Plastik Menjajah Bumi

Bumi Kebanjiran Sampah Plastik Sebanyak 8,3 Miliar Ton (dan Makin Tercekik)

Untuk pertama kalinya, ilmuwan mengukur berapa banyak plastik yang dihasilkan umat manusia. Hasilnya mengkhawatirkan.
21.7.17
Pengunjung melewati tumpukan sampah yang dikumpulkan dari Kota Bangkok. Foto oleh: EPA/Narong Sangnak

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Kalau dipikir-pikir, plastik sejatinya salah satu temuan paling penting dari Abad ke-20. Kelenturan plastik, ongkos pembuatannya rendah dan ketahanannya adalah tiga keunggulan plastik yang menjadikan plastik material yang paling banyak digunakan umat manusia. Saat ini, mayoritas penduduk Bumi bahkan kesusahan membayangkan dunia sebelum plastik diproduksi besar-besaran pada tahun 1950-an.

Iklan

Masalahnya, sekarang kita mulai membayar ongkos sesungguhnya dari penemuan plastik—laut kita kini dicemari mikropartikel susah hancur yang membahayakan beragam kehidupan di laut dan aliran air di Bumi. parahnya, kita sampai saat ini masih belum menemukan cara tetap untuk membuat sampah-sampah plastik ini.

Lewat sebuah penelitian yang dipublikasikan pekan ini di Science Advances, kini kita tahu sebanyak apa plastik yang pernah dibuat umat manusia dan di mana plastik sebanyak itu parkir. Ini adalah penelitian pertama yang menyajikan analisis terhadap semua plastik yang pernah kita buat. Yang mengejutkan (atau malah sebaliknya), uraian hasil penelitian ini bikin bulu kuduk merinding.

Sampai tahun 2015, manusia telah memproduksi 8,3 miliar ton plastik. Dari jumlah sebanyak itu, 6,3 miliar plastik berakhir sebagai sampah. Di tahun yang sama, Bumi kita dihuni oleh lebih dari 7 miliar orang. Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan, tiap satu kepala manusia bertanggung jawab atas satu ton sampah plastik. Masalahnya, kebanyakan sampah plastik tak bisa lapuk dan bisa bertahan sampai ratuan tahun.

Para penggagas penelitian itu, yang berasal dari University of Georgia dan University of California, Santa Barbara (UCSB), serta organisasi nirlaba Sea Education Association, mengajukan angka yang mencengangkan itu setelah mengamati data dari industri plastik. Betapa data sangat mudah ditemukan. "Ini mirip seperti bermain puzzle jigsaw besar. Satu-satunya tantangan adalah kamu harus menemukan kepingan pertama yang harus dipasang," ujar ketua penelitian tersebut Roland Geyer, seorang associate professor di Bren School of Environmental Science & Management di UCSB.

Hanya 9 persen, dari 6,3 miliar plastik yang berhasil didaur ulang.

Lantaran kebanyakan sampah plastik berupa kemasan plastik sekali pakai, mulai dari plastik bungkus CD hingga kresek belanjaan warung, bisa dibilang kita terbiasa membuat sampah plastik begitu saja. Tapi, bukankah kita selalu bisa mendaur ulang plastik?

Geyer dan anggota timnya mengungkap fakta buruk: hanya sembilan persen dari 6,3 miliar ton sampah plastik yang berhasil didaur ulang. Seperti yang sebelumnya ditulis oleh Motherboard, proses daur ulang sampah plastik memang menghadapi beberapa hambatan. singkatnya, proses daur ulang sampah plastik memang bukan perkara enteng. Sementara, di lain pihak, masing-masing dari kita belum getol dan disiplin melakukan daur ulang sampah plastik di sekitar kita.

Iklan

Belum lagi, plastik dibuat dari minyak tanah. Dampaknya, plastik baru selalu mudah diakses dan murah. Inilah yang menyebabkan proses daur ulang plastik kurang ekonomis. "Jika stok plastik baru bisa dengan murah didapatkan, dan ini terjadi dalam waktu yang lama, maka plastik hasil daur ulang akan kewalahan bersaing dengan plastik-plastik yang baru diproduksi," jelas Geyer.

Tentunya, plastik-plastik yang tak berhasil didaur ulang bakal berlabuh di suatu tempat. Menurut temuan Geyer dan timnya, sampai saat ini, kita berhasil menghancurkan 12 persen sampah palstik. Berarti, 79 persen dari total 8,3 miliar ton sampah plastik ini akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Atau, lebih parah lagi, mencemari lingkungan. Namun, karena makin sempitnya TPA dan buruknya manajemen limbah, ekosistem laut dan daratan mulai tercemari partikel plastik mikroskopis. Saking banyaknya partikel plastik yang mencemari daratan dan lautan di Bumi, beberapa pakar mulai menganggapnya sebagai indikasi awal dari zaman Anthropocene, era geologis manusia.

Penelitian ini juga menghitung produksi plastik berbahan dasar alami dan bisa diuraikan secara biologis. Namun, sayangnya, jumlah produksi plastik ramah lingkungan ini hanya mencapai 8 ton saja. Hasil pengamatan itu tak disajikan dalam laporan akhir penelitian yang dilakukan Geyer dkk.

Parahnya, tren penggunaan plastik tak akan berubah dalam waktu dekat. Buktinya, para peneliti menemukan bahwa sebagian sampah plastik yang sekarang ada sudah berumur 13 tahun. Di saat yang sama, volume produksi plastik terus meningkat.

"Kita butuh pendekatan yang lebih berani dan menyeluruh. Meningkatkan tingkat daur ulang sampah plastik beberapa persen saja tak akan cukup." ujar Geyer. "Harapan saya, hasil penelitian ini menegaskan kembali urgensi perdebatan tentang bagaimana kita menggunakan plastik di masa datang."