Album Solo Adrian Yunan Membuktikan Dirinya Penyintas Sejati
Foto Adrian Yunan oleh Dimas Ario.
Musik

Album Solo Adrian Yunan Membuktikan Dirinya Penyintas Sejati

Bassis Efek Rumah Kaca itu bertahan melawan virus yang menghilangkan penglihatannya bertahun-tahun lalu. Dia kini melawan balik, merilis album perdananya yang berisi folk pop penuh kejujuran.
16.6.17

Semua mata memandang ke sosok pria bertopi pet yang duduk di kursi bersahaja, tepat di tengah kafe Paviliun 28 yang tak terlalu luas, Bilangan Petogogan, Jakarta Selatan. Tak ada panggung. Si lelaki hanya ditemani gitar dan mikrofon. Dialah Adrian Yunan Faisal. Dia sedang membawakan lagunya 'Alzheimer'. Suasana khidmat. Belasan penonton tunanetra duduk di sisi kanan. Ketika nada terakhir selesai ditampilkan, ada tepuk tangan dan rasa hangat di dada saya, dan sepertinya juga dirasakan pula puluhan orang lain yang hadir malam itu.

Iklan

Penampilan Adrian Yunan 4 Juni lalu, adalah momen perilisan album solo perdananya berjudul Sintas. Perayaan yang terbilang sederhana. Adrian, selama ini lebih dikenal sebagai bassis salah satu band indie rock terbesar Indonesia, Efek Rumah Kaca. Dia tak selalu sendirian saat membawakan beberapa lagu dari Sintas secara live. Di beberapa lagu lain, dia ditemani wajah-wajah yang sudah tidak asing di dunia musik independen Jakarta: Poppy Airil, Muhammad Asranus, dan Natasha Abigail.

Acara syukuran album Adrian ini didahului acara nonton film bareng bersama teman-teman tunanetra, rekan-rekan memahami betul pengalaman pribadi Adrian. Sejak 2010, kondisi fisik Adrian menurun. Dia kehilangan indera penglihatannya. Semenjak itu, Adrian mengaku semakin dekat dengan dunia difabel dan kerap bertemu mereka-mereka yang memiliki teman atau keluarga dengan disabilitas dan saling bertukar cerita.

Pemilihan nama Sintas sebagai judul bisa dibilang sempurna menggambarkan cerita hidup Adrian. Menyebut dia harus melalui bermacam tantangan selama proses pembuatan album ini rasanya kurang memadai. Tidak hanya dibatasi oleh kondisi fisik yang buruk dan kebutaan, Adrian harus melawan kondisi mental yang terpuruk akibat situasi yang menimpanya justru di saat karir musiknya bersama Efek Rumah Kaca sedang berada di puncak.

"Di tahun 2005, gue didiagnosa dokter dengan retinitis pigmentosa, semacam kelainan pada retina yang sifatnya keturunan," ujar Adrian. "Waktu itu gue gak percaya, karena gue survei ke keluarga dan gak ada yang pernah ngidap."

Iklan

Sejak itu Adrian harus menghadapi kondisi fisiknya yang naik turun sambil terus menjalani petualangannya bersama ERK. "Gue gampang capek, sakit, pusing, daya tahan tubuh lemah," ujarnya. "Kalau lagi ngumpul, ada satu yang pilek, gue kena pasti."

"Gue sempet ngerasa 'wah udah deket ini' [ajal]. Gue cuman nunggu aja."

Jalan Adrian bersama ERK menemui puncak terjalnya 2010, saat mereka justru sedang berada di puncak popularitas. Album kedua ERK, Kamar Gelap, memperoleh berbagai penghargaan dari MTV dan Rolling Stone Indonesia. Di tahun yang sama, mereka mendirikan label rekaman, Jangan Marah Records, guna menampung band-band kreatif yang tidak mendapat lirikan major label. Sayangnya di tahun ini jugalah, Adrian kehilangan seluruh penglihatannya.

"Pas ERK main di Singapura, gue sekalian general check-up di sana," ungkapnya. "Katanya gue kena virus toksoplasma tingkat tinggi. Dan kalau ngitung waktu timelinenya, kayaknya memang ini penjelasan yang sesuai."

Yonita Ismiyati, istri Adrian sedih, bingung, sekaligus mengkhawatirkan masa depan kehidupan mereka. "Kita waktu itu baru married tiga tahun, lagi happy-happynya dan semangat-semangatnya," kata Yonita. "Dia kerja sambil ngeband, gue juga kerja, sama-sama aktif lah. Terus tiba-tiba dia gak bisa bangun, gak bisa lihat. Gue stres dan panik. Waduh gimana nih?"

Dalam titik nadir, Adrian sempat kehilangan harapan. Dia tidak bangun dari tempat tidur selama beberapa bulan akibat kondisi fisik yang terus menurun. Lambat laun, keadaan mental dan batinnya terpengaruh. Ajal terasa begitu dekat. "Setelah beberapa lama, mental gue ngedrop juga," katanya lirih. "Gue sempet ngerasa 'wah udah deket ini' [ajal]. Gue jadi statis, gak bisa berpikir tentang yang lain. Gue cuman nunggu aja."

Iklan

Yonita mengaku harus meninggalkan pekerjaannya pada 2010 karena kondisi Adrian yang parah. "Dia kalo ke kamar mandi, harus gue bopong. Kaya lumpuh gitu." Ketika akhirnya kembali bekerja pun, Yonita sempat menyewa anak tetangga untuk membacakan buku, serta berita dari internet ke Adrian yang kerap kesepian di kontrakan.

Kondisi Adrian turut mempengaruhi kemampuannya bermusik. Dia mengaku kesulitan menciptakan lagu karena kondisi mentalnya yang terpuruk. "Waktu itu gue desperate. Wah, kira-kira gue bakal lewat masa ini gak ya?" katanya, sebelum menambahkan bahwa mencari titik terang dalam kondisinya saat itu membutuhkan usaha luar biasa. "Jujur, gue perlu proses untuk bisa dapet cara melalui semua ini agar gue bisa positif mikirnya. Ketika kondisi hidup elo berubah drastis, adanya negatif mulu."

Setelah titik terendah datang, Adrian memutuskan terus bertahan. Berkat dukungan dari keluarga dan teman-teman. Biarpun lambat, suasana hatinya pelan-pelan membaik. "Yang gue rasain, ternyata yang bikin kita kuat itu kalau keluarga terdekat support. Salah satunya istri gue."

Yonita turun tangan mendukung Adrian agar terus mampu berkarya. Sang istri membantu Adrian merekam potongan-potongan riff atau melodi yang muncul dalam kepala suaminya ke dalam komputer. "Gue belajar pake software musik Innuendo dari nol, diajarin sama temen-temen yang kerja di studio," kata Yonita. Seiring waktu, Yonita semakin terlibat dalam proses penciptaan lagu. Adrian mulai meminta pendapat sang istri sebagai kuping kedua, entah mencari sound keyboard yang pas, ataupun isian-isian yang sesuai.

Iklan

Adrian mengaku pengalaman mendengarkan dan menciptakan musik berubah jauh setelah kehilangan penglihatan. "Dulu gue sengaja nyetel musik dalam keadaan gelap, tanpa lampu, biar lebih nikmat," urainya. "Nah, kalo sekarang…"

"Mati lampu terus?" potong saya.

"Mati lampu terus," katanya sambil tertawa lepas.

Ketika Adrian harus beradaptasi dengan kondisinya, ternyata keterbatasannya justru mendorong proses kreativitas menjadi lebih mengalir. "Sekarang, gue pake rasa dan imajinasi visual tercipta sendiri." Kehilangan satu indera juga memperkuat indera Adrian lainnya, terutama pendengaran. "Misalnya gue dengerin musik yang ada beberapa overdubnya, gue bisa fokus ngedengerin layer yang paling kecil-kecil di belakang juga," kata pria yang kini menginjak usia 41 itu.

Kemampuan ini dibawa Adrian dalam penulisan album ketiga ERK, Sinestesia yang kaya warna dan penuh upaya eksplorasi sound. Selanjutnya, pengalaman Adrian selama satu dekade lebih menderita sakit memberinya inspirasi. "Ketika gue mulai ngerjain musik pake rasa, gue gak anggep ini sebagai selingan dari beban hidup," ujarnya sebelum menambahkan, "Ketika ERK mulai bikin lagu lagi dan aransemen segala macem, ada rasa yang beda. Gue jadi lebih mood, lebih pake rasa, pake cinta main musik."

Di salah satu lagu pertama yang dia tulis untuk Sintas, 'Mikrofon', dia bernyanyi "Waktu sehat sakitnya kawan / Kunikmati khusyuknya kawan / Di depan mikrofon." Lirik ini menceritakan bagaimana bermusik membantunya melewati masa-masa berat ketika dia merasa tak ada lagi harapan. "Ketika berkarya, pikiran dan imajinasi gue hidup dan ini jadi bahan bakar gue," tegasnya.

Mobilisasi Adrian yang terbatas praktis membuatnya banyak berkarya di rumah, tempat yang dulu dia anggap semata-mata untuk beristirahat, bukan untuk menjadi produktif. "Setelah sakit, gue jadi lebih peka sama rumah," ujarnya, "Ternyata rumah sumber inspirasinya banyaklah." Dalam album Sintas juga terpampang gambar situasi rumah yang menurut Adrian, adalah penggambaran bahwa semua ide-ide lagunya datang dan diciptakan di dalam tempat tinggalnya sendiri.

"Tadinya gue mikir mungkin gak dikasih anak sama Tuhan karena kondisi gue kayak gini. Ternyata pas ada Rindu, energi positif sangat berasa."

Penasaran dengan sumber kreativitas Adrian, saya menyambangi rumahnya di daerah Pamulang Barat, Tangerang. Saya ingin melihat lingkungan seperti apa yang berhasil mendorongnya tetap berkarya. Rumahnya cukup sederhana, tidak ada yang unik atau menonjol. Tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang tengah, dan sepanjang wawancara dengan Adrian dan istri, mata saya kerap tertuju ke sosok gadis kecil yang energetik, berlari kesana kemari, meloncat, tidur-tiduran, sesekali bergelendotan di Adrian yang sedang duduk di matras.

Ketika saya menanyakan Yonita, apa faktor terpenting dalam rumah mereka yang bertanggung jawab atas kebangkitan Adrian, dia tersenyum sambil melirik ke arah si gadis kecil. Sosok itu bernama Rindu, putri pertama mereka yang baru 3 tahun.

Iklan

Adrian mengamini jawaban sang istri. "Tadinya gue gampang melempem, tapi pas ada Rindu, gue kayak gak ada capeknya," kata Adrian sumringah. "Tadinya gue mikir mungkin gak dikasih anak sama Tuhan karena kondisi gue kayak gini, tapi ternyata pas ada Rindu, energi positif sangat berasa."

Harapan menjadi semacam tema yang menyelimuti musik folk-pop sendu Adrian di album perdana ini. Lewat lagu 'Mimpi Seperti Hidup,' Adrian seolah menyerukan pesan bagi dirinya sendiri dan orang lain , "Mencoba membuka mata yang tertutup / Bergerak dan rasakan jantung berdegub / Maka mimpikanlah hidup." Tentu bukan berarti lantas batin Adrian damai bebas dari kekhawatiran. Dia mengaku cemas memikirkan sejauh apa dia bisa berkontribusi sebagai ayah ketika Rindu mulai beranjak besar nanti. Dia ingin bisa mengantar jemput putrinya ke sekolah kelak, tugas yang mungkin sulit dilakukan akibat keterbatasan fisiknya. "Apa gue bisa maksimal buat ngasih yang terbaik? Apakah gue bisa cari nafkah yang baik demi pendidikan dan kualitas hidup Rindu?"

Semua pertanyaan itu membimbing Adrian pada satu kesimpulan. Seniman yang baik adalah seniman yang resah.

"Kenapa harus resah dulu?" tanya saya.

"Kalo resah, baru ngalir. Kalo konteksnya karya yang jujur, ya harus resah," balasnya.

Jujur mungkin kata yang lumayan pas untuk menggambarkan Sintas. Lewat album perdananya, Adrian Yunan berhasil merangkum musikalitas dan esensi kehidupannya selama 7 tahun terakhir seiring dia berjuang melewati cobaan berat sebagai musisi, suami, sekaligus seorang ayah. Sintas menjadi bukti bahwa Adrian benar-benar seorang penyintas.

Untuk informasi seputar distribusi 'Sintas', kunjungi akun Instagram Adrian Yunan.