Tentara Filipina Kewalahan Menghadapi ISIS, Meski Dibantu Amerika Serikat
Foto kondisi di Kota Marawi oleh Associated Press.

FYI.

This story is over 5 years old.

ISIS

Tentara Filipina Kewalahan Menghadapi ISIS, Meski Dibantu Amerika Serikat

ISIS masih menguasai 20 persen wilayah Marawi. Sejauh ini 58 aparat keamanan, 26 penduduk sipil, dan 200 personel militer menjadi korban dalam pertempuran.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Tenggat waktu dipatok Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk mengalahkan militan berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) di kawasan selatan kota Marawi baru saja terlewati awal pekan ini tanpa kemajuan berarti. Perkembangan terkini memicu munculnya kekhawatiran kelompok teroris yang bercokol di Marawi lebih kuat dari yang diduga sebelumnya.

Iklan

Duterte memberikan tenggat waktu pada militer, yang sudah memperoleh dukungan dari penasehat militer asal Amerika Serikat, membersihkan kekuatan militan islamis dari Marawi pertengahan Juni. Jika prediksi Duterte tepat, seharusnya setelah tiga minggu pertempuran sengit yang memaksa 200.000 penduduk meninggalkan kota Marawi berakhir.

Juru bicara militer Filipina, Brigadir Jenderal Restituto Padilla, mengakui kemajuan yang dicapai oleh tentara Filipina mengatasi militan ternyata jauh lebih lama dari yang diharapkan. Sampai saat ini, diperkirakan 100 militan (yang berisi pejuang lokal Marawi dan jihadis asal luar negeri) masih berlindung di sebuah distrik pusat kota Marawi. Mereka masih sanggup melakukan perlawanan dan menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup. Padilla tak bisa memberikan perkiraan pasti kapan pertempuran—yang sudah melibatkan serangan bom oleh angkatan udara Filipina—bisa dimenangkan.

Ini bukan kali pertama Duterte kelewat percaya diri dalam menentukan tenggat pada pasukannya untuk merebut kembali Marawi. Awal Juni lalu, Duterte sesumbar cuma butuh tiga hari mengenyahkan kelompok militan dari kota di Pulau Mindanao itu. Dia mengabaikan perkiraan pihak militer yang memperkirakan pertempuran setidaknya akan berjalan mininal satu minggu lamanya.

ISIS Mengolok-olok Tentara Filipina

Seiring pertempuran di Marawi memasuki minggu keempat, petinggi militer Filipina harus mengakui kelompok militan Marawi ternyata menguasai wilayah yang lebih luas dari dugaan awal. Letnan Jenderal Carlito Galvez, dalam pernyataan kepada kantor berita Reuters, mengatakan kelompok militan saat ini menguasai 20 persen wilayah Marawi—dua kali lebih luas dari perkiraan militer Filipina minggu lalu.

Tak urung, kegagalan militer Filipina untuk merebut kembali Marawi ini jadi bahan olok-olok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh bagian propanda mereka, Amaq. Dalam pernyataannya, kelompok teroris itu mengejek militer Filipina "telah gagal total" dan mengklaim bahwa 200 personel militer Filipina tewas selama mereka menguasai dua pertiga bagian kota Marawi.

Iklan

Pemerintah Filipina lekas menyangkal klaim tersebut dan mengatakan bahwa sejauh ini 58 aparat keamanan, 26 penduduk sipil, dan 200 personel kelompok militer telah menjadi korban dalam pertempuran.

Pengakuan lambannya kemajuan yang dicapai dalam pertempuran melawan simpatisan ISIS muncul meski setelah ada konfirmasi bahwa Filipina menerima dukungan teknis dari angkatan bersenjata Negeri Paman Sam. Pentagon, yang rutin merotasi pasukan khususnya di kawasan selatan Filipina untuk latihan militer, menyatakan mereka menyediakan bantuan keamanan serta pelatihan intelejen, pengintaian, dan serta taktik tempur. Pesawat pengintai P-3 Orion milik AS dilaporkan beberapa kali terbang di atas langit Marawi. Pasukan AS sempat tertangkap kamera menerbangkan drone pengintai di atas kawaan Marawi.

Senin lalu, Duterte mengakui pertempuran di lapangan lebih pelik dari yang dia antisipasi sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, secara langsung memerintahkan penyerangan terhadap Kota Marawi.

Pertempuran Berkelanjutan

Krisis di Marawi meletus pada 23 Mei, ketika kelompok militan dari Klan Maute dan Abu Sayyaf yang berafiliasi ke ISIS mengobrak-abrik Marawi. Awalnya tentara Filipina menggeledah persembunyian Isnilon Hapilon, pemimpin kelompok Abu Sayyaf. Hapilon ditengarai telah ditunjuk sebagai Emir (setara gubernur) pasukan ISIS di Filipina langsung oleh al-Baghdadi.

Menanggapi kondisi ini, Duterte segera memberlakukan darurat militer di seluruh kawasan selatan Kepulauan Mindanao, tempat kota Marawi berada. Filipina adalah negara mayoritas Katolik, namua sepertiga wilayahnya di bagian selatan dihuni minoritas muslim. Selama beberada dekade, pemerintah Filipina rutin bertempur melawan beragam jenis pemberontakan yang bertujuan mendirikan negara Islam di selatan Filipina.

Rohan Gunaratna selaku Kepala Pusat Studi Singapore International Centre for Political Violence and Terrorism Research, saat dihubungi VICE News, menyatakan militan ISIS terobsesi menguasai Marawi. Para jihadis ingin memamerkan kemampuan mereka bisa mendirikan provinsi baru Daulah Islamiyah di luar Timur Tengah, setelah sebelumnya sukses "membuka cabang" di Libya, Somalia, dan Nigeria.

Ratusan jihadis asing dari kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah diketahui ikut bertempur di Marawi, menyusul imbauan propaganda ISIS yang meminta simpatisannya pergi ke Filipina selatan dan mengorbankan jihad di sana, jika tak mampu bepergian ke Suriah atau Irak. Ganasnya pertempuran di Marawi menimbulkan kekhawatiran bahwa lanskap keamanan di Filipina Selatan telah berubah. Ada kemungkinan wilayah Asia Tenggara segera berubah menjadi medan perang baru ekstremisme, seiring terpojoknya "kekhalifahan" ISIS di Timur Tengah akibat tekanan dari Koalisi Militer Barat.