Kepunahan Massal

Akibat Erupsi Beracun, Kehidupan di Bumi Pernah Musnah 252 Juta Tahun Silam

Ah elah, Thanos enggak ada apa-apanya dibanding sistem alami Planet Bumi sekali "batuk."
28.8.18
Kawasan Siberian Traps di masa sekarang. Foto dari: jxandreani

Sekira 252 juta tahun lalu, kehidupan di Bumi diguncang insiden kemusnahan Era Permian-Triassic. Peristiwa tersebut tercatat sebagai peristiwa kemusnahan paling akbar dalam sejarah planet ini. Hanya dalam rentang waktu 60.000 tahun saja, sekitar 90 persen spesies hewan laut dan 70 persen spesies darat punah selama-lamanya. Thanos, tokoh antagonis dalam kisah Avengers saja sepertinya tak sesadis itu. Tak heran, peristiwa zaman triassic ini punya julukan gahar: The Great Dying.

Para ilmuwan sejak lama berusaha mengungkap alasan kenapa The Great Dying jauh lebih mematikan ketimbang insiden kemusnahan lainnya sepanjang sejarah Bumi. Misteri ilmuwan tersebut sekarang sukses ditelaah melalui sudut pandang baru berkat riset yang dipimpin Michael Broadley, mahasiswa doktoral Centre for Petrographic and Geochemical Research di Vandœuvre-lès-Nancy, Prancis. Hasil penelitian tersebut dimuat Jurnal Nature Geoscience pada Senin (27/8).

Kegiatan vulkanik tanpa henti yang membentuk Siberian Traps, sebuah kawasan batuan basalt merentang selebar 7 juta kilometer persegi di Rusia Utara, sebelumnya diyakini sebagai pemicu utama The Great Dying. Namun, tim yang dipimpin Broadley menyediakan bantahan terhadap dugaan ini dengan memberi perkiraan mendetail pertama tentang kandungan halogen di litosfer—kerak bumi terluar—sebelum dan sesudah insiden kemusnahan akbar.

Sampel kondisi litosfer dari masa itu. Arsip foto oleh: Michael W. Broadley.

Halogen adalah elemen kimia yang terdiri dari florin, chlorin, brom, yododium, dan astatatine. Secara alamiah, sebagian halogen memang beracun. Ada juga yang berubah menjadi mematikan jika digabungkan dengan molekul lainnya. Broadley dan timnya mengkaji dua sampel yang diekstrak dari Siberian Traps, yang masing-masing berasal dari 100 juta tahun sebelum dan 100 juta tahun sesudah The Great Dying.

Sampel-sampel tersebut mengindikasikan kawasan pegunungan purba Siberian Traps kaya halogen sebelum Insiden Kepunahan Permian-Triassic. Sebaliknya, setelah The Great Dying kandungan halogen bumi melorot jauh.

Iklan

Dengan kata lain, insiden The Great Dying sangat mematikan lantaran erupsi vulkanik yang membumbung dari Siberian Traps kaya kandungan halogen. Selain memicu perubahan iklim, senyawa dalam asap tersebut menipiskan lapisan ozon. Efek brutal pun terjadi, kehidupan di Bumi kala itu untuk pertama kalinya langsung terpapar radiasi sinar matahari dan berbagai benda kosmik yang berbahaya.

"Erupsi halogen yang membumbung ke stratosfer menjadi katalis reaksi yang merusak lapisan ozon, memicu peningkatan paparan radiasi UV yang berbahaya di permukaan bumi," tulis tim Broadley dalam bab kesimpulan penelitian tersebut. Terbukanya ozon lantas memulai reaksi berantai "yang menurut dugaan kami membebaskan halogen dalam jumlah besar dan senyawa berbahaya lainnya dalam jumlah besar ke atmosfer Bumi, dan berperan besar dalam kemusnahan besar di akhir Era Permian."

Erupsi halogen adalah salah satu faktor yang menjelaskan mengapa fase The Great Dying menyebabkan begitu banyak korban. Kendati demikian, temuan ini jelas salah satu bagian teka-teka ini yang sangat penting. Saat kita sedang berusaha mati-matian memitigasi dampak global kegiatan industri manusia masa kini yang menyumbang pemanasan global, tak ada salahnya mengingat kalau Bumi bisa lebih kejam dari Thanos pada mahluk hidup yang mendiaminya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard