemilihan pemain awal. Main aja dulu dua atau tiga minggu pertama."

Dia juga berkomentar bagaimana formasi kemenangan Chelsea 3-5-2 akan mempengaruhi gaya bermain tim lain, membuat bek yang bisa maju menyerang dan gelandang sayap sangat dicari-cari di musim depan. "Musim ini, bek sayap memegang peranan penting," katanya sambil menunjuk Marcus Alonso di layar. "Di paruh kedua musim, semua orang berusaha meniru gaya permainan Chelsea. Ini sepertinya akan berlanjut hingga musim depan. Banyak tim akan memainkan tiga bek, dan ini berarti akan ada bek-bek sayap murah dari tim-tim kecil yang akan bermain agresif menyerang. Coba lihat pertandingan-pertandingan friendly pre-season dan amati bagaimana tim memainkan formasi, dan cari bek sayap yang bermain seperti layaknya gelandang sayap. Marcus Alonso memang kasus yang berbeda, karena dia memiliki harga yang mahal—tapi masih banyak kok bek lainnya."

Ya kurang lebih begitulah inti dari Fantasy Football: mencari pemain sayap yang bisa mencetak gol dari tim-tim menengah atau semenjana.

Kami tengah sibuk makan siang ketika berita besar tiba: hanya beberapa menit sebelum tenggat FF ditutup, Josh King—pemain Norwegia kesayangan kita semua, gelandang hebat dengan harga bersahabat—mengumumkan via Instagram bahwa dia dilanda cedera dan tidak bisa bermain di hari itu. Kami pun kalang kabut. Mark yang mengepalai media sosial FF harus merangkum hasil Premier League—menonton sembilan pertandingan secara serentak, berteriak-teriak ketika ada yang mencetak gol, kemudian dengan kilat melakukan aggregasi informasi gol-assist menggunakan Opta dan mengirim informasi ini via Twitter ke siapapun yang tidak bisa menonton game. Proses ini memakan waktu tidak lebih dari 20 detik dan sangat mengagumkan melihat Mark melakukan tugasnya—dan melihat mana dari kedua tim papan atas yang akan terpengaruh. Kedua tim memiliki King di susunan pemain, tapi pimpinan klasemen Uwais memiliki lini tengah kuat dengan dua pemain Liverpool sementara posisi kedua, Ben hanya memiliki rekan King di Bournemouth, Junior Stanislas di bangku cadangan.

Aku dan staf humas, Stefan, yang dengan bodohnya terjungkal dari puncak klasemen FF kantor akibat -4 poin setelah merekrut Olivier Giroud. Awalnya panik tapi kemudian dengan tenang memutuskan untuk meninggalkan King di dalam formasi dan membiarkan mekanisme pergantian pemain otomatis mengisi poin tim kami. General FPL, seakan tahu bahwa banyak manajer akan panik akibat hasil itu, berkomentar di Twitter:

(Sadar gak bahwa ada semacam dunia di luar sana hampir seluruhnya berisikan laki-laki yang sangat khawatir Sergio Aguero akan cedera hamstring? Sudah sadar seperti apa rasanya memainkan FF? Ini bukan game! Ini gaya hidup gak karuan yang susah untuk ditinggalkan.)

Menonton sepuluh pertandingan sepakbola sekaligus itu pengalaman yang menyiksa, apalagi ketika tau nasib tim FF-mu sangat bergantung olehnya. Satu lagi fenomena lucu FF adalah hilangnya kesetiaanmu terhadap tim favorit. Kadang kamu kelewat senang ketika pemain lawan menciptakan assist, atau tidak kebobolan. Namun tetap saja beberapa manajer tetap memilki dendam kesumat terhadap pemain tertentu. Pernah ada musim ketika aku menolak memasukkan Robin Van Persie di tim, biarpun dia pencetak gol terbanyak di liga saat itu. Aku banyak mengandalkan pemain Tottenham musim ini. Ben Crabtree (posisi kedua, GW37) tidak pernah menggunakan satupun pemain Liverpool, dan tidak ikut-ikutan tren menggunakan Philippe Coutinho. Aku kagum dia bisa memanjat tinggi klasemen tanpa merekrut Sadio Mane dan Roberto Firmino.

"Saya gak mau pake pemain Liverpool," katanya. "Kalau anda melihat ranking saya dari tahun-tahun sebelumnya, penampilan terburuk hanyalah ketika Suarez berjaya [ketika Suarez memenangkan European Golden Boot setelah mencetak 31 gol]. Saya tidak sekalipun menggunakan Suarez dan tim saya memang menderita karenanya. Tapi saya tetap memegang teguh prinsip pribadi. Kami memiliki istilah khusus bagi mereka-mereka yang menolak menggunakan pemain Liverpool, 'kebijaksaan-bebas-pemain-sampah'. Anda harus memegang teguh moral pribadi."

Untungnya, prinsip teguh Ben membuahkan hasil: setelah peluit akhir dibunyikan, dan tim Ben (posisi kedua) dibandingkan dengan tim Uwais (puncak klasemen), sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Awalnya, nampak kesan bahwa Uwais menang akibat tendangan terakhir yang diambil di pertandingan terakhir musim: Pertandingan Chelsea yang masuk ke tahap over-time akibat John Terry banyak gaya minta sambutan tepuk tangan seiiring dia keluar dari lapangan di menit 26, akhirnya menjadi ajang keberhasilan The Blues meraih gelar juara setelah mencetak lima gol ke gawang Sunderland. Fabregas menghasilkan dua assist, dan mendorong poinnya naik menjadi delapan point.

Tapi kemudian muncul fakta baru: pemain pengganti Josh King di tim Ben, Junior Stanislas, yang dimainkan pelatih karena King cedera justru mencetak sebuah gol. Mengingat Uwais kehilangan poin setelah membawa masuk dua gelandang Liverpool, Lallana dan Coutinho di menit-menit terakhir, Ben justru lebih unggul secara keseluruhan. Ternyata cedera Josh King dan prinsip anti-Liverpool Ben justru membuatnya menjadi pemenang. Fantasy Football adalah 38 minggu penuh kesengsaraan dan kenikmatan yang dipengaruhi oleh keberuntungan, rasa benci dan sedikit keajaiban.

Follow penulis sekaligus gamer yang doyan curhat ini di akun @joelgolby